
Mikha kini sedang melakukan terapi di temani oleh Dilla, Peluh kian bercucuran di tubuhnya namun wanita itu tampak semangat agar lekas pulih seperti sediakala.
"Gerakan ke kanan Nyonya" Instruksi seorang trapis perlahan membimbing Mikha untuk berjalan sesuai arah.
"Iya Cukup!" Ucap Dokter Jeff menghentikan proses terapi yang telah berjalan lama.
"Bagaimana kondisi sahabat saya dok?" Tanya Dilla kepada dokter muda tersebut.
"Kalau untuk luka luarnya memang telah sembuh total, dan kabar baik lagi Nyonya Larry sudah bisa berjalan namun masih di bantu kruk ya! Karena keseimbangannya belum stabil."
"Apa gak bisa di percepat lagi dok? terapi setiap hari pun saya gak masalah" Ucap Mikha penuh harapan, ia sangat ingin memberikan kejutan untuk suaminya saat Maxim pulang ke London. Dokter tersebut tersenyum melihat kesungguhan dan tekad Mikha untuk segera sembuh.
"Nyonya, ini sudah termasuk perkembangan pesat loh, Nyonya bisa melatih secara mandiri di rumah namun harus di bantu minimal 1 orang ya" .
Sepulang terapi, Mikha dan Dilla menyempatkan diri untuk ke supermarket membeli bahan-bahan untuk membuat kue. Mikha sangat rindu berkutat di dapur menyalurkan hobinya, karena kini tangannya sudah dapat bergerak normal dan ia telah lepas dari kursi roda, wanita itu tidak bisa berdiam diri lagi.
"Kha tunggu di sini ya, gue kebelet nih!" Ujar Dilla yang langsung berlari mencari toilet, ia meninggalkan Mikha yang tengah asik memilih buah-buahan.
BRAK!!!
Seorang pria menabrak Mikha hingga ia terjatuh, pria tersebut dengan cepat mengambil Kruk milik Mikha dan membantunya berdiri kembali.
"Maaf Nona, saya tidak sengaja." Ucap Pria tersebut penuh rasa bersalah.
"Iya tidak apa, bisa tolong bantu saya ke sana?" Ucap Mikha meringis karena merasa sedikit nyeri di perutnya.
Pria tersebut membantu Mikha mencari tempat istirahat di swalayan tersebut, dan memberikan Mikha sebotol air mineral.
"Sekali lagi maafkan saya, nona Mikha" Ucap pria tersebut, yang membuat Mikha bingung karena pria itu mengetahui namanya.
"Kau tidak ingat padaku?" Tanya Pria tersebut, namun Mikha hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah yang masih tampak bingung.
"Saya Jesson, yang dompetnya kau temukan terjatuh di Apartemet Xcity "
Mikha tampak mengingat-ingat, Hingga ia teringat kejadian sebelum ia mengalami kecelakaan.
"Oh maaf tuan saya baru mengingatnya."
"Tidak apa, Oh ya... nona saya mohon permisi dulu ya soalnya saya ada janji. Ini kartu nama saya, kalau ada apa-apa bisa hubungi saya, sekali lagi saya mohon maaf atas kecerobohan saya."
Ucap Jesson segera pergi setelah melihat Dilla yang tengah mencari-cari Mikha.
"Ya ampun Mikha, gue cari kemana-mana juga! Udah yuk pulang." Pekik Dilla yang tampak terengah-engah.
...****************...
Di tempat lain tanpak Jhon yang sangat terganggu dengan kehadiran Tuan Wang, Indah yang melihatnya bingung harus bersikap seperti apa, ia tahu saat itu Jhon merasa cemburu apalagi sikap tuan Wang yang terus-menerus mendekatinya namun tidak mungkin juga jika ia mengusir Tuan Wang begitu saja.
"wah tuan Jhon benar-benar baik ya...sampai mengajak sekretarisnya berlibur saat weekend." Ucap Tuan Wang tanpa rasa curiga.
"Wajarlah karena Indah itu Ke...."
Kring...Kring...
Ponsel tuan Wang berdering dan memutus perkataan Jhon.
"ya Hallo, oke! tunggu sebentar dikit lagi sampai!"
Ucap Tuan Wang dengan seseorang lewat telepon dan segera mengakhiri pembicaraan di ponselnya.
"Maaf tuan Jhon saya harus buru-buru, saya pamit undur diri dulu ya, senang bertemu dengan Anda." Ucap Tuan Wang berjabat tangan dengan Jhon, lalu pandangan pria itu beralih ke sosok Indah dan dan mengedipkan sebelah matanya serta berkata
"Nanti aku telepon, jangan lupa di angkat ya!".
Indah tersenyum getir, ia melihat wajah Jhon yang kini sudah merah padam.
"Pulang!" Ucap Jhon berjalan terlebih dahulu meninggalkan Indah.
Selama di perjalanan Jhon hanya terdiam, berkali-kali Indah memanggilnya namun pria itu mengabaikannya.
Sesampainya di kediaman Larry, Jhon segera memberikan Bella yang tengah tertidur ke seorang pengasuhnya.
Pria itu duduk di ruang tamu dengan Indah yang terus mengekor padanya.
"John dengar dulu penjelasan aku." Ucap Indah yang duduk di sebelah Jhon yang sedang merajuk.
"Mana ponselmu!" titah Jhon.
Indah hanya bisa menuruti kemauan kekasihnya yang tampak kekanak-kanakan.
Jhon mengutak-atik ponsel milik Indah dan memblokir nomer ponsel Tuan Wang.
"Sudah dong jangan ngambek, lagi pula aku kan gak pernah mengangkat telepon darinya ataupun membalas chat-nya."
Ucap Indah mencoba merayu Jhon dengan mengalungkan kedua tangannya di leher pria itu.
"Sayang...udah dong ya, jangan marah-marah lagi nanti gantengnya hilang!"
"Lalu kalau aku gak tampan kau mau cari yang baru? yang muda seperti Wang?" Ucap Jhon ketus.
"Ish ...kamu mah, gimanapun kamu kan aku tetap cintanya sama kamu. Udah dong ya jangan ngambek!"
Cup
Indah memberanikan diri mengecup bibir Jhon hingga membuat pria itu terkejut.
"J-jangan marah lagi ya" Ucap Indah memelas dan menahan rasa malu.
Jhon tersenyum melihat tingkah Indah, pipi gadis itu memerah menahan rasa yang ada di dalam hatinya.
Pria itu menarik Indah agar lebih dekat dengannya, dan dengan perlahan-lahan mencium lembut bibir kekasihnya.
Indah hanya mematung kala ciuman Jhon terasa semakin dalam, nafas pria itu memburu menahan segala nafsu yang telah tersulut dalam dirinya.
"Astaga!!! Kenapa aku harus melihat ini lagi, oh...Tuhan kenapa kejam sekali pada jomblo seperti diriku ini..."
Pekik Marrie yang baru saja masuk ke dalam rumahnya, lagi-lagi ia dipertontonkan oleh kemesraan Jhon dan Indah.
Gadis itu tampak memelas, mengadahkan kedua tangannya layaknya berdoa.
"Kalian ini kalau mau yang iya iya di tempat yang lebih privasi kali... biar tidak menodai mata jomblo sepertiku ini." Goda Marrie menahan tawa yang membuat Indah dan Jhon merasa malu.
"Gosip, Gosip aku akan membuat gosip! kak Dilla, kak Mikha aku punya Gosip!" Marrie tampak merancau senang, berlari-lari kecil menuju kamarnya.
...****************...
Di perjalanan menuju negara pertama yang mereka kunjungi, Max terlihat tidak bersemangat.
Bahkan ia tampak memuntahkan isi perutnya kala melihat makanan yang tersaji untuknya.
"Nona tolong singkirkan kentang ini, ganti saja pakai nasi atau mie." Ucap Max kala seorang pramugari menyediakan makanan untuknya.
"Kau kenapa?", Tanya David kala melihat gelagat aneh dari Maxim.
"Gak tau nih, udah berapa hari begini terus. Kecapean kayanya kurang istirahat."
"Makanya jangan lembur mulu sama neng Mikha!" Ucap Jerry asal bicara, dan membuat seluruh crew ikut menggoda Max.
Ryan hanya tersenyum kecut kala mendengar semua perkataan yang dilontarkan teman-temannya untuk Maxim.
"Semoga kau bisa membahagiakannya, karena jika tidak aku berjanji tidak akan menyerah lagi."
...****************...