Oh My Mister

Oh My Mister
Pilihan



Matahari beranjak bersinar di ufuk timur kota London, Max yang sudah terbiasa bangun pagi membuka matanya perlahan, ia lihat jam di dinding menunjukan pukul 06.00 pagi, segera ia mengambil ponsel miliknya yang berada tak jauh di dekatnya namun seketika raut wajah pria itu tampak berubah.


"Harusnya di sana sudah siang tapi kenapa pesanku tidak di baca? apakah ia marah padaku." gumam Max dalam hati.


ia mencoba berkali-kali menelpon Mikha namun tak ada jawaban, hingga ia menghubungi kantor Mikha namun sayang sambungan teleponnya terus menerus sibuk.


Tak berapa lama ponsel milik Max berdering, ia bergegas dengan semangat mengangkatnya namun rasanya ia harus kecewa lagi karena panggilan itu bukan dari orang yang dia harapkan.


"Kak, Daddy memintamu datang pukul 7 pagi ini ke rumah sakit, ia Ingin membicarakan masalahmu, kak John juga di suruh datang."


Ujar seorang di panggilan teleponnya.


"Baiklah aku bersiap."


Setelah panggilan itu berakhir Max segera bergegas bersiap untuk pergi ke rumah sakit, ia hanya mengirimkan pesan singkat kepada Temannya agar tidak mencarinya.


30 menit perjalanan menuju ke rumah sakit tempat ibunya di rawat, setelah sampai ia berjalan dengan cepat menuju ruangan tempat Ibundanya berada.


Tidak ada keraguan di hatinya, ia juga sudah pasrah jika sang ayah akan kembali murka kepadanya asalkan perjodohan nya dengan gadis yang bernama Clara itu dibatalkan.


Klek...


Pintu ia buka, disana ia melihat keluarga intinya sudah lengkap berkumpul.


"Ehmm ...Maxim, duduklah!" ujar Jhon mempersilahkan Max duduk di hadapan mereka semua.


Kini posisi Max sudah layaknya terdakwa yang bersiap untuk di adili dengan 3 pasang mata menatap padanya.


"Maxim Andreas Larry, apa kamu tau mengapa Daddy mengupulkan kita seperti ini?" Jhon memulai pembicaraan, Jhon Marcello Larry adalah anak tertua dari keluarga Larry.


Sementara Max hanya menjawab dengan dan menggelengkan kepalanya.


"hah! ini akibat Daddy dan mommy terlalu memajakamu." Jhon menghela nafasnya.


"Max mengapa kau menolak perjodohanmu dengan Clara? apa benar kalau kamu seorang bi..." Belum sempat Jhon meneruskan perkataannya namun sudah di jawab cepat oleh Max


"Iya betul, semua yang di beritakan media benar adanya."


Max menceritakan sejujurnya tentang kondisinya, selama ini ia menyembunyikan dari keluarganya karena tidak ingin membuat mereka malu.


Bagaimanapun walau lingkungan sosial di negara barat sudah banyak yang menerima orang-orang sepertinya namun itu tidak berlaku untuk keluarganya, bagi keluarga Larry ini sama saja dengan aib yang besar.


Ny. Anna menangis mendengar curahan hati yang selama ini di pendam anak laki-laki keduanya. ia merasa menjadi orang tua yang gagal mendidik dan menjadi tempat yang nyaman untuk anaknya mengadu, sedangkan Tuan Andrew nampak bingung harus berbuat apa.


Ia merasa sangat malu namun bagaimanapun ia mengerti bahwa anaknya juga tidak menginginkan kondisinya sendiri.


Alangkah tidak bijak jika ia terus-menerus menyalahkan dan membenci anak ke duanya.


"Lalu kenapa sekarang kamu mengatakan ingin menikah nak? Mommy tidak akan memaksa lagi, Mommy tau ini sangat sulit." Ny.Anna menghampiri dan memeluk Max.


"Sudahlah Max, Daddy akan bertemu orang tua Clara untuk meminta maaf dan membatalkan perjodohan kalian, Daddy cuma minta kamu jangan mengulangi perbuatan memalukan seperti waktu itu." ujar Tuan Andrew yang tampak memijat-mijat keningnya.


"Aku memang tidak ingin menerima perjodohan dengan Clara tapi bukan berarti aku tidak akan menikah, aku hanya ingin menikah dengan wanita pilihanku, satu-satunya wanita yang mampu membuatku jatuh hati." Ucap Max lantang.


Mendengar hal tersebut Ny.Anna dan Marrie memeluk Max dan menangis penuh haru sedangkan Tuan Andrew nampak terkejut, baru beberapa saat dia pasrah dan berfikir anak laki-laki nomer duanya tidak akan menikah seumur hidupnya, namun pikiran itu ternyata salah.


Tampak guratan bahagia tergambar di wajahnya begitu pula dengan Jhon ia sangat bahagia dengan keputusan yang di ambil oleh adiknya.


"Bagus Boy, kamu pasti bisa berubah! " Jhon bergumam dalam hati .


***


6 Bulan berlalu


Waktu yang cukup lama untuk


dua insan memendam rindu.


Namun setelah itu Max di sibukkan oleh pekerjaannya, ia harus Tour ke beberapa negara hingga memakan waktu berbulan-bulan.


Ia juga harus menyelesaikan beberapa kontrak pekerjaannya di dalam negeri yang sempat tertunda.


Tentu saja Jadwal yang sangat padat untuk penyanyi yang sedang naik daun.


Kondisi yang seperti itu dan di tambah perbedaan waktu membuatnya jarang berkomunikasi dengan Mikha.


Namun ia harus menahannya agar dapat kembali menemui gadisnya dan menyelesaikan segala rencananya


***


"lu seriusss? si mas bule itu Maxim 'The Prince' ?" Tanya Indah terkejut tak percaya.


"Yee serius, dia bilang nanti mau balik kesini lagi buat ngelamar Mikha, gila jiwa jomblo gw meronta-ronta! tapi lu diem-diem aje jangan ember lu." celoteh Dilla berbisik dan menunjukan foto-fotonya dengan Max.


"sumpah kita punya temen kok kudet amat ya, sama idol yang lagi booming kok gak ngenalin! ah jahat lu gak ngomong-ngomong, gw kan pengen minta foto juga!" Ujar Indah mulai julid.


"Foto apa sihhhh, dih gitu ya sama gw langsung di umpetin, kerja woii! gosip aja."


Tiba-tiba Mikha muncul dari arah belakang mereka yang membuat Dilla Reflek membalik layar Handphonenya.


***


Flasback on


4 Bulan yang lalu, di kantor Mikha kedatangan seorang karyawan baru.


"Selamat pagi rekan-rekan semua, hari ini kita kedatangan karyawan baru jadi mohon kerjasamanya, silahkan perkenalkan dirinya." ujar Supervisor mempersilahkan karyawan baru itu masuk ke dalam ruang kerja .



"Eh Dilla!!!" Pekik Mikha dan Indah serempak.


Mereka tak menyangka bahwa karyawan baru tersebut adalah sahabat mereka.


Flasback off


***


Semenjak Dilla bekerja di tempat yang sama dengannya kini Mikha tidak sering melamun.


pikirannya sudah teralihkan oleh tingkah teman-temannya yang terkadang melewati ambang batas akal sehat.


Kini waktu kerja sudah hampir habis, mereka bersiap-siap untuk pulang, lebih tepatnya bersiap untuk rencana berjalan-jalan terlebih dahulu ke sebuah pusat perbelanjaan sebelum pulang ke rumah masing-masing.


"Heii aku pulang duluan ya, bebebku yang baru sudah nunggu nih, mau ngajak shoping!" Ujar Resti bangga walaupun tidak ada yang menghiraukan ucapannya.


"Pacar apa laki orang mana lagi tuh yang dia gebet?" celetuk Dilla asal bicara, Mikha yang mendengar langsung menyenggol temannya dengan sikunya.


"hahaha kapan lagi nih ada drama bini labrak pelakor lagi di kantor ini, kita butuh asupan gosip." Pekik Indah yang membuat satu ruangan tertawa mendengar ucapannya.


"Ya ampun bukan temen gue!!!" Gerutu Mikha yang mulai pusing melihat teman-temannya yang suka bergosip ria Tetang Resti.


***


Hai-hai readers, terimakasih sudah mau mampir ke karyaku


Mohon dukungannya dengan Favorit ❤, Like👍, Rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan komentar ya...


dukungan kalian sangatlah berarti untukku.


Terima kasih 😊❤❤❤