The Lost Of Power

The Lost Of Power
17. Hanya Untuk Menjadi Seperti Badut 4




Tetapi berbeda dengan Dea dia menaruh Qin miliknya di kamarnya karena dia tau cara memainkannya, itu karena di sangat suka dengan nada, sejak dia kecil hanya Qin yang ada untuk menemaninya, tempat dia berkeluh-kesah dan bercerita lewat lagu yang dia mainkan



Lalu di beranda dea menaru sofa setengah lingkaran dan meja kecil lalu dia juga menaru meja yang akan dia gunakan untuk sarapan dan menyantap teh. Yah bisa di bilang itu seperti ruang tamu



Di dalam, disamping tempat dia meletakan alat musiknya ada tempat tidurnya yang berwarna putih dengan bis biru, disamping itu ada meja rias lalu di depan nya ada tempat untuk pakaian yaitu dress room



Lalu di samping pintu masuk dia meletakan juga tempat untu koleksinya yaitu gulungan segel dan benda yang dia bawa dari akademinya dulu dan di samping kanan adalah tempat dia menuju tempat mandi dan juga toilet



Setelah semuanya telah rapihkan dia menyuruh salah satu pelayan bahwa dia akan menghadap kepada para designner untuk membuat baju, Dea bertemu dengan para designer hanya sesaat karena di hanya memberikan hanya memilik design baju yang sederhanya tetapi elegan dan mengukur saja



Saat semuanya telah selesai ini saatnya dia kedapur untuk membuat makananya. Melihat bahwa Dea telah keluar dari kamarnya dua pelayan yang dipanggil untuk menggantikan Mei mengikuti Dea menuju kedapur, melihat kedua pelayan itu mengikutinya, Dea bertanya “Apa kalian berdua yang di panggil untuk menggantikan Mei..?” tanya Dea



Kedua pelayan itu menjawab “Iya putri”



Dea tidak mau ambil pusing lalu berjalan menujuh dapur setelah tiba di sana dia memanggil kepala dapur yang ia kenal dari dulu, ketika kepala dapur menengok dia terkejut bahwa tuan putri kecilnya yang dulu sudah besar



Sebenarnya kemarin dia ingin melihat tuan putrinya tetapi dia ada urusan kemarin sehingga tidak mengetahui bahwa tuan putrinya yang dinantikannya telah sampai di istana, dan pada akhir nya yang memasak kemarin adalah Lei Fang’er



“Yah ampun putri....” ucapnya yang senang karena bertemu dengan Dea, lalu wajah berubah menjadi sedih “Maafkan saya.. karena saya pergi putri hampir..” dia merasa bersalah atas kejadian tadi malam, tetapi sebelum dia selesai berkata dia memotong



“Itu bukan salah mu.. dan lupakan hal itu sekarang ini aku lapar, kau tidak akan membuatku kelaparan kan” ucap Dea yang mengatakan kalau itu bukan salahnya lalu sedikit bercanda



Kepada dapur yang mendengarnya terharu lalu saat mendengar kata terakhir Dea dia tertawa..



Melihat kepala pelayan yang tertawa Dea tanpa sadar tersenyum dia mengingat masa kecilnya, dia sering mengunjungi dapur untuk meminta beberapa cemilan tambahan itu adalah saat dia masih berada istana sebelum ayah dan ibunya yaitu kaisar dan ratu mengirimnya ke akademi yang sangat jauh bahkan tempat yang dia tujuh berarda di benua lain



Disana adalah tempat yang sangat menentukan kehidupan melalui kekuatan, walau pun di kerajaan Laurenzhi juga menentukan kehidupan dengan kekuatan tetapi disana lebih keras



Di Laurenzhi yang memiliki kekuatan yang berada di atas tetapi masih harus mengandalkan kekuatan uang, sedangkan di akademi Dea dulu setiap hari selalu seperti ujian bertahan hidup, makanya Dea sangat membenci ayah dan ibunya terutama ayahnya yang telah meninggal




Dia kemudian menyuruh pelayan yang ada di dapur membantunya, dia ingin membuat roti isi dan isiannya adalah sayur, tidak ada tomat atau acar, dan juga pakai keju, dia mengganti daging dengan telur mata sapi dengan saus yang pedas.



Untuk minumannya tidak ada, kemudian dia memberikan buku resep pada kepala dapur agar untuk makanan nya seterusnya dibuat oleh kepala dapur, itu juga karena kepala dapur tau apa yang tidak bisa Dea makan dan yang tidak



Setelah melihat resep yang Dea berikan kepala dapur membacanya, tak lama kemudian dia terkejut dengan apa yang ada didalam nya lalu menyebutnya “!!!.. Sebuah mahakarya.. putri.. dimana putri mendapatkan ini.. isi nya adalah sebuah mahakarya” dengan mata yang berbinar dia bertanya kepada Dea dari mana dia mendapat resep itu“Emm itu ku dapat dari tempat dimana aku dikirim.. ehh itu karena sudah selesai aku kembali kekamar ku dulu.. untuk makananku kedepanya kuserahkan kepada mu...” ucap Dea yang sedikit berbohong



Sebenarnya itu adalah buku makanan yang di tulus berdasarkan apa yang biasa dia makan di sana dan makanan yang dia buat sendiri, lalu dia mengalihkan perhatian dengan mengatakan bahwa dia akan kembali kekamar, tanpa curiga pun kepala dapur mempersilahkannya



Makanan yang Dea buat, kedua pelayan yang membawanya, setelah sampai di depan Paviliun Dea menyuruh mereka untuk masuk dan meletakan makanannya di beranda lantai atas paviliun Dea



Kedua pelayan yang masuk dan terpukau melihat halaman paviliun yang yang begitu indah... mereka mematung karena terpesona, mereka berpikir bahwa apa ada halaman yang seindah ini



Di sepanjang jalan mereka terkagum dan saat masuk dalam paviliun mereka lebih terpukau, sekarang mereka tau kenapa Dea tidak menyukai tempat yang di hias sebelumnya oleh Lei Fang’er, itu sangat berbeda



Di saat kedua pelayan itu terkagum-kagum melihat kamar Dea, Dea melihat bahwa mereka belum melaksanakan apa yang di perintahkan dea “Ehm...” Dea memberi isyarat kepada ke dua pelayan lalu mereka meletakan makanannya di meja yang di depan rak buku..



Melihat apa yang di kerjakan oleh kedua pelayan itu salah Dea menghembuskan nafasnya lalu berkata “Aku menyuruh kalian meletakan makanannya di beranda bukan di situ...” ucap nya menyadarkan kedua pelayan, mereka pun menyadarinya lalu membawa makanan nya ke beranda



Saat mereka berada di beranda mereka juga terpesona karana pemandangan yang di lihat dari beranda... mata mereka tidak bisa di palingkan dari pemandangan, halaman yang terlihat seperti lukisan terlihat dari atas paviliun



Paviliun milik Dea bukan paviliun pada awalnya, paviliun milik Dea sangat berbeda, memiliki gaya yang modern tapi ada ciri khas tradisional, membuatnya sangat indah



Pemandangannya juga terlihat luar biasa. Melihat ke dua pelayan itu yang terdiam lagi, Dea memberi isyarat lagi “Ehm.. terkagum nya nanti saja.. aku sudah lapar tapi kalian belum meletakan makanannya..”



“Eh.. maaf putri...” ucap mereka lalu meletakan makanannya, melihat makanannya telah di letakan Dea pun duduk di kursinya dan menyantap makanannya sambil membaca buku yang dia ambil waktu kedua pelayan masih terpesona dengan kamarnya