
Jarum jam menunjukkan angka tiga, Mentari pun belum beranjak dari peraduannya.
Mikha terlihat sibuk berkutat dengan bahan-bahan makanan, ia terlihat membuat macam-macam masakan dan kue kesukaan suaminya.
Air matanya begitu saja lolos dari sepasang netranya, kala ia menyadari saat itu adalah terakhir kalinya ia membuatkan hidangan tersebut untuk suaminya.
"Maaf Max." Ucap lirih, hingga tiba-tiba tubuhnya di peluk oleh seseorang dari arah belakang.
"Ini masih pagi buta sayang, kenapa kamu sudah memasak segini banyaknya." Ucap Max lembut.
Mikha tampak mematung, Max merasakan tubuh istrinya begitu gemetar. Seketika ia membalikan tubuh Mikha, dan menatap istrinya yang tertunduk dengan wajah sembabnya.
"Mikha maafkan aku, sungguh aku..." ucap pria itu lirih.
"Cukup Max, aku mohon jangan di bahas lagi! Aku gak mau mengingat itu lagi", Ucap Mikha memotong pembicaraan Max.
"Aku nanti mau ke rumah Mommy dan apartemen Dilla."sambung Mikha.
"Aku ikut!" Ucap Maxim namun hanya di jawab anggukan kepala oleh istrinya.
"Terserah."
......................
Matahari kian meninggi, Mikha yang baru saja sampai di kediaman Larry di sambut begitu hangat oleh Marrie dan Nyonya Anna. Kedua wanita beda usia itu terlihat antusias dengan kondisi bayi di dalam kandungan Mikha yang semakin aktif bergerak. Sedangkan Maxim mengobrol dengan ayah dan kakaknya yang baru saja kembali dari rumah sakit.
"Mom, Merrie... Terima kasih telah menerimaku dengan baik ditengah-tengah keluarga kalian. Maafin aku kalau selama ini aku banyak merepotkan." Ucap Mikha lirih dan memeluk ibu mertuanya.
"Sayang, kamu itu bicara apa? Tidak perlu berterima kasih, Mommy sudah menganggapmu anak Mommy sendiri. Mommy sayang padamu sama besarnya seperti sayang mommy pada Marrie."
Luruh sudah genangan air yang sedari tadi menggenang di sepasang kelopak matanya, Mikha menangis tersedu-sedu di pelukan Nyonya Anna.
"Kamu kenapa sayang? kalau ada masalah katakan saja pada Mommy." Ucap Nyonya Anna namun Mikha hanya menggelengkan kepalanya, dan menghapus air matanya.
"Tidak, aku hanya sensitif aja mom." Jawab Mikha mencoba mengulas senyum.
Setelah dari rumah besar keluarga Larry, Mikha menyempatkan diri untuk menemui Dilla. Ia sangat bersyukur Dilla memiliki suami yang begitu menyayanginya, dan ia pun berdoa agar rumah tangga Dilla tidak seperti nasib rumah tangganya dan juga rumah tangga Indah.
" Dil, Lu baik-baik ya sama Jerry." Ucap Mikha lirih.
Dilla tampak menatap tajam sahabatnya, hatinya seolah bertanya-tanya mengapa Mikha berbicara seperti orang yang ingin pergi.
"Lu mau ke mana?'' tanya Dilla yang tampak memicingkan matanya.
Mikha tampak berpikir mencari-cari alasan yang tepat agar Dilla tidak curiga kepadanya.
"emmm mungkin gue pengen pulang kampung, gue kangen sama ibu." Ucap Mikha berusaha menutupi perasaannya.
......................
Mentari kian tenggelam di ufuk Barat, Mikha yang kini telah berada di apartemen miliknya tampak melamun di pinggir kolam renang pribadinya.
Pikiran dan hatinya terus bersitegang, di satu sisi ia sangat berat meninggalkan sang suami namun di satu sisi lagi hatinya sangat sakit kala terus mengingat kejadian itu setiap melihat wajah suaminya, terlebih Jesson mengancam keselamatan bayinya.
"Ya Allah, maafkan aku jika aku telah menjadi istri yang durhaka." Ucapnya lirih .
Malam semakin larut, tampak Max menghampiri sang istri yang tengah melamun menatap pemandangan lewat balkon kamarnya.
Pria itu memeluk istrinya, entah tiba-tiba terbersit perasaan yang begitu janggal di hatinya.
"Mikha aku mohon, jangan terus diam seperti ini. Aku ingin menjelaskan semua." Ucap Maxim lembut.
"Sudahlah Max, aku gak ingin mengungkitnya. Maafkan aku kalau kehadiranku sudah membuatmu bagai terbelenggu."
Max membalikan tubuh istrinya, ia menatap lekat-lekat kedua netra Mikha yang tampah sembab.
"Kamu ini bicara apa sih? Kamu itu anugerah untukku, aku mohon Mikha jangan berbicara seperti itu."
Ucap Max yang kemudian mengecup kening sang istri.
Rasa sesak di hati Mikha semakin tak terkendali, ia menangis tersedu-sedu di pelukan suaminya.
......................
Jam dinding menunjukkan pukul 02.00 malam, Mikha perlahan bangkit dari tidurnya dan menatap lekat wajah suaminya.
"Bayangan itu sulit sekali hilang saat aku melihatmu, rasanya hatiku bagai tertusuk. Maafkan aku Max, hiduplah yang baik, aku membebaskanmu sayang. Aku mencintaimu, selamat tinggal suamiku." Bisik Mikha lirih lalu mengecup kening dan bibir Max yang tengah tertidur pulas.
Mikha perlahan mengambil sebuah koper yang ia sudah siapkan dan di sembunyikan di dalam lemari, tak lupa ia meninggalkan sebuah surat di atas nakas samping ranjang.
Wanita itu perlahan turun meninggalkan apartemen yang telah ia tempati selama di London dan beranjak pergi menaiki taksi menuju tempat dimana seseorang telah menunggunya.
Tidak butuh waktu lama, ia sampai di sebuah cafe dimana Indah sudah menantinya. Kedua wanita itu saling berpelukan dan menangis, mengisi nasib rumah tangga mereka yang harus berakhir tragis.
"Terima kasih, Ndah sudah mau bantu gue. Maaf gue ngerepotin lu."
"Sama-sama Kha, gue gak merasa lu repotkan. Tapi... apa lu yakin dengan keputusan lu?" tanya Indah mencoba meyakinkan Mikha kembali.
Mikha mencoba tersenyum dan menganggukkan kepalanya, kedua wanita itu kemudian pergi menuju sebuah pangkalan udara tempat pesawat pribadi milik keluarga Indah.
......................
Di sebuah Restoran Jesson dan Rhine tampak tertawa puas sambil sesekali menyuap hidangan yang tersaji di hadapan mereka.
"Akhhhh rasanya hatiku puas sekali menjebak Maxim." Ucap pria blonde bertubuh atletis itu tersenyum sumringah.
"Kau Gila, cepat lambat kau akan jadi buronan Cello!" Cebik Rhine menatap tajam Jesson.
"Itu tugasmu, untuk mendekati monster itu dan mengalihkan perhatianncccya. Ingat kau berhutang, Karna dengan ideku Jhon dan istrinya bercerai.
Cepatlah kau nikahi dia lalu kita nikmati hartanya hahaha"
Mereka tenggelam dalam perasaan bahagia, hingga tanpa mereka sadari, seorang wanita yang tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka dengan cepat merekam segala percakapan Jesson dan Rhine.
......................
Mentari kian beranjak dari peraduannya, Max mengerjapkan matanya kala sinar matahari mengusik indera penglihatannya.
"Mikha..." Ucapnya dengan suara parau kala mendapati sang istri sudah tidak berasa di sampingnya.
Max mencoba mencari keberadaan sang istri di dapur serta di kamar mandi namun ia tidak mendapati sosok istrinya.
Pria itu semakin panik kala mendapati pakaian istrinya telah berkurang setengahnya.
"Mikha kamu dimana, please jangan bercanda seperti ini! Ini sama sekali tidak lucu!" Pekik Max, yang segera mengambil ponselnya m'iliknya dan mencoba menghubungi Istrinya.
"Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi"
Jawaban dari operator membuatnya semakin panik, ia mencoba menghubungi Dilla namun Dilla lagi-lagi tidak tahu keberadaan Mikha.
Pandangan tertuju pada selembar kertas yang berada di atas nakas, segera Max mengambilnya dan membacanya.
"Max maafkan aku yang tidak dapat menepati janjiku.
Hatiku terlalu sesak, kala setiap kali melihatmu maka bayang-bayang kejadian memuakkan itu selalu menghantuiku.
Selain itu aku tau jika Jesson yang selalu mencoba mencelakaiku, bahkan ia mengancam akan mencelakai bayi kita jika aku tetap bersamamu.
Max hiduplah dengan bahagia, aku membebaskanmu.
Maaf jika kehadiranku hanya membuat kau terbelenggu dan menyiksa dirimu sendiri.
Aku mencintaimu sampai kapanpun, carilah kebahagiaanmu sendiri.
Aku akan menjaga anak kita dengan baik dan penuh kasih sayang, jadi kamu tidak perlu khawatir dan terimakasih telah menjadi suami yang baik.
Setiap detik kebersamaan kita, sejak awal bertemu hingga kini tidak sekalipun aku lupa.
If you are my destiny, I'm sure that, God will bring you back to me."
^^^Mikha.^^^