
...Para Pembaca dan teman-teman Author sekalian...
...jangan lupa Like, komen, Rate dan vote ya......
...Agar Author Kentang ini bahagia...
...Apalagi komen yang sesuai isinya, sungguh bahagia banget hati ini😁...
...Mau Promo silahkan tapi jangan spam ya say...
dan sabar, aku pasti mampir cuma telat-telat dikit maklum Authornya ini punya baby yang lagi aktif-aktifnya.
Cerita ini hanya karangan dari pemikiran Author belaka, tidak bermaksud menyinggung siapapun termasuk kehidupan asli tokoh visualnya. Jadi mohonlah bijak dalam memahami isi cerita.
...Terima kasih❤❤❤...
...🌸🌼🌸...
Sore itu Jhon memilih pulang lebih cepat dari waktu normal ia pulang kerja.
Pria itu membawa sebuket mawar putih yang sangat indah, seakan ia akan bertemu dengan seseorang yang sangat spesial di hidupnya.
"Hai Emily, apa kabarmu sayang?"
Ucap Jhon bersimpuh di hadapan sebuah pusara yang bertuliskan nama Emily Hellena Larry.
"Aku membawakan bunga kesukaanmu, aku sangat merindukanmu sayang! aku harap kau selalu bahagia di sana."
Jhon meletakan bunga yang ia bawa tepat di pusara mendiang istrinya.
"Sayang aku ingin bercerita kepadamu, kau tau kan gadis yang waktu itu aku ceritakan. Seorang gadis yang berhasil membuat putri kecil kita memanggilnya dengan sebutan 'Mommy', sekarang ia tiba-tiba muncul kembali dan menjadi sekretaris pribadiku.
Aku harus apa sayang? aku bahkan tidak tau harus bersikap seperti apa kepadanya."
Ucap Jhon lirih, ia membelai lembut batu Nisan milik mendiang istrinya.
"Aku takut akan mengkhianati cinta kita, aku sungguh takut, maafkan aku sayang. Terlebih aku tau dia menyukaiku."
"Tapi kau jangan khawatir, sekuat mungkin aku akan tetap mempertahankan cinta kita! hanya kaulah wanita yang aku cintai seumur hidupku."
...****************...
Sementara itu Indah tampak termenung di sebuah coffee shop yang terdapat di sebrang gedung perusahaan milik keluarga Larry, sesekali ia menghembuskan Nafasnya dengan kasar. Segala pikiran berkecamuk di dalam dirinya.
"Sepertinya memang akan sangat sulit, semangat Indah semangat!" Ucap Indah mencoba menyemangati dirinya sendiri.
"Dorr!!! bengong!" Pekik Dilla yang mengagetkan Indah, gadis itu tiba-tiba muncul bersama Marrie.
"Bagaimana kerjamu hari pertama bareng ayang beb?" Tanya Dilla menggoda Indah.
"Yah begitulah, gue di kerjain sampe kaki gw lecet!"
Keluh Indah seraya menunjukkan kakinya yang telah terbalut plester dengan rapih.
"Sabar ya ka, ka Jhon memang sulit di hadapi tapi aku yakin kakak bisa meluluhkannya!"
Marrie memeluk Indah, ia terus meyakinkan gadis itu bawa kelak perjuangannya tidak akan sia-sia.
...****************...
Di Apartemen milik Max, pria itu terlihat sedang asik menghabiskan waktu dengan menonton sebuah film bersama sang istri.
Tangannya terus membelai lembut rambut sang istri yang berbaring di pangkuannya.
"Besok aku mau shoting video klip, apa kau mau ikut?" Tanya Max yang kemudian mengecup tangan sang istri.
"Mau, kamu ajak aku kemanapun aku mau." Ucap Mikha tersenyum simpul.
Ting ...Tong...
Tiba-tiba bell berbunyi, Max segera beranjak dan membukakan pintu.
"Pizza Time!!!". Ucap seseorang di hadapan Max dengan membawa 4 kotak Pizza berukuran besar.
Ucap Max yang membawa kedua Sahabatnya menuju ruang keluarga di unit Apartemen miliknya.
"Sayang, ada Jerry dan Ryan bawa Pizza nih! tolong ambilkan cola ya." Ucap Max membelai pucuk kepala Mikha.
Mikha segera menuju dapur mengambilkan beberapa kaleng softdrink yang berada di kulkasnya, dan kemudian ia suguhkan kepada Max dan kedua Sahabatnya.
"Sini aja Kha, gabung! kaya sama siapa aja!" Titah Jerry saat melihat Mikha hendak meninggalkan mereka.
Mikha kemudian melihat suaminya seakan meminta izin, dan di jawab dengan sebuah senyum dan anggukan oleh suaminya.
Pipp...Pipp..
Lagi-lagi suara akses pintu terbuka tanpa izin empunya, dan muncullah 3 sosok wanita dengan wajah tanpa dosa. Siapa lagi kalau bukan Marrie, Dia dan Indah.
Ketiga wanita itu langsung masuk dan menghampirinya Mikha dan Max tanpa melihat ada keberadaan orang lain di tempat itu.
"Wihh mantep nih, tau aja orang pulang kerja Laper!"
Pekik Dilla tanpa malu-malu dan langsung melahap Pizza yang berada di hadapannya, tanpa melihat ke seorang pria yang tersenyum lebar dan terus menatapnya.
"Honey, kamu disini? kok gak bilang-bilang aku, aku telepon gak pernah kau angkat, aku chat cuma di read."
Ucap Jerry yang terus menatap Dilla hingga membuat gadis itu tersedak karena baru menyadari kehadiran pria itu.
"uhuk..uhuk...dih kok lu di sini! uhuk...uhuk..."
Ucap Dilla terbatuk-batuk, hingga Mikha memberikan segelas air mineral kepada sahabatnya itu.
"Hei ka Jerry, kalau kau suka sama ka Dilla, kau putuskan dulu semua pacar-pacarmu! sekarang ia jadi asisten ku loh, dan tinggal di apartemenku."
Pekik Marrie menggoda Dilla dan Jerry, yang membuat Dilla semakin membulatkan kedua matanya dengan pipi yang menggembung, karena penuh oleh Pizza di mulutnya.
...****************...
Max, Ryan, dan Jerry sedang asik bermain game, sedangkan Marrie dan Indah sedang membahas sesuatu tentang Jhon.
"Dil ikut gue!" Bisik Mikha mengajak Dilla mengikutinya.
Dilla hanya mengangguk dan langsung mengikuti Mikha, Mikha berjalan ke arah dapur bersama Dilla yang mengekor padanya.
"Kenapa Kha?" Tanya Dilla yang penasaran dengan sikap Mikha.
Mikha terpejam sejenak dan mengambil nafas dalam-dalam sebelum menghembuskannya perlahan.
"Gue mau minta tolong banget sama lu." Ucap Mikha berat.
"Minta tolong apa?" Tanya Dilla yang semakin penasaran.
"Gue tau lu gak suka sama kelakuan Jerry, tapi gue mohon banget lu coba dekatin dia."
Mendengar ucapan Mikha, mata Dilla kembali membulat. Ia sama sekali tidak mengerti apa mau sahabatnya itu.
"Apa? Lu mau jodohin gue sama playboy kadal itu!"
"B-bukan begitu Dil, jadi gue merasa ada yang Max sembunyikan dari gue tapi gue gak tau apa, di paksa bicara pun rasanya percuma! sikap Max tuh aneh, tadi sore sehabis pulang dari rumah David tiba-tiba dia meluk gue, dan bicara seolah gue bakal ninggalin dia!" Ucap Mikha lirih, ia kembali mengambil nafas perlahan.
"Gue perhatian dari sikap Jerry, dia orangnya 'ember' beda sama Ryan yang lebih tertutup. Gue yakin kalau lu deketin dia pasti dia akan ngomong ataupun keceplosan tentang Max sama lu!" Sambung Mikha.
Dilla mencoba mencerna perkataan sahabatnya, ia tampak memijat-mijat keningnya perlahan. Entah mengapa gadis itu merasa bahwa masalah pasti masalah yang cukup berat.
"Baiklah, gue akan coba tapi gue gak janji ya!" Ucap Dilla dengan berat hati.
Mikha memeluk erat sahabatnya, ia merasa senang Dilla akhirnya bersedia membantunya.
Ia sangat berharap semuanya biasa terbuka agar tidak ada yang mengganjal di hubungan rumah tangganya.
...****************...