
Di pertengahan jalan langkah mereka terhenti, Mikha tampak mematung melihat seseorang yang kini berada di hadapannya, seseorang yang tak sengaja berpapasan dengannya.
Sedangkan Dilla menatap tajam orang tersebut, seseorang yang telah melukai hati dan perasaan sahabatnya. Orang itu hanya tertunduk diam dan segera melangkahkan kakinya cepat untuk segera melewati Mikha dan Dilla tanpa sepatah katapun.
"Clara, Untuk apa dia disini?" Ucap Dilla yang masih merasa kesal melihat wanita pengacau tersebut.
"Sudahlah, yuk lanjut nanti kita terlambat loh." sanggah Mikha menarik tangan sahabatnya."
Mikha dan Dilla datang sedikit terlambat, karena acara telah di mulai dan para suami mereka telah bersiap menyanyikan lagu pertama, yang begitu disambut sorak sorai antusias para penonton yang bahkan rela merogoh kocek dalam-dalam demi menyaksikan performa sang Idola.
Mikha terperangah, untuk kesekian kalinya ia kembali kagum menyaksikan sang suami yang begitu memukau dengan suara emasnya.
"Sayang apa kelak salah satu di antara kalian ada yang mengikuti bakat papa? semoga saja ya sayang." Mikha tersenyum sembari mengusap lembut perutnya. Tak lama terasa sesuatu bergerak di perutnya, Mikha tersenyum karena ia menganggap itu adalah respon dan jawaban dari sang jabang bayi.
3 Jam berlalu, di penghujung acara nampaknya Max dan Jerry ingin memberikan kejutan dengan single terbarunya, bukan hanya untuk para penggemarnya namun juga untuk istri mereka.
Sebuah lagu lawas yang mereka garap ulang tentunya dengan suara khas mereka.
Alunan lagu nan begitu romantis mulai di mainkan, Max dan Jerry nampak berjalan ke belakang panggung untuk menjemput istri-istri mereka dan membawanya ke atas panggung, sedangkan Ryan memilih salah satu penonton dan di ajak pula ke atas panggung untuk menemaninya.
Mikha dan Dilla nampak terkejut dengan tindakan suami mereka, kedua wanita itu hanya mampu mengikuti langkah suami mereka yang tengah bernyanyi dengan merangkul mesra.
Terutama Max, tanpa malu mengecup kening dan perut istrinya di atas panggung yang berhasil membuat para penonton teriak histeris.
Westlife - Nothing's gonna change my love for you
If I had to live my life without you near me
The days would all be empty
The nights would seem so long
With you I see forever, oh, so clearly
I might have been in love before
But it never felt this strong
Our dreams are young and we both know
They'll take us where we want to go
Hold me now, touch me now
I don't want to live without you
Nothing's gonna change my love for you
You oughta know by now how much I love you
One thing you can be sure of
I'll never ask for more than your love
Nothing's gonna change my love for you
You oughta know by now how much I love you
The world may change my whole life through
But nothing's gonna change my love for you
Di balik semua itu, Ryan tampak berusaha mati-matian menutupi perasaannya. Cemburu? ya tentu saja, namun ia berusaha sadar diri bahwa ia sama sekali tidak mempunyai hak atas perasaan tersebut. Terlebih saat ini ia menyandang status sebagai pacar Rika, yang tidak lain adalah adik dari wanita yang ia cintai walaupun semua itu hanya sandiwara belaka.
......................
Di tempat lain, Marrie tampak berjalan terburu-buru di bandara.
Gadis itu baru saja kembali dari luar kota untuk mengurus pekerjaan yang terpaksa ditinggalkan Jhon.
Ia nampak sedang menerima panggilan telepon dengan berkas-berkas dan tas yang dijinjingnya, hingga tak sengaja terpeleset karena menginjak lantai yang masih basah sehabis di pel.
BRAKKKK!!!
Seluruh berkas yang berada di tangannya berhamburan bukan hanya itu, ia terpaksa menahan sakit dan malu karena pandangan orang-orang langsung tertuju padanya.
Gadis itu nampak bangkit, namun terjatuh kembali karena rasa sakit di pergelangan kakinya.
"Nona? Nona? apa kau baik-baik saja?"
Suara bariton yang terdengar seksi itu memecah lamunan Marrie yang nampak mengawang tak berujung.
"Y-ya, terima kasih." Ucap Marrie menerima uluran tangan pria berseragam militer tersebut.
"Awww!!!"
Pekik Marrie kala merasakan sakit saat di paksa berdiri.
"Maaf saya lancang "
Tanpa aba-aba, pria itu segera menggendong tubuh Marrie dan membawanya ke pos kesehatan.
Ia nampak cekatan memberikan obat oles pereda sakit dan sedikit memijat pergelangan kaki Marrie yang nampak membengkak.
"Aww, sakit!"
"Tahan sebentar nona, lain kali hati-hati saat berjalan." Ucap pria itu tanpa menoleh, tatapannya fokus pada pergelangan kaki gadis itu.
"I-IYA terima kasih banyak." Ucap Marrie gugup, jantung gadis itu berdetak kencang dengan perasaan yang begitu asing untuknya.
"Kau militer?" tanya Marrie yang penasaran.
"Ya, Saya tim perdamaian dari Indonesia. Namun terpaksa mendarat darurat disini karena pesawat kami mengalami gangguan mesin saat ingin kembali ke negara kami."
"Yap sudah selesai, coba gerakan kakinya." Ucap pria itu.
Marrie nampak menggerak-gerakan kakinya dan ia tidak lagi merasakan sakit. Gadis itu tersenyum dan menatap pria yang telah menolongnya.
"Sudah tidak sakit, terima kasih." Ucap Marrie.
Tak lama ponsel pria itu berdering, sepertinya seseorang mengabari bahwa pesawat yang ia gunakan telah selesai di perbaiki.
"Oh ya nona, maaf saya harus buru-buru kembali. Lain kali hati-hati." Ucap pria itu pamit lalu segera meninggalkan Marrie yang melamun.
Marrie tersadar dari lamunannya, seketika ia langsung berteriak kepada pria itu yang sudah terlihat cukup jauh darinya.
"Hei, Siapa namamu? Namaku Marrie!" Pekik Marrie hingga pria itu menoleh dan tersenyum padanya.
"Dimas! Namaku Dimas!" Pekik Pria itu melambaikan tangan dan kembali melanjutkan perjalanannya.
Marrie nampak mematung memandang pria itu hingga pria itu tak nampak lagi di pandangannya.
"Semoga Tuhan mempertemukan kita lagi, Dimas"
Ucap Marrie lirih, walau sebenarnya ia menyesal tidak menanyakan nomer ponsel pria itu atau berkenalan lebih lanjut kepadanya.
......................
Setelah konser usai dengan sukses, Max dan timnya mengadakan makan malam bersama. Tampak keseruan yang begitu mereka ciptakan hingga tanpa sadar ada sepasang mata menatap Max dan Mikha dengan tatapan benci.
"Ayo habiskan a..." Ucap Max yang terus menerus menyuapi istrinya.
"Aduh aku kenyang, gak sanggup makan lagi Max"
"Di perutmu ada 2 nyawa lagi sayang, kau harus makan banyak"
"Gak begitu konsepnya Maxim Andreas Larry!" Ucap Mikha protes dan mencubit hidung mancung suaminya.
"Dil, temani gue beli kue yuk di toko sebrang!" Pinta Mikha menunjuk sebuah toko kue Lewat jendela di restoran tersebut yang tepat berada di sebelahnya
"Loh tadi katanya Kenyang? sini aku aja yang beliin, kamu tunggu disini saja" ujar Max menahan istrinya.
"Kamu makan dulu aja, dari tadi kamu hanya sibuk suapin aku. Yuk Dil !"
Mikha menarik tangan Dilla dan melangkah menuju pintu keluar.
Pandangan Max tak lepas sedikitpun dari sang istri, ia memastikan istrinya baik-baik saja hingga masuk toko kue yang si maksud.
Sedangkan seseorang tengah menunggu sebuah moment yang tepat untuk melakukan aksinya, orang itu menyinggungkan senyuman seringai kala melihat Mikha baru saja keluar dari toko kue.
"Mati lah kau!" Ucap orang tersebut yang segera menginjak pedal gas pada mobil yang ia kendarai.
"MIKHA AWAS!!!"
^^^Bersambung...^^^
......................