The Lost Of Power

The Lost Of Power
29. Latihan Tanding 5




Setelah itu Dea mengoeskan ibu jarinya yang berdarah ke gulungan, lebih tepatnya di tengah-tengah kertas tertulis dengan mantra, perlahan gulungan itu melayang mengitari Dea lalu bersinar dengan sangt terang



Sekejap pakaian yang di pakai Lan Xiadea berubah menjadi pakaian yang biasanya di pakai untuk latihan berwarna putih, dengan tas kecil mengitari di pinggangnya



Semua orang bergitu terkejut dengan apa yang terjadi, sebagian juga takjub dengan gulungan itu



Dengan senyuman di wajahnya Dea berjalan ke tengah lapangan “Ayo mulai..” semua terpukau dengan kecantikan Dea yang terlihat sangat cocok dengan pakaiannya



Guru tanding Yanzhi Zhuxiu tersadar “Baiklah..” ucapnya, lalu dia menunjuk salah satu prajurut dengan tiangkat kekuatan yang rendah untuk melawan Dea



Melihat tingkat dari prajurit tersebut membuat Dea masam, karena tingkatnya lebih rendah  dari Liang Shuyan dan ayahnya yaitu level 15 “Hah kau menyuruh ku untuk melawanya..” ucap Dea



“Guru kau menyuruh adikku untuk melawannya.. kau..” lalu sebelum Yanzhi melanjutkan pekataanya gurunya memotong



“Iya dia harus melawannya dulu..” saat Yanzhi ingin melawan lagi, Dea menggelangkan kepalanya tanda



Dea tersenyum mengejek kepada prajurut itu “Baiklah.. kau menyuruh ku untuk melawannya.. maka baiklah aku akan melawannya..” ucap Dea



Shin, Yao dan Jendral Su Muyan ingin menentang karena ini seperti penghinaan pada Dea, Dea yang sejak kecil bertarung dengan orang yang berada di level 15 ke atas kini melawan orang dengan level 15.. ini penghinaan



Saat pertandingn di mulai, prajurit yang bertanding dengan Dea berkata “Maaf putri tetapi saya akan serius..” ucapnya, dea yang mendengarnya meremehkan



Lei Fang’er tersenyum karena dia berpikir bahwa Dea akan kalah “Huh.. sungguh tidak tau malu.. sekarang rasakan lah kekalahanmu” pikirnya dalam hati



Prajurit itu kemudian mengeluarkan kekuatanya serta pedangnya untuk melawan Dea, melihat bahwa Dea tidak memiliki senjata, guru Yanzhi bertanya. Mendengar itu Dea kemudian mengambil sesuatu dari tas kecilnya



“Aku akan menggunakan ini..” katanya, lalu semuanya seperti menahan tawa karena melihat sebuah pisau yang kecil, sedikit berbeda dengan pisau yang biasa digunakan oleh sebaguan prajurit



Di saat semua orang tertawa, empat orang Yanxui Ki Hua, Shin, Yao dan Jendral Shuyan bingung melihat Dea mengeluarkan pisau kecil, sedangkan Yanzhi dan gurunya terkejut melihat pisau itu “I.. itu..” ucap mereka berdua



Tentu saja bukan kaget karena melihat pisau yang kecil itu, tetapi karena terkejut mengetahui  bahwa pisau yang di pegang oleh Dea adalah salah satu senjata yang langka



Saat itulah guru Yanzhi sedikit ragu



Lalu tanpa membuang waktu Dea menyuruh untuk memulai pertarungan, prajurit yang menjadi lawannya menjadi waspada



Dea kemudian melempar pisau itu lagi dengan kecepatan yang tidak masuk akal



Semua menjadi sunyi, salah seorang memecah kesunyian “Apa yang baru saja terjadi..”



“Tuan Putri.. Tuan Putri mengalahkan orang itu dalam semenit..”



“Kecepatannya itu tidak masuk akal..” ucap salah satu prajurit di sana



“Iya itu seperti menghilang..” ucap satu yang lain




Mereka tersadar begitu mendengar suara angin yang keras tanpa sadar Dea telah berada di sana, dia mengancungkan pisau itu dari belakang lawannya, itu di lakukan untuk mematahkan gerakan yang di lakukan oleh musuh, bahkan lawannya sendiri tidak menyadarinya



“Kau.. kalah..” ucap Dea yang menyadarkan lawannya



Semua orang mulai bersorak mengagumi dan berbicara “Astaga.. ini bahkan belum ada semenit..” ucap salah seorang



“Benar.. ini masih manusia!! Kenapa dia bisa muncul di sana.. saat aku mengedipkan mata dia menghilang dan muncul di sana..”



“Haha.. benar-benar gila..”



Lei Fang’er tak terima dengan apa yang bearusan terjadi, kemudian dia menuduh Dea bahwa dia telah melakukan kecurangan “I ini.. ini tidak mungkin!!!” ucapnya sambil berteriak “I.. ini..tidak mungkin.. p pasti kau telah melakukan kecurangan.. iya kan..”



Lei Fang’er dengan tergesa-gesa kerena saking tidak percayanya “Bagaimana mungkin kau mengalahkan seprang prajurit hanya dengan sebuah pisau yang sangat kecil.. k kau pasti melakukan tipuan”



Marah kerena kakak perempuannya di tuduh melakukan kecurangan membut Yanxui ingin menjambak rambut wanita itu, tetapi ketika kakak perempuannya membuatnya mengurunkan niatnya, dia merasa Dea sekarang berbahaya



Raut wajahnya berubah menjadi lebih mengerikan ketiak mendengar perkataan yang merusak telinga, dia sedikit tertawa mendengar tuduhan yang di lemparkan padanya



Setelah tertawa sedikit raut wajah nya menjadi dingin kembali, bahkan Yanxui yang memperhatikan kakak perempuannya itu, merinding. Yah tentu saja dia merinding, itu karena aura yang ada pada Dea



Saat ini Dea tengah menahan auranya dengan sekuat tenaga agar tidak lepas, dia menahan amarahnya



Dea yang sudah tak tahan dengan Lei Fang’er yang terus-menerus mengoceh tentang kecurangan yang di buatnya, dengan cepat melemparkan pisau khusus yang di pegangnya, sekejap pisau itu lewat, menggores pipi kanan Lei Fang’er dan menancap di tembok belakannya sampai hancur



Semuanya sadar saat melihat pisau itu menancap dan merusak tembok, Lei Fang’er dan mereka memalingkan wajah mereka menghadap Dea, dengan tangan yang masih di posis melempar pisau aura menakutkan memancar darinya. Itu tanda bahwa Dea lah yang melemparnya



Mereka bahkan melihat seperti ada malaikat maut di belakannya



“Bukankah sudah ku bilang untuk diam..” katanya, perlahan Lei Fang’er tersungkur ke bawah karena ketakutan, pisau itu menggores pipi kanan nya perlahan darahnya menetes, bahkan ada beberapa helai rambut yang terpotong oleh pisau itu



Dea perhalan menuju tempat duduknya, para pelayan ketakutan dengan apa yang Dea lakukan, memilih untuk menghindari Dea dan yah tentu saja kecuali Shin dan Yao



Shin kemudian memberukan air untuk Dea minum setelah mengetahui maksudnya



Setelah dia menghabiskan minumannya dia menuju lagi ke halaman tengah, bosen dengan peraturan yang dibuat oleh guru tarung kakaknya, dia menunjuk sepuluh prajurit yang kemampuannya terbaik di antara-prajurit lainnya lalu memulai latihan yang ke dua



Mungkin kini tak ada seorangpun yang mengetahi bahwa ada seseorang yang tengah melihat mereka dari atas pohon, dia menutupi hawanya agar tak ada seorang pun dapat merasakannya bahkan seranggapun tidak bisa walau pun sudah di depan mata



Dia melihat pertarungan dengan senyuman di wajahnya yang tertutup dengan cadar tipis



Dea melanjutkan latihannya, ke sepuluh prajurit itu menyerang Dea besama-sama, namun lagi-lagi Dea menghindari semua serangan dengan lincah dan hanya bantuan dari pisau kecil miliknya tetapi dengan jumlah banyak