
WARNING! terdapat adegan 21+ (sedikit sih 😁🙏), jadi Dede-dede gemesh yang masih di bawah umur mohon pengertiannya ya untuk skip aja.
Sebelumnya mohon bantuannya untuk dukung Author dengan Like, komen, Rate dan Vote ya...
kritik serta saran juga aku tunggu dari kalian, karena aku sadar bahwa karyaku masih jauh dari kata sempurna.
Apalagi aku terlalu banyak nyantumin gambar visual, mohon maaf karena Authornya kalau halu dan bucin terlalu totalitas😂.
Selamat membaca❤❤❤
...****************...
...🍁🍁🍁...
Matahari mulai beranjak dari peraduannya, suara kokokan ayam dan kicauan burung menandakan sang Fajar telah tiba.
Mikha terbangun karena merasakan silaunya sinar matahari yang masuk lewat jendela kamarnya yang sudah terbuka.
Setelah tersadar, ia menoleh ke sisi lain ranjangnya namun tidak menemui sosok suaminya.
"Kamu mencari apa?" tanya Maxim tersenyum, pria itu terlihat tengah menikmati secangkir kopi di sebuah sofa dekat jendela kamarnya.
"Emmm...Max? kau sudah bangun?" Ucap Mikha dengan suara seraknya khas seseorang yang bangun tidur
"Iya sayang, cepatlah mandi! hari ini Marrie dan yang lain mengajak kita jalan-jalan."
Mikha mengacungkan jempol tangannya tanpa berbicara, lalu ia segera beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi.
Max, menatap nanar pemandangan lewat jendela yang berada di sampingnya. Sudah semalaman kepalanya sibuk memikirkan kondisinya, bahkan ia sama sekali tidak dapat tidur dengan nyenyak.
Pria itu takut akan dirinya sendiri, takut wanita yang kini menjadi istrinya akan pergi meninggalkannya setelah mengetahui sisi tergelap pada dirinya.
"Akhh!!!"
Max menggeram serta mengacak-acak rambutnya, pikirannya sungguh sangat kalut dan kacau.
...****************...
Dilla dan Indah yang sajak pagi-pagi buta sudah bangun, kini tengah menikmati suasana pagi sambil bermain ayunan yang berada di taman.
Kedua gadis itu memang menyukai pemandangan asri yang di suguhkan tempat itu.
"Huffff..." Indah menghembuskan nafasnya , tampak ia sedang memikirkan suatu hal yang belakangan ini telah terus mengusik pikirannya.
"Dil, salah gak sih kalau kita suka sama pria yang jauh lebih tua dari kita?"
Tanya Indah lirih, sepertinya gadis itu masih memikirkan sikap Jhon yang selalu berupaya acuh dan menghindarinya.
"hah, Lu suka sama om-om atau aki-aki gitu? Atau lu mau mengikuti jejak Resti, jd baby Sugar om-om?" Celetuk Dilla menggoda Indah, sebenarnya ia tahu kalau sahabatnya itu menaruh hati pada Jhon.
Bagaimanapun sikap Indah yang tidak seperti biasanya terhadap lawan jenis, jelas sekali menggambarkan perasaannya kepada pria itu.
"Ih, tu mulut ye! Ya...emang sih, bisa di bilang suka sama om-om tapi om-om high quality! dan lagi bukan suami orang.
Gw gak mau jadi simpenan juga kali, amit-amit!" ujar Indah tampak kesal.
"Hahahaha gw udah tau kok, sama ka Jhon, kan?"
Indah mengerutkan dahinya, seakan bertanya dari mana Dilla tahu isi hatinya, padahal selama ini ia belum memberitahu kedua Sahabatnya itu.
"Ndah, lu dan Mikha itu sahabat gw, Tentu kita sudah saling paham satu sama lain, dan sikap lu yang gak biasa pada Jhon udah menjelaskan semuanya. Gw kasih tau ya, pria seperti Jhon itu susah di hadapi.
Dia itu tipe laki-laki setia, di liat dari latar belakangnya yang udah lama menduda tapi sama sekali belum ada pengganti mendiang istrinya."
Ucap Dilla panjang lebar, ia ingin sahabatnya tahu akan rintangan berat dan konsekuensi jika ia memutuskan mengejar cinta seorang Jhon.
"Jadi gimana? Apa lu sanggup?" sambung Dilla.
"Sanggup! Gw gak akan nyerah!" Ucap Indah penuh keyakinan.
"Ma...Ma...mom"
Seorang gadis kecil tiba-tiba berlari ke arah Indah, dengan mengucapkan kata-kata yang masih belum lancar.
Sang ayah terlihat mengejar gadis kecil itu, menjaganya agar tidak terjatuh saat berlari.
"Noh, anak lu nyamperin tuh!" bisik Dilla menggoda Indah, yang kini terlihat salah tingkah karena Bella dan Jhon berlari kecil menuju ke arahnya.
***
Mikha baru saja keluar dari kamar mandi dengan masih menggunakan handuk kimononya karena ia lupa membawa pakaian ganti.
Ia segera mengambil koper kecilnya yang tergeletak di samping ranjang untuk mengambil pakaiannya.
"Sayang..."
Maxim tiba-tiba saja memeluknya dari belakang, menghirup dalam-dalam aroma sabun yang masih melekat pada tubuh istrinya, hingga membuat jantungnya kembali berdetak tak beraturan dan mengingat kejadian semalam saat sang suami menciumi tubuhnya.
"Max... A...ku ma...mau ganti baju dulu." Ucap Mikha terbata-bata.
"Begini dulu sebentar sayang, aku ingin memelukmu sebentar saja ya." Ucap pria itu lirih.
Merasa ada yang tidak beres dengan nada bicara suaminya, Mikha membalikkan tubuhnya dan menatap lekat-lekat wajah Maxim.
"Kamu kenapa?" Tanya Mikha penuh rasa penasaran menatap wajah Max yang begitu sendu.
"Sayang, berjanjilah padaku bahwa kau tak akan meninggalkanku apapun yang terjadi?"
Mikha merasa heran dengan pertanyaan suaminya, ia terus menerus menatap Maxim, menerka-nerka apa yang ada di pikiran pria yang telah menjadi imamnya itu.
"hei, kamu itu bicara apa sih? Aku gak akan meninggalkanmu, aku janji dan bersumpah setia padamu !"
Ucap Mikha dan mengacungkan jari tengah dan telunjuknya.
"Sebenarnya kamu kenapa sih?" Sambung Mikha
"Hmm...Tidak, aku hanya mimpi buruk saja." Jawab Maxim berbohong, ia masih belum siap untuk berkata yang sebenarnya.
"Sayang, bo... boleh a...aku mencoba lagi." Ucap Maxim ragu, pria itu masih belum menerima kenyataan bahwa ternyata hanya Jess lah yang mampu membangkitkan hasratnya.
Mikha tersipu mendengar ucapan suaminya, ia hanya mampu mengangguk perlahan kala sang suami mulai melingkarkan tangan di pinggangnya.
Max mencium kening istrinya, berlanjut ke kedua pipi dan hidung sang istri.
Perlahan dan perlahan ia mulai mengecup bibir ranum milih kekasih hatinya, me'***** nya perlahan dan menjelajahi setiap inci bibirnya.
Tangannya pun tak ingin tinggal diam, kini ia mulai membuka tali pengikat kimono handuk yang menutupi tubuh istrinya dan bergerilya nakal yang berhasil membuat bulu kuduk sang istri berdiri.
Ciumannya pun turun perlahan menuju telinga dan tengkuk leher milik istrinya dan lagi-lagi meninggalkan bekas merah pada kulit kuning Langsat milik Mikha.
TOK...TOK...TOK...
"Woi penganten baru, lama amat euy! Semua udah pada kelaparan nunggu kalian kaga nongol-nongol!"
Aktifitas Max terhenti kala pintu kamarnya yang tiba-tiba di ketuk dengan kencang oleh Dilla, tepatnya oleh Dilla yang kini di temani Jerry. Laki-laki yang sedari tadi terus menerus mengekor dan menempel padanya.
...****************...