Oh My Mister

Oh My Mister
Membuka hati kembali



Maxim membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang berada di kamar tamu rumah keluarga Mikha yang kini di tempati olehnya, efek dari obat anastesi yang mulai hilang membuatnya sedikit menahan rasa perih dan berdenyut di area sensitifnya.


"Max, makan dulu!", Ucap Mikha yang berdiri tepat di depan pintu kamar.


Pria itu hendak menjawab namun terhalang rasa sakit yang semakin berdenyut.


"Mmmm…'' Maxim menggigit bibir bawahnya, menahan rasa perih yang ia rasakan.


Melihatnya seperti itu, beruntung Mikha langsung mengerti dengan apa yang calon suaminya itu rasakan. Gadis itu segera menyiapkan obat penghilang rasa sakit yang sudah di resepkan oleh dokter dan segelas air mineral untuk Maxim.


"Minum dulu biar gak sakit."


Mikha duduk di pinggir ranjang dan ia memberikan sebutir obat serta segelas air mineral yang telah ia siapkan kepada Maxim.


Segera pria itu meminumnya dengan cepat tanpa ragu, membuat gadis itu merasa sedikit iba terhadapnya.


"Ya sudah kamu istirahatlah, biar nanti makan siangnya aku antarkan saja."


Mikha beranjak dari duduknya, namun tangannya di tahan oleh Maxim.


"Jangan kemana-mana, disini aja temani aku." Ucap Maxim dengan wajah memelasnya, membuat gadis itu tak tega untuk menolak.


"Hei, kamu harus istirahat supaya lekas sembuh!" Mikha mengusap kening Maxim, namun pria itu hanya menjawab perkataan Mikha dengan sebuah gelengan kepala.


"Ya ...terserah kamu sajalah."


Max tersenyum mendengar jawaban Mikha, tangannya tetap menggenggam tangan gadis itu yang kini terduduk kembali di sampingnya.


"Kha, apa kamu sudah siap menerimaku sepenuh hati? aku sungguh menginginkanmu menjadi pendampingku seumur hidupku, aku sangat sangat sangat mencintaimu! sejak awal kita berjumpa, hatiku sudah milikmu."


Mendengar pernyataan cinta itu, Mikha hanya tertunduk. Ia tak berani menatap wajah Maxim, air mata perlahan menetes dari pelupuk matanya.


"Ta ... Tapi aku sudah gak suci lagi Max!", Ucap gadis itu dengan suara yang parau, membuat Maxim merangkum seluruh wajah gadis itu dengan kedua tangannya.


"Heiii ...Mikha lihat aku! dengar ya aku tidak peduli tentang itu semua, dan hal tersebut sama sekali tidak mengubah ataupun mengurangi rasa cinta di hatiku untukmu! dan berhentilah menganggap dirimu kotor, semua itu bukanlah kesalahanmu. Mikha, sekali lagi aku tanya padamu! Maukah kau menjadi istriku? mendampingiku dalam keadaan apapun, menerima segala kelebihan dan kekuranganku, hingga maut memisahkan kita."


Max menatap wajah Mikha erat-erat, gadis itu perlahan menganggukkan kepalanya.


Melihat respon Mikha, Max seketika memeluknya dengan hati yang sangat bahagia.


"Max maafkan sikapku akhir-akhir ini, A ...Aku juga sangat cinta padamu, sungguh sangat cinta kepadamu." Ucap Mikha lirih, dan membuat Max melepaskan pelukannya dan kembali menatap gadis itu dengan tatapan penuh kasih sayang.


" Mikha, I Love you"


Wajah Maxim perlahan mendekati wajah Mikha, mata dua insan itu terpejam, perlahan demi perlahan bibir mereka nyaris bertemu.


"Mba, kata ibu ini makanan untuk mas Max...upsss sorry." Ucap Rika terputus dan seketika menutup mulut dengan telapak tangannya.


Tiba-tiba saja Rika datang membawa nampan berisi makan siang untuk Maxim, gadis belia itu masuk ke kamar Maxim tanpa permisi.


Membuat kedua insan yang sedang di mabuk asmara itu merona menahan malu.


...***...


Di Salah satu lapas di kota Yogyakarta, seorang pria tengah terlihat putus asa, berjam-jam lamanya ia hanya termenung memandangi jeruji besi dingin di hadapannya.


"Ari wijaya, ikut saya! ada yang mengunjungimu." Ucap salah seorang sipir membukakan pintu sel, dan membawa pria itu kesebuah ruangan.


Seorang wanita paruh baya bak Nyonya besar dan seorang pria berpakaian formal nan rapi sudah menunggunya di ruang itu.


"Ibu" Ucap Ari, pria itu duduk di hadapan ibunya.


"Dasar anak bodoh, gara-gara obsesimu kepada perempuan miskin itu kau berakhir seperti ini!"


"Bu tolong keluarkan aku dari tempat bau dan menjijikan ini, aku tidak tahan!"


"heh berdirilah! ingat kau itu keluarga WIJAYA, paling terpandang dan kaya raya sekecamatan ini. Aku sudah menyiapkan pengacara hebat untukmu! tenang saja keluarga Wijaya, Kebal hukum! bahkan harga diri wanita itu bisa saja ku beli." Ucap Nyonya Wijaya dengan begitu angkuh dan percaya diri.


"Tenang saja, kita pasti menang di pengadilan besok karena AKU... sudah menyiapkan seluruh strategi hahahaa melawan si miskin itu bukanlah masalah besar untukku!"


Tawa wanita angkuh itu mengisi seluruh ruangan, sikap sombong dan merendahkan yang selalu di tunjukan olehnya, pada akhirnya akan menjadi senjata yang akan menusuk dirinya sendiri.


...***...


Keesokan pagi, Maxim yang belum sepenuhnya pulih sudah bersiap-siap untuk menjemput kedatangan adik dan kakaknya.


Celana bahan yang terlihat lebih besar menjadi pilihannya. Mikha yang tidak tahu menahu, menghampiri calon suaminya itu yang sedang melihat penampilannya di sebuah cermin yang tergantung di kamar.


"Sudah tampan kok, Mau kemana? kamu belum sembuh." Ucap Mikha yang kini berdiri di samping calon suaminya.


"Mau ke bandara, jemput Jhon dan Marrie."


Jawab Max sambil mencubit lembut hidung Mikha.


"Jhon dan Marrie?"


"Oh iya aku lupa memberi taumu, kakak dan adikku mau kesini membantu kita di pengadilan besok, kalau semua sudah selesai nanti orang tuaku akan menyusul."


"Orang tuamu?"


"Iya, kita kan akan menikah, aku sangat menghargai kebudayamu. Jadi aku membawa orang tuaku untuk memintamu secara baik-baik pada keluargamu, Oh ya kamu mau ikut ke bandara?."


Ucap Maxim menatap dan mengecup kening calon istrinya.


"Aku ikut, sebentar aku ganti baju dulu", Ucap Mikha yang segera pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaian.



Setelah mereka siap, tak lupa pasangan ini berpamitan kepada kedua orang tua Mikha.


Mobil yang telah di beli Maxim tanpa sepengetahuan Mikha, sudah datang dan terparkir di halaman depan rumah Mikha, merekapun bergegas untuk menjemput Jhon dan Marrie yang sedikit lagi sampai.


"Max, kok kamu yang mengemudi? mana supirnya?" Tanya Mikha yang menduga, mobil itu hanya sebuah mobil sewaan seperti biasanya.


"Ini kan mobil milikmu, jadi aku yang akan menjadi supirnya, Nyonya muda Larry."


"Sayangku, pindahlah ke sampingku! apa kau benar-benar ingin menjadikanku seperti seorang supir?" Ucap Maxim kembali.


Mikha yang masih bingung hanya menuruti saja apa kata calon suaminya itu.


"Max, tapi aku gak pernah beli mobil bahkan uang untuk membelinya pun aku tidak punya." Ucap Mikha yang kini telah duduk di samping Max.


"hahaha kamu itu jujur sekali, ini dariku sayang sebagai hadiah karena kau mau menjadi istriku."


"Tapi ini berlebihan Max, bagaimana kalau uangmu habis?"


"Tidak, semua cukup! sudahlah jangan berpikir terlalu keras." jawab Max tanpa menoleh, tangan kirinya mengacak-acak rambut Mikha sedangkan tangan kanannya masih tetap berada di kemudi.


"Maaf Maxim, memang sebenarnya pekerjaanmu apa? kau selalu ada waktu seperti ini apa tidak takut di pecat?"


"Aku hanya penyanyi saja, kalau tidak ada panggilan ya ...tidak bekerja."


"Oh ...gitu, kaya semacam penyanyi di cafe ya? wah berarti upah disana lumayan besar ya. huft ...bahkan aku yang sudah bekerja sampai jungkir balik pun tetap belum mampu membeli benda ini."


Mikha menghela nafas, sepertinya pikiran polosnya masih mengira bahwa Maxim hanyalah orang biasa seperti dirinya.


Max yang mendengarnya hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.