
“K.. Kami minta maaf putri.. k.. kami minta maaf..” ucap keduanya yang mencoba meminta maaf
Melihat Lan Xiadea yang hampir menusuk mata kedua pejaga membuat Lei Fang’er bergidik mengeri kemudian dia melihat Dea yang menatap kedua pejaga itu seperti tatapan ingin membunuh
Melihat mereka yang ketakukan Dea mengingat sesuatu lalu kemudian dia mengontrol sepasang sumpit itu untuk menjauh dari pejaga kemudian dengan ekspresi yang sama dia berkata “Kalau bukan karena ini berada di Laurenzhi aku takkan menahan diri. Pergi.. aku tidak ingin kalian ada di istana ini “ ucap Dea yang ingin bahwa kedua pejaga itu untuk tidak datang lagi untuk berkerja
“De.. Dea ap.. apa maksud mu.. apakah kau ingin mengusir mereka.. lalu mer..” ucap Lei Fang’er yang terkejut bahwa Dea ingin menghusir kedua penjaga
Sebelum Lei Fang’er selesai berucap dea memotong “Mei, Shin Yao kalian ada di sini kan”
Ucapan Dea membuat Lei Fang’er dia ingin mengatakan kalau Dea sesuatu tetapi lagi-lagi sebelum dia menyelesaikan perkaatannya ketiga dayang itu muncul “Yah putri..” ucap ketiga dayang
“Urus mereka” ucap dea sambil menatap kedua penjaga, penjaga yang ingin di usir pun meminta Dea untuk tidak menghusir mereka tetapi Dea tetap bersikeras lalu dengan marahnya salah satu dari mereka berkata
“Kenapa harus menghusir kami padahal ini hanya karena kami mengizinkan nona Lei untuk masuk, ini hanya masalah yang sepele” ucapnya yang membuat Dea lebih berwajah yang seram
Kemudia Dea berkata “Aku tidak butuh penghianat yang dengan mudahnya menyerah hanya karena di ancam.. kalau ini di perang kau sudah dianggap menjual tuanmu sendiri.. yang mengakibatkan kekalahan” ucapnya yang membuat pelayan itu terdiam sekaligus membuat Lei Fang’er tersindir
Hukuman yang Dea berikan adalah hukuman yang paling ringan untuk seorang penghianat, Dea kemudian menyuruh Shin dan Yao untuk mengurusnya hanya Mei yang tertinggal
Melihat bahwa orang yang menyebabkan kekacawan masi berada di dalam kamarnya membuat Dea kesal, lalu dia mengarahkan sumpit yang dia gunakan tadi kepada Lei Fang’er
“Kenapa kau masih ada di sini..” tatapan yang dia lakukan tadi kepada kedua pelayan dia lakukan ke Lei Fang’er
“De.. Dea kumohon jauhkan itu dari ku a.. aku ini calon kakak iparmu mu ku kumohon..” ucapnya yang ketakutan karana Dea mengarahkan sumpit itu kepadanya
“Pergi dari sini sebelum aku menghusirmu pergi dari istana ini seperti yang ku lakukan kepada penghianat tadi..” karena ketakutan, Lei Fang’er dan pelayannya pun pergi.. “Sekali lagi kau masuk tanpa izin ku, akan ku husir kau dari istana ini..” dengan tatapan tajam dia melihat Lei Fang’er keluar dari halamannya
Mendengar Dea mengatakan itu membuat Lei Fang’er kesal tetapi dia masih ketakutan dengan tatapan tajan dan dingin Dea tadi, sebenarnya Dea mengeluarkan auranya sehingga Lei Fang’er dan pelayan nya merasa takut
Setelah mereka pergi, Dea menyuruh Mei yang masih di situ untuk menyeleksi pelayan akan melayani nya “Baik putri..” ucap Mei membalas perintah Dea
Setelah semuanya telah pergi Dea langsung melemparkan dirinya di tempat tidur “Menyebalkan..” ucap Dea sambil mengingat kejadian tadi, sebenarnya kejadian tadi membuat Dea mengingat apa yang di lakukan oleh teman-temanya dan kekasihnya di akademi
Itu adalah alasan kenapa Dea sangat membenci kedua penjaga yang mengizinkan Lei Fang’er masuk tadi, itu mengingatkannya kepada kejadian yang membuatnya tidak bisa tidur.. itu hanya masalah yang sepele seperti yang di katakan penjaga tadi, tapi untuknya, itu adalah kesalahan besar
Dea menghabiskan hari hanya dengan membaca buku saja dan tidak melakukan hal yang lain, dan ketika malam datang Dea pun mencoba menutup matanya... di waktu tengah malam Dea pun bermimpi tentang kejadian saat kekasihnya menghianatinya dan dengan tega memilih wanita lain daripada dia yang telah bersama dengannya selama enam tahun
Mimpinya semakin jauh, semua kenangan yang ingin dia lupakan mulai muncul, membuatnya berkeringat dingin, lalu dia pun terbangun dari mimpi buruknya...
“Hah.. hah.. hah.. hkn ah..!!” setelah Dea berteriak perlahan, air matanya jatuh.. dia meringuk sambil memegang kepalanya, setelah menangis beberapa saat perasaannya perlahan membaik kemudian dia melihat Qinnya
Perlahan dia menuju kearahnya kemudian mendentangkan nya, lagu yang di mainkan menggema di seluruh istana semua orang yang masih terjaga bisa mendengar lagu itu membuat yang mendengarnya meneteskan air mata karena kepedihan yang terdengar dari lagu itu
Yanzhi Zhuxiu yang mendengar lagu itu tau bahwa yang memainkannya adalah adiknya Dea, itu karena yang bisa memainkan Qin dengan sangat baik disini hanyalah adiknya seorang, itu karena Qin adalah alat musik yang sangat sulit di mainkan
Mendengar lagu yang di dentangkan membuat Yanzhi mengerutkan alis nya “Sudah kuduga ada yang tidak beres..” ucapnya karena mendengar kepedihan dari lagu yang di bawahkan oleh Dea
Disisi lain Yanxui Ki Hua yang mendengar lagu yang di mainkan oleh kakaknya menjatuhkan air matanya “Kakak... rupanya kakak memaikannya karena tidak bisa tidur” ucapnya menebak “M.. maaf.. apa maksud pangeran, apakah yang memainkan lagu ini adalah yang mulia putri..?” ucap bawahan sekaligus pengawal yang seumuran Yanxui
“Hm tentu saja.. yang bisa memainkan Qin dengan penghayatan seperti ini disini hanyalah kakakku..” ucapnya dengan bangga
“Hah!! T..tunggu yang bergema ini adalah suara dari Qin..?!!” ucap penjaga yang kaget
“Tentu saja bodoh..!! Apakah ada lagi alat musik yang memiliki suara seperti ini” ucap Yanxui yang mengatakan pada bawahannya itu bodoh
“Jadi ini suara dari Qin.. maaf karena saya tidak pernah mendengar suara dari Qin.. tetapi yang mulia putri bisa memainkan Qin yah padahal sedikit orang yang bisa”
“Tentu saja..!! Itu karena kakak ku adalah jenius.. sudah kita harus menyelesaikan perkerjaan ini dulu, kalau tidak selesai kakak Yanzhi akan marah” ucapnya yang memuji kakak perempuannya dan mengejek kakak laki-lakinya..
Setelah selesai memainkan satu lagu Dea berniat melanjutkan tidur lagi tetapi kali ini berbeda dengan sebelumnya
Dia perlahan berjalan perlahan menuju ke meja riasnya, dia membuka lacinya, di dalam laci itu terdapat dua tempat berbeda yang terisi dengan dua pil yang berbeda
Dia mengambil salah satunya mengambilnya sebiji kemudian memasukannya kedalam mulut, lalu dia berbaring di tempat tidurnya, perlahan dia menutup matanya
Kesokkan harinya berita tentang seseorang yang memainkan Qin tersebar keseluruh istana, para pelayan mulai membicarakan dengan heboh “Wah kalau ini tersebar keluar pasti akan heboh..” ucap salah satu pelayan