The Lost Of Power

The Lost Of Power
189. Misi Berbayaha (5)




Mereka tidak bisa seperti ini selamanya. Perlahan kecepatan menghidar itu akan menurun, sedangkan momentum katak api itu akan terus menajam karena mereka memiliki energi cadangan yang besar.



Ada yang mengatakan bahwa hewan lebih dekat kepada alam daripada manusia, mereka lebih peduli dengan lingkungan daripada manusia, dan alam pun, lebih mencintai hewan daripada manusia.



Lan Xiadea memperhatikan sekitarnya dengan cermat, berusaha mencari cela, mencari lokasi yang aman, sebuah garis batas katak api.



Setiap batas area, mempunyai sebuah garis batas, titik buta katak itu. Dia memperhatikan segalanya dengan cepat, dia juga melihat posisi masing-masing dari yang lainnya, dia mulai merapalkan mantra.



Wei Ran adalah yang paling susah untuk bergerak dari semuanya, saat itu, lidah kasar si katak, menggores tubuhnya, darah segar mulai bercucuran. Serangan itu membuat rotasinya hancur.



Katak itu memiliki kesempatan untuk menyerangya. Wei Ran tidak bisa bereaksi tepat waktu karena serangan yang dengan cepat menyambarnya, tapi sedetik kemudian dia selamat dari itu.



Serangan katak, sekarang hanya berfokus pada Wei Ran membuat usaha Dea menjadi lebih mudah.



Dea merapalkan mantranya “Elemen Angin, Pisau!” Dea menyerangnya dengan sadis, tapi itu masih tidak bisa merobohkan katak itu karena Dea menahan serangannya karena mereka masih berada di dalam gua. Dia takut, jika berlebihan dalam menyerang, gua ini akan runtuh.



Tapi Wei Ran tidak berpikir demikian. Semua orang yang di sana cukup terkejut dengan reaksi cepat dari Dea karena berhasil mengeluarkan serangan.



Wei Ran tidak terima dengan apa yang di lakukannya, karena serangan Dea, melukai dirinya, membuat wajahnya yang berharga, tergores. “Apa yang kau..!!” Dia berpikir bahwa Dea sengaja melakukannya.



Dea mengabaikannya “Xiao’ru! Pergi kesamping! Yanxui! Serang sisi sebelahnya! Hu Zhong Qi! Serang sisi belakang! Dan kau! Buat penglihan!” dia berbicara pada Jing Ze untuk yang terakhir. Dea sengaja mengabaikan Wei Ran karena dia saat ini, cukup merepotkan.



Mendengar apa yang di perintahkan Dea, mereka semua berkata “Baik!”



Mereka semua melaksanakan perintah Dea. Hu Zhong Qi dan Jing Ze tersadar, mereka tanpa sadar mengikuti perintah Dea tanpa mengeluh. Ini aneh menurut mereka, tapi mereka mengesampingkan hal itu karena apa yang ada di depan mereka saat ini lebih penting.



Mereka semua melakukan aksi mereka. Xiao’ru sempat memperhatikan Wei Ran, “Apa yang kau lakukan? Pergi bantu Jing Ze mengalihkan perhatian!” dia jengkel dengan Wei Ran yang hanya diam saja dengan raut wajah yang buruk. Dengan itu Xiao’ru pergi, dia meninggalkan Wei Ran yang tercengang.



Dea melihat kerja semua orang dan melihat adanya celah, dia juga ikut bertarung dan menyiapkan serangan yang lebih besar lagi “Semuanya minggir!” dengan cepat semua orang segera menyingkir dari sana. “Elemen Angin. Sayatan pisau!”



Serangan cepat yang bagai badai pisau itu, mengiris tubuh katak itu, bahkan sampai mengeluarkan darah, sekejap bau darah yang segar tercium dari sana.



Semua orang berhenti pada tempatnya, melihat kedepan pada katak api itu, memperhatikan situasi, mereka terkejut dengan serangan kuat yang Dea buat. Itu sangat-sangat cepat, merea berpikir kalau mereka yang terkena serangan itu, juga tidak akan selamat. Perhatian mereka teralihkan, mereka melihat apakah serangan itu berhasil membuat katak api yang besar tumbang atau tidak.



Hu Zhong Qi yang pertama menjadi tenang, dia melihat Dea dengan senangnya “Wah! Kau sangat kuat Dea. serangan tadi sangat hebat, sekarang saja itu masih menyayat katak itu...”




Hu Zhong Qi menjadi bingung dengan maksudnya, dia berpikir sebentar dan menjadi sedikit kesal “Tunggu.. apa maksudmu...” Hu Zhong Qi belum menyelesaikan perkataannya dan sebuah serangan angin menerjang mereka.



Katak api itu mengerasakan tubuhnya dan meraung dengan ganas. Badai pisau yang menyayat tubuhnya, hancur, serangan berbalik menyerang Dea dan lainnya.



Secara otomatis mereka semua menutup matanya. Dea yang merasa ini berbahaya, dia menerjang ke depan mereka dan mengjentikan tangannya “Cube..” sebuah perisai muncul di depan mereka semua, menghadap serangan yang berbalik itu.



Serangan yang Dea lakukan sangat kuat, bahkan saat di kembalikan pun itu masih berputar di depan mereka. Tapi hanya Dea yang tau akan hal itu karena mereka semua mutup mata mereka, saat mereka membuk mata, hanya sisa-sisa angin kecil yang terasa



Mereka takkjub dengan apa yang mereka lihat di depan mata mereka sekarang ini. Sebuah garis kekuatan yang kelihatannya tipis.



Pada saat itu juga, lidah dari katak itu menyerang mereka dengan kejamnya. Biasanya dinding energi biasa akan hancur dalam sekali serang, tapi dinding energi Dea mampu menahan kekuatan yang sangat besar besar itu.



Mereka yang ada di belakang menatapa takjub pada wanita cantik yang ada di depan mereka, bahkan untuk Wei Ran sekalipun, tapi pandangan kekagumannya pada Dea hanya bertahan beberapa detik saja sebelum kembali menjadi rasa kebencian yang dalam.



“Apa ini?! Serangan yang lakukan malah berbalik melawan kita! Apa sekarang kau sedang mencoba untuk mencelakai kami yang ada di sini?!” ucap Wei Ran.



Xiao’ru tidak tahan dengan penghinaan itu “Diam! Apa yang kau katakan barusan, hah?! Mencoba mencelakai? Setidaknya serangan yang di lakukan putri berhasil melukainya dan memberi kita kesempatan untuk dapat keluar dari rotasi itu!!”



Pandangan Wei Ran menjadi tajam “Apa? Kau akan membelanya lagi?”



“Membela? Apa yang kau maksudkan?! Semua yang kukatakan adalah benar adanya!!” kemarahan Xiao’ru menjadi lebih besar. Mereka berdua berdebat dengan hebat.



Jujur Wei Ran takut dengan bentakan Xiao’ru, ini pertama kalinya dia di bentak oleh Xiao’ru, tapi egonya lebih tinggi “Lalu apa? Serangan itu gagal dan malah menyerang balik bukan?” dia tidak mau mengalah.



Xiao’ru sendiri tidak mau mengalah. “Setidaknya, itu lebih baik daripada seseorang yang hanya diam saja membatu di tempat tanpa melakukan apa-apa! Hanya menjadi penghambat saja..” Rasa kesalnya pada Wei Ran sudah tertumpuk.



Wei Ran yang mendengarnya, menjadi sangat marah. Seperti kata orang, marah saat di tuduh, berarti benar adanya.



Yanxui Ki Hua, Hu Zhong Qi dan Jing Ze menjadi kesal dengan dua perempuan itu, mereka ingin mengingatkan keduanya, tapi di dahului. Dea sangat jengkel dengan dua orang yang bertengkar di belakangnya, sementara dia dengan sekuat tenaga menahan serangan katak itu dengan dinding energi sambil mencari sebuah celah.



***Note : Hai semuanya... terimakasih karena telah membaca dan juga mohon maaf atas ketidaknyamanannya jika Thor ada salah-salah kata***..


***Jangan lupa tinggalkan jejak ya***..


***Faforit***...


***Comment and Like***