The Lost Of Power

The Lost Of Power
23. Mencari Kematian 4




Jendral Liang melihat luka yang ada pada putranya parah membuatnya ingin membunuh siapa yang telah melukai anaknya



Begitu dia membalikan kepalanya dia melihat seorang gadis dengan Api pedang biru di belakangnya membuatnya berpikir bahwa dia yang telah melukai anaknya



Melihat kasual yang tampak familiar membuat Jendral Liang ragu, dengan gugup dia bertanya “A.. apa kau yang telah melukai putraku.?”



“Jadi dia adalah putramu..” ucap Lan Xiadea yang bertanya pada Jendral Liang



Jendral Liang memperhatikan dengan jelas rupa Dea lalu merasakan aura yang dia kenal keluar dari Dea, saat dia melihat kalung yang ada di leher Dea, keringat dingin mulai membanjirinya



Pelahan dia mulai merasakan kedinginan di belakang punggungnya, tentu dia tau siapa itu Dea



Melihat ayahnya datang dan membantunya membuat Liang Shuyan senang dan dengan lantangnya di berkata “Haha lihatlah.. ayah ku sudah datang.. apa kau takut..? tapi sudah terlambat”



Kemudian dia mengaduh kepada ayahnya “Ayah dialah yang telah melukai putramu ini.. dia yang menyebabkan aku seperti ini ayah.. ayah tolong tangkap dia.. aku ingin dia di tahan” mendengar  ucapan anaknya yang bodoh dia mengutik dalam hati



“Oh.. kau ingin menguhukumku..?” ucap Dea dengan nada meremahkan dan santai sambil tersenyum ringan, tetapi yang di dengar oleh Jendral Liang itu seperti tiket untuk menuju alam baka



Yanzhi yang menerima pesan dari adik laki-lakinya menjadi panik lalu segera menuju ketempat kejadian



Setelah tiba disana dia ingin segera menghentikan Jendral Liang karena Yanzhi berpikir bahwa Jendral Liang akan menghukum Dea, para warga dan bawahan Jendral Liang serta beberapa Prajutrit iztana yang di bahwa oleh Yanzhi, berpikir sama dengan Yanzhi



“Jendral jangan berani-berani kau menyentunya...” teriak Yanzhi yang ingin menghentikan Jendral Liang tetapi tanpa terduga Jendral Liang malah melakukan yang sebaliknya



Dia berlutut lalu berkata “Ma.. maafkan saya yang tidak mengenali anda dan telah bersikap kasar”



Setelah Jendral Liang mengucapkan perkataan tersebuat, suasana hening seketika “......” bahkan Yanzhi yang tadi berteriak kini diam.... suasana menjadi sunyi bahkan suara jangkrik pun bisa terdengar



Krik.. krik..



Lalu “HAH..!!!!?????...” mereka terkejut.. apa yang mereka pikir bahwa Jendral Liang akan menyerang Dea, ternyata malah berlutut



“Apa.. a aku tidak salah dengar barusan..” ucap salah satu bawahan jendral Liang dan itu juga yang ada di dalam pikiran smua orang



“Je.. Jendral Liang minta maaf..!!!????”



Itu adalah kejadian yang tak terduga, Jendral Liang yang memiliki harga diri yang tinggi bahkan bangsawan kelas atas pun segan terhadapnya, kini bertekuk lutut di depan wanita yang masih muda, terlebih lagi pada orang yang telah melukai putranya sendiri, bagaimana bisa tidak terkejut.?



Bahkan Jendral Liang adalah satu-satunya orang berani berselisih dengan Pangeran mahkota Yanzhi.. hal ini akan membuat gempar seluruh kekaisaran..




Liang Shuyan tidak percaya dengan apa yang di lihat dan di dengarnyaa dan membuatnya mengatakan hal tersebut, tetapi sebelum dia menyelesaikan perkataannya Jendral Liang malam membentaknya



“D.. diam!! Dasar anak bodoh..!!” teriak Jendral Liang memarahi putranya. Liang Shuyan yang melihat ayahnya memarahinya membuatnya kesal, dan katika dia mendengar berkata hormat pada Dea membuatnya lebih kesal lagi



“T tolang maafkan ketidaksopanan yang telah saya lakukan yang Mulia Lan Xiadea” ucap Jendral Liang yang memanggil Dea



Dea terkejut karena Jendral Liang mengetahui namanya, yang mengetahui namanya hanyalah keluarganya dan orang-orang yang ada di akademinya dulu, selain dari itu tidak ada dan seingatnya dia belum berkenalan dengan bangsawan lainnya di Laurenzhi



Itu karena Dea pergi sebelum upacara kedewasaan dan hanya dua kali pulang pada saat liburan pertama dan upacara Kematian Kaisar Laurenzhi ayah Dea, terlebih lagi dia memanggil Dea dengan sebutan ‘Yang Mulia’ dan bukan ‘Putri’



Hal itu membuatnya heran, “Heh.. kau tau diriku..?” ucap Dea dengan nada yang malas sambil memiringkan kepalanya menebak bahwa orang yang ada di depannya ini mengenalnya.. tentu bukan hanya sebatas identitas Putri tetapi identitasnya di tempatnya dulu



“Te.. tentu saja hamba mengenal anda.. ba bagaimana hamba melupakan sosok anda yang menjadi salah satu toko utama dalam..” ucap Jendral Liang yang ingin ‘menjilat’ dea



Tetapi sebelum Jendral  Liang menyelesaikan ucapanya, Dea yang menyadari sesuatu langsung mengerahkan tangannya, hanya dengan sekedip mata Api Pedang Biru telah berada leher dari Jendral Liang



Hanya secenti lagi dan Api itu akan memenggal kepala dari Jendral Liang



Sontak hal itu membuat semua yang ada disana tercengang, Kakak dan adik Dea panik “Dea-Kakak!!” ucap Yanzhi Zhuxiu dan Yanxui Ki Hua secara bersamaan, mereka panik karena kalau sampai Dea membunuh Jendral Liang akan ada masalah yang terjadi



Tetapi berbeda dengan Dea, didalam suasana itu Dea yang telah di kelilingi oleh para bawahan Jendral Liang yang datang mengerumuninya sambil mengacungkan pedang hanya santai dengan kepala yang masih miring menatap Jendral Liang dengan malas dan dingin



Jendral Liang menatap mata Dea dan menyadari apa maksud dari Dea, ancaman yang Dea lakukan adalah tanda bahwa dia harus diam. Melihat para bawahan nya mengacungkan pedang kepada Dea membuat Jendral Liang merasa ketakutan



Itu karena kalau terjadi sesuatu pada Dea itu akan membuatnya hancur, akan ada perang yang terjadi bahkan walau itu hanya goresan kecil pada Dea



“Ka.. kalian..!! Apa yang kalian lakukan..!! Cepat singkirkan pedang kalian..!!” ucap Jendral Liang yang marah pada bawahannya



“T.. tolong ma maafkan ketidksopanan yang telah saya lakukan...” ucap Jendral Liang yang meminta maaf pada Dea, Dea yang melihat Jendral Liang meminta maaf dengan tulus di lihat dari matanya, perlahan menjauh kan Api Pedang Birunya



“Lebih baik, tutup mulut mu.. kau mengerti maksudku kan..??” ucap Dea masih dengan ekspresi yang sama dengan mata yang menatap tajam pada Jendral Liang, “Y.. yah!!” ucap Jendral Liang denga ketakutan



Tidak lupa dengan tujuan awalnya Dea mengarahkan Api Pedang Birunya lagi kepada Liang Shuyan “..Jangan berpikir bahwa ini sudah selesai..?” katanya sambil menatap tajam Liang Shuyan



“Hyi.. A.. ayah t.. tolong aku..” ucap Liang Shuyan meminta tolong pada ayahnya, Jendral Liang yang melihat hal itu dengan gugup bertanya kepada Dea



“Mo.. mohon maaf Yang Mulia, saya mohon maaf kan atas sikap putra hamba.. saya mohon tolong ampunilah dirinya.. s.. saya memang tidak tau apa yang telah terjadi tetapi saya mohon untuk mengampuninya.. s.. saya sendiri yang akan memberikan hukuman pada nya.. Yang Mulia.. karena itu...” ucap Jendral Liang sambil berlutut memohon-mohon