
Dengan senyuman yang ada di wajahnya Yanzhi berkata “Dea.. kau datang!” Dea melangkah kedepan untuk menghampiri Yanzhi karena tadi terhalang oleh Lei Fang’er
Sekarang para prajurit melihat kecantikan dewi yang tidak ada duanya.. cadar tipis yang ada di wajahnya membuatnya terlihat lebih anggun, mereka bergitu terpesona melihat kecantikan Lan Xiadea, bahkan bawahan yang tadi masuk ke ruangan Dea juga terpersona
Sebenarnya tadi dia tidak bergitu memperhatikan dengan jelas sepertia apa wajah dari sang putri karena perintah Yanzhi Zhuxiu yang mengancam agar dia menjaga matanya, karena masih sayang dengan mata dan hidupnya mereka mendengarkan Yanzhi
Sekarang jika dia melihat dengan jelas seperti apa rupa Dea tanpa cadar, akan pingsan di tempat, para prajurit pun sama
Lei Fang’er yang melihat itu menjadi masam, dia mengutuk Dea di dalam hatinya
Dia kesal karana Dea telah merebut hati para prajurit “Heh apanya yang cantik.. bukankah aku lebih cantik.. dia memakai cadar untuk menitupi wajahnya yang jelek itu.. huh mata mereka pastilah rabun..”
Yanxui Ki Hua yang tengah berada di tengah lapangan, mendengar kakak laki-lakinya menyebutkan nama kakak perempuannya, dia menjadi senang, dengan cepat dia meninggalkan orang yang menjadi latihan tarungnya dan menghampiri Dea
“Kakak kau datang untuk melihat ku latihan..?” ucap Yanxui, lalu dia memeluk Dea dengan erat. Melihat adik laki-lakinya memeluk adik peremuan kesayangannya membuat Yanzhi sedikit cemburu karena dia tidak bisa melakukan hal itu, jika dia melakukan itu mereka akan tau bahwa dia sebenarnya seorang siscon
Yanxui melakukan itu tidak masalah karena secara teknis dia masih di bawah umur, wajar jika memeluk kakak perempuannya
Kemudian Yanzhi menarik adik laki-lakinya agar dia melepaskan pelukannya kemudian mereka berdua bertengkar denga mengunakan tatapan mereka “Jangan memeluknya..” kata Yanzhi
Yanxui langsung memasang wajah masamnya, Dea menghembuskan nafasnya lalu berkata “Heh.. aku kesini hanya ingin meliht-lihat saja jadi lanjutkan latihannya..” setelah mengatakan hal itu, secara ajaib kedua saudaranya yang tadi sedang perang dingin menjadi diam, mereka yang ada disana setelah melihat hal itu menjadi takjub
Salah seorang di sana terus menerus menatap Dea dengan tatapan menyelidiki, setelah menyadarinya dia berkata “Ini.. apakah ini putri Dea..?” ucapnya penuh tanya
Tiga bersaudara itu menatap kearah suara tadi, “Hah.. ternyata benar Yang mulia Dea.. ternyata putri.. saya hampir tidak mengenali anda karena banyak perubahan..”
“Hm.. oh ini.. Komandan devisi tiga, Su Muyan..” ucap Dea yang mengingat ternyaa adalah salah satu orang lama di istana
“Putri ternyata masih mengingat saya.. sekarang saya adalah Jendral di bawah pimpinan pasukan Khusus yang mulia Pangeran Yanzhi..” ucap Su Muyan dengan akrab sambil tersajung sedikit
Dia memerintahkan bawahannnya untuuk mengambilkan kursi khusus untuk Dea dan tambahan untuk Lei Fang’er. Saat Jendral Su Muyan mengatakan bahwa Lei Fang’er adalah tambahan, dia merasa malu
Setelah beberapa saat mereka melanjutkan latihan mereka. Saat ini kedua saudaranya sadang latihan tanding dengan guru tanding mereka untuk menguju kekuatan, Lei Fang’er terpesona akan ketampanan Yanzhi saat dia tengah bertarung
Begitu pula dengan para pelayan, mereka berteriak histeris melihat kedua pangeran yang terlihat sangat seksi saat tengah fokus bertarung
Dea menyaksikan dengan seksama, lalu mulai mengingat masa saat dia berlatih tanding dengan salah satu temannya di akademi XY, tak lama senyum muncul di wajah Dea
Yang ada di sana terkejut kecuali Jendral Su Muyan, Yao, Shin, Yanxui dan Yanzhi, mereka tidak terkejut karena itu sudah menjadi kebiasaan, jangankan melarang mereka seperti membayangkan masa lalu saja
“Baiklah.. hentikan aku akan berlatih dengan adikku..” ucap Yanzhi pada guru tangdingnya
Guru tanding Yanzhi menjadi masam “Tetapi yang mulia putri hanyalah seorang wanita tidak pantas bagi Yang mulia untuk ertanding melawannya. Bagaimana kalau beliau terluka..” ucapnya
“Tidak apa-apa.. tenang saja adikku itu sangat kuat, dia tidak akan terluka..” ucap Yanzhi
Merasa tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Yanzhi dia akhirnya menyutujuinya bahwa Dea harus melawan salah satu prajurit dulu, lalu melawannya, setelah itu melawan Yanzhi
Yanzhi menengok ke arah Dea, Dea pun mengangguk. Sebenarnya jarak antara Yanzhi dan gurunya dengan Dea sangatlah jauh, jadi tidak memungkinkan Dea untuk mendengar ucapan mereka, tetapi Yanzhi percaya bahwa Dea dapat mendengarnya
Yanzhi dan guru tandingnya mendekat, dia memberitauhkan kapada Dea syarat nya “Hm.. boleh..” ucap Dea yang menyutujuinya tanpa masalah. Semua orang yang ada di sama memilik pikiran yang sama dengan Lei Fang’er
“Hah..! dasar gadis bodoh dia ingin menantang Pangeran hanya dengan sedikit kekuatan.. dasar bodoh..” ucap Lei Fang’er dalam hati
“Heh.. kakak akan mulai latihan.. ini akan seru..hihi..” guman Yanxui yang masih bisa di dengar oleh bawahannya Li Ruan, Li Ruan Yang mendengarnya pun bingung “Mengapa ini menjadi seru.. bukannya purti akan terluka..?” pikirnya
Guru tanding Yanzhi yang melihat pakaian yang di pakai oleh Dea dia mengerutkan dahinya, “Jangan bilang bahwa Putri akan berlatih dengan baju seperti ini” ucapnya dengan nada todak senang
Kemudian Shin menyadarinya dia lalu pamit untuk menyiapkan baju Dea. Dea yang menyadarinya menahan Shin “Tidak perlu. Shin, tolong ambilkan gulung warna merah dengan tali hitam di rak kedua..” ucapnya Dea tenang
Dengan bingung Shin segera menaksanakan perintah Dea
Meraka yang mendengarnya bingung “Bukankah kau harus berganti pakaian..? Kenapa malah mengambil gulungan Dea..? Apa hubungannya..?” ucap Lei Fang’er mendahului mereka
Mendengar ocehannya Dea kesal, lalu dengan menatap dingin dan tajam berkata “Berisik! Diam!” mereka pun tidak ada yang berani bertanya
Kemudian sambil mengunggu beberapa orang berlatih sendiri, yang ada di samping Dea hanya Lei Fang’er dan beberapa pelayan seperti menjaga jarak
Tak lama kemudian Shin datang dengan membawa gulung yang di maksud oleh Dea “Putri apakah yang ini..” Dea kemudian menganggukkan kepala dan mengambil gulungan itu
Gulungan itu begitu asing dimata mereka semua, di sana juga ada gulungn tetapi tidak seperti milik Dea. Tentu saja berbeda, itu karena gulungan itu bukanlah gulungan biasa
Dea membuka gulungan itu, yang terdapa di sana seperti mantra kuno yang mengeliling, lalu menggigit ibu jarinya sampai berdarah, Yanzhi terkejut dengan apa hal yang di lakukan oleh adik kesayangannya “Dea!” teriaknya