
Lan Xiadea saat ini memiliki suasana hati yang buruk..
Jika mereka memancing amarahnya, mungkin akan ada masalah yang serius..
Di saat semua orang terus saja berbicara omong kosong, datang sebuah pedang datang melesat, targetnya sudah pasti Dea..
Orang-orang tidak sadar.. Dea menghindarinya dengan sempurna dan menangkapnya pada pegangan.. saat orang-orang melihat itu mereka berteriak histeris, karena terkejut
Orang yang ingin mendekati Dea tadi terjungkir balik dari tempat duduknya..
Dea tidak peduli dengan apa yang terjadi dengan mereka, dia hanya menatap terus pada pedang yang kini ada di tangannya, dengan acuh tak acuh, kemudian suara teriakan datang..
Mudah untuk menebak asal suara itu dan asal pedang ini.. ini sudah pasti uah Chan Bai Rin.. Chan Bai Rin datang dengan teriakan memanggil Dea
“Jalang! \*\*\*\*\*\* keluar kau!!” teriak Chan Bai Rin.. dia sepertinya membawa seseorang di belakangnya.. itu adalah Mu Zhinghai dan juga seorang wanita serta beberapa orang pengikut
Setelah mencari dengan beberapa teriakkan, Chan Bai Rin menemukan Dea yang saat ini masih hayut dalam pikirannya.. Dea tersadar dengan teriakan Chan Bai Rin yang memanggil dirinya \*\*\*\*\*\*
“Putri.. itu dia.. dia yang mempermalukanku dan membuatku mendapat luka seperi ini..” ucapnya yang di sertai dengan air mata buaya..
Mereka begitu terkejut dengan wanita yang di bawah mereka.. itu adalah Putri Hu Wen.. putri yang di kabarkan akan menjadi calon putri mahkota dari pangeran Yanzhi Zhuxiu, kakak Dea
Mereka tau seperti apa kekuatan yang di miliki oleh pangeran yang dingin itu.. karena itu mereka yang awalnya ingin mendekati Dea, memilih untuk mundur perlahan.. mereka tidak ingin kena imbas
Shua Yunru Xi dan Zhao Yinxu yang melihat mereka perlahan mundur, mengertakan gigi, geram.. tadi mereka mendekat dan mulai menjilat, sekarang malah menjauh, pikir keduanya..
Mereka mulai khawatir dengan Dea ketika melihat kalau Chan Bai Rin membawah Hu Wen.. mereka melupakan hal ini, bahwa Chan Bai Rin memiliki pendukung seperti Putri Hu Wen..
Mereka melirik kearah Dea.. betapa terkejutnya mereka ketika melihat Dea yang masih tenang-tenang saja berhadapan dengan Putri Hu Wen.. apakah dia tidak tau bahwa dia adalah calon putri mahkota kerajaan Laurenzhi.. memikirkan sampai di sini mereka teringat sesuatu
Mereka lupa dengan pendukung Chan Bai Rin, tapi mereka juga melupakan identitas Dea.. mereka sudah sering bersama dengan Dea sampai melupakan siapa dia sebenarnya....
Chan Bai Rin datang dengan air mata buayanya.. dia berpura-pura menyedihkan membuat Mu Zhinghai dan wanita yang di bawahnya merasa kasihan
Melihat Chan Bai Rin yang menyedihkan Mu Zhinghai juga berkata “Yah putri Hu Wen.. dia yang membuat Bai Rin terluka..”
Putri yang bernama Hu Wen itu juga melihat kearah Dea “Oh.. jadi kau yang menyerang Bai Rin dan sengaja mempermainkannya” ucapnya dengan penuh nada yang arogan
Dia melihat Dea di jauhi oleh beberapa orang yang mendekatinya tadi, Hu Wen tersenyum smrik.. dia menangguk puas dan berkata “Kalian tau diri juga rupanya..” ucapnya
Chan Bai Rin memiliki goresan luka di pipinya akibat hal itu.. padahal goresan yang sebelumnya belumlah hilang, tapi kini di pipi sebelahnya juga ada
Pedang yang tadi di arahkan pada Dea, di lempar kembali oleh Dea.. ini jelas membuat mata semua orang terbelak terkejut.. tidak ada yang menyangkahnya.. di saat Hu Wen berbicara ada orang dengan beraninya melempar pedang
Bagi sisi Hu Wen dan Chan Bai Rin, mereka tak kalah terkjut juga, melihat pedang yang mereka lemparkan tadi di lemparkan kembali.. tentu saja ini membuat mereka terkejut
“A.. apa yang..” ucap Hu Wen yang masih terkejut
“Aku hanya mengembalikan apa yang kalian beri..” ucap Dea dengan tatapan acuh tak acuh, ini membuat mereka terbelak.. mereka ingin berkata lebih tapi Dea di potong Dea
Apa yang mereka dengar membuat mereka sedikit merinding, karena Dea merubah nda suaranya dengan sangat cepat dan penuh penekanan “Hah.. sungguh hari yang buruk..” ucapnya.. tadi mereka mendengar nada suara yang tidak peduli dan terdengar cukup santai
Tapi saat dia berucap lagi nada suaranya berubah.. ini sedikit menekan.. bahkan mereka merasa sedikit takut mendengarnya, bahkan bagi Shua Yunru Xu dan Zhao Yinxu
Itu karena mereka tidak pernah melihat Dea yang seperti sekarang ini... ini adalah yang pertama kalinya
Dea merunduk sebentar menyembunyikan wajahnya dan mengeluh, kata makian dan terdengar barbar bisa di dengan mereka.. ini adalah kata-kata yang biasanya di ucapkan oleh pria yang kasar, ini pertama kalinya mereka mendengar hal seperti itu dari mulut seorang wanita
Dea kemudian mengangkat kepalanya, tatapannya berubah menjadi tajam, dengan sedikit itimidasi, membuat orang yang ada di belakang Chan Bai Rin dan Hu Wen merinding. “Chan Bai Rin, apa kau ingin mati sekarang...”
Pertanyaan yang membuat semua orang merinding.. mereka semua ketakutan dengan kalimat yang cukup pendek itu
Nada suaranya tidak berubah tapi tidak ada yang tau bahwa Dea saat ini tengah setengah mati menahan amarahnya agar tidak meledak.. matanya menampakan itu semua..
Inilah Dea, ketika dia menjadi marah, akan lebih tenang dirinya, tidak seperti orang lain yang akan meledak, contohnya Chan Bai Rin.. “Sial.. sudah berapa kali kau mencari masalah dengan ku, dan sekarang kau membawa beberapa orang yang tidak berguna untuk melawanku..” nada suara yang meremehkan dan penuh penekanan serta pandangan mata yang tajam
Walau pun memakai cadar, mereka bisa merasakannya dari mata dan nada suaranya.. ada penghinaan di sana.. mereka yang ada di sana, melihat mata Dea, mereka dapat merasakan bahwa kematian mereka akan datang jika bersuara sedikit saja
“Apa yang sedang terjadi di sini!!” suara teriakan seseorang membuat suasana mencair.. itu adalah Xu Hei Fuyan dan juga Luo Hong San yang datang dengan nafas terengah-engah.. mereka datang kemari saat mendengar adanya keramaian di kantin
Awalnya mereka tidak tertarik dengan hal itu tapi saat mendengar bahwa yang terlibat adalah Dea, keduanya segera berlari dengan cepat
Suasana mencair berkat teriakan mereka.. mereka sepenuhnya melupakan rasa takut karena melihat kedua insan yang rupawan itu.. Chan Bai Rin menjadi pulih dengan hal itu, mendekat kearah keduanya, berkata dengan derai air mata.. “Pangeran..”
***Note : Hai semuanya... terimakasih karena telah membaca.. jangan lupa tinggalkan jejak ya***..
***Faforit***...
***Comment and Like***