
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Pemimpin yang tenga haus darah itu, menatap Dea dengan penuh amarah “Oh tidak.. aku kesini hanya untuk datang dan membunuhmu... kalau tanya kenapa.. itu karena kau telah membunuh semua anak buah yang kusuruh...” ucapnya lagi
Perkataannya langsung di mengerti oleh Dea “Hm... tapi kenapa kau tau tentangku.. tidak ada yang tau dengan tempatku tinggal kecuali orang-orang istana.. dan orang-orang istana tidak berani untuk mengeksposnya..” tanyanya yang bingung
Tidak perluh di bicarakan lagi.. Dea tau bahwa ada banyak sekali orang yang ingin membunuhnya... tapi yang tidak di mengertinya, hanya orang-orang istana yang tau di mana tampat tinggalnya
Tapi sebelum dia bertanya kembali, muncul suara tawa cantik padanya.. melihat siapa yang tertawa itu, pandangan Dea menjadi lebih dingin.. tidak ada tanda keramahan sama sekali di matanya.. “Lei Fang’er..” ucapnya dalam kemarahan
Dea tidak bodoh, sejak dia melihatnya dia sudah tau bahwa itu adalah ulanya, dan menjadi sangat marah... tapi bagaiman bisa Lei Fang’er ada di sini..? seharusnya dia telah di bawah kembali ke kerajaan Biyu.. kenapa sekarang dia bersama dengan pembunuh bayaran.. batinnya
“Rupanya wanita itu yang telah memberitau pada kalian..” dengan senyum mengejek
“Diam..!! ini semua karena kau.. kalau bukan karena kau.. hidupku tidak akan menjadi seperti saat ini...” ucapnya.. sampai saat ini pun Lei Fang’er tidak berubah.. dia tetap menyalakan Dea sampai akhir..
Dengan itu dia menceriakan semua yang terjadi padanya.. pada saat perjalanannya pulang, kembali ke kerajaan Biyu.. karena tidak ingin menjadi bahan ejekan dari semua nona bangsawan yang ada di sana, di tengah jalan dia memutuskan untuk melarikan diri...
Tapi rencananya berubah begitu pembunuh bayaran yang di sewa oleh sang ayah dan dirinya, datang untuk membawahnya pergi secara diam-diam
Tak berselang lama, sang pemimpin dari pembunuh bayaran itu datang menghadapnya, ingin memberikan hukuman pada Lei Fang’er yang tersisa
Untuk mempertahankan dirinya, dia membujuk pemimpin itu dan mengatakan bahwa alasan menghilangnya bawahannya, adalah karena Tuan Putri Laurenzhi, Lan Xia Dea yang menghabisi mereka
Dengan itu sang pemimpin datang untuk membunuh Dea di kediamannya sendiri.. saat sampai, tak di duga oleh mereka bahwa sang tuan rumah tidak ada di sana, tapi mujur, tak berselang lama menunggu, yang di tunggupun akhirnya tiba
Mereka kini tengah berhadapan dengan Dea... tak ada satupun yang tidak memperhatikannya...
Dea melihat mereka dengan seringai yang menakutkan.. haus darah yang tadi hilang datang kembali dengan perkataan yang Lei Fang’er keluarkan
“Master! Dia.. dialah yang telah menghabisi semua anak buah yang kau kirimkan.!! Haha sekarang master Wang Su ada di sini.. dia akan membalas karena kau telah menghabisi seluruh bawahan yang di kirimnya” Adu Lei Fang’er
Pemimpin itu terlihat seumuran dengan Han Luoyi, dua puluh ke atas.. melihat Dea yang masih segar dan muda, hasrat menginginkannya datang.. “Hei wanita.. walau wajahmu buruk, tapi kau memiliki tubuh yang indah... lebih baik kau menyerahkan dirimu.. kalau tidak...”
Kalimatnya belum selesai tapi Dea memotongnya “Kalau tidak apa..” dengan seringai di wajahnya.. kemudian dia tertawa “Menyerah.. hah.. itu adalah lulucan yang sedah lama tak ku dengar.. mungkin sudah setahun, atau mungin lebih..” dengan itu dia mengangkat tangannya dan seketika, sebuah pedang yang terpajang di baranda paviliunnya, terbang menujunya
Pada saat itu juga, sang bulan datang dan menyinari wajahnya yang cantik.. seketika suara yang ada di sana, menjadi hening
Mereka seperti tertekan tombol ‘Pause’ tidak ada yang bergerak, semua memperhatikan bagaimana wajah tanpa cadar dari Dea... bahkan suara jangkrik pun tidak terdengar
Mereka semua merasa seperti melihat benda ciptaan Dewa yang paling indah..
Dengan rambut biru gelapnya, mata yang berwarnah biru, dan hanfu yang setinggi paha dengan lengan tangan yang panjang dengan sulaman yang indah, ikat pinggang merah emas dan suara lonceng dari gantungan batu gioknya, serta pedang yang kini di peganggnya menambah pesonannya
Dea sangat-sangat berbeda dengan yang menghadapi Lei Fang’er lalu.. kini Dea terlihat seperti Dewi kematian yang cantik.. itu menambah dayanya
Selama ini, dia tidak pernah melihat wajah dari Dea kerena cadar yang di pakainya.. dia mengira, wajah di balik cadarnya itu adalah sosok yang sangat buruk rupa, dan karena itu pula dia menjadi marah pada Dea yang selalu mendapat perhatian dari para pria dengan wajah yang buruk.. tapi apa yang di lihatnya sekarang..
Ini adalah kecantikan surgawi.. sunggu sangat indah.. apalagi dengan aura yang memukau itu..., dengan senyum mengerikan itu pun, Dea terlihat sangat cantik..
kalau di bandingkan dengannya.. dia hanyalah seekor cumi yang jelek.. perbedaan ini, membuatnya gila.. Lei Fang’er yang selalu membangga-banggakan wajahnya di depan Dea untuk mengejeknya.. kini seperti menampar wajah sendiri.. ini memalukan.., pikirnya saat ini jika dia menemukan sebuah lubang, dia ingin masuk kesana dan bersembunyi...
pemimpin pembunuh bayaran yang tadi.. ketika dia melihat wajah Dea, dia tertelan kata-kata sendiri... sekarang dia menatap Dea dengan pandangan menjijikkan
Dia menginginkan Dea lebih dari tadi sekarang... melihat wajah yang seperti Dewi.. itu akan sangat sia-sia... pikirnya begitu dia menangkap Dea.. akan di jadikan mainannya.. dengan mainan yang secantik Dea.. dia tidak akan cepat bosan
Dea yang sedikit membaca pikirannya, menjadi marah, dia memandang jijik pemimpin itu.. “Haha... kau.. akan ku jadikan kau milikku..” setelah mendengar kata-kata kotornya.. darah Dea menjadi naik... haus darahnya.. kembali naik...
Senyum Dea menghilang... sang pemimpin kemudian menyuruh bawahannya menyerang Dea tanpa merusak wajahnya, karena wajahnya adalah aset paling berharga..
Dengan itu Dea melempar pedangnya melewati pemimpin itu, sehingga rambutnya terpotong sedikit “Singkirkan pikiran kotormu itu dari ku...” ucapnya dengan aura mengerikan
Mereka yang tadinya tidak begitu memperhatikannya, sekarang mendapati aura yang begitu mengerikan dari Dea.. walau dengan aura itu.. tidak ada yang bisa merasakan tingkat kultivasinya, tapi auranya begitu menindas
Ini membingungkan mereka...
Salah satu dari mereka yang melihat bahwa pedang yang di lempar Dea, di tunjukan untuk melukai pemimpin mereka, yang akhirnya meleset.. mereka semua tertawa.. tapi begitu merasakan auranya.. mereka terdiam
Dea kemudian mengulurkan tangannya dan berguman sesuatu, perlahan tangannya bersinar dengan terang... di saat sinar itu menghilang, Dea mulai menebas mereka semua...
Note : Hai semuanya... maaf yah.. apa yang muncul di tangan Dea itu masih rahasia.. ini akan terungkap di episode yang akan datang...
Terimakasih telah membaca.. jangan lupa tinggalkan jejak yah..
Favorit...
Comment and Like...