The Lost Of Power

The Lost Of Power
147. ‘Kalian ingin Mati rupanya’




Keduanya malah tidak memperdulikan Chan Bai Rin.. Xu Hei Fuyan yang melihat bahwa Hu Wen ada di sana, dia menjadi khawatir dan mendekat pada Lan Xiadea dan berkata “Kau tidak apa?” sembari melihat sekujur tubuh Dea



Dea malah menghempas tangan yang mau menyetuhnya dan menatap dingin keduanya



Chan Bai Rin yang tidak terima dengan hal itu menggertakan giginya dan berkata dengan geramnya “Berani sekali kau mengempas tangan pangeran.. pangeran lihatlah betapa tidak tau dirinya dia di saat anda menkhawatirkan dirinya” ucap Hu Wen



Dengan itu dia menatap Dea dengan pandangan penghinaan.. “Hanya seorang rakyat biasa sepertinya, bersikap angkuh di depan seorang putra raja..” ucapnya yang sepertinya sudah lupa dengan rasa takut yang di dapatnya dari tatapan tajam Dea



Xu Hei Fuyan terkejut dengan apa yang di dengarnya dengan itu dia berteriak “Diam!!” ekspresinya berbeda dengan saat dia menatap Dea..



Orang-orang pertama kali melihat Xu Hei Fuyan yang begitu lembut biasanya, menjadi marah seperti ini.. Hu Wen



Chan Bai Rin yang mendengar itu tersenyum smrik “Benar.. itu memanglah pantas untuk seorang putri dari seorang penjahat..” ucapnya yang membuat orang menjadi riuh karenannya



“Putri penjahat..” Luo Hong San berbalik dan memperhatikan Dea tatapan bingung, dia sudah meprediksi siapa Dea sebenarnya.. dengan gayanya seperti itu, tentu saja tidak termasuk dalam kasta rendahan..



Tapi ‘Putri Penjaha’....  sama seperti yang lain.. Luo Hong San juga mulai meragukan Dea.. tapi di dalam lubuk hatinya dia tidak peduli dengan siapa Dea.. jika dia adalah putri dari seorang penjahat sekali pun, perasaannya tidak akan berubah



Mungkin ini efek karena sudah jatuh hati pada Dea..



Mereka mulai berbisik-bisik tentang Dea “Putri penjahat..” ini membua Chan Bai Rin tersenyum menang



Sedangkan Xu Hei Fuyan, adalah yang berbeda dari mereka semua.. dia jelas tau siapa Dea sebenarnya, dia ingin menentang apa yang ada di pikiran mereka semua.. entah ekspresi sedih seperti apa yang ada di wajah Dea saat ini



Dengan itu dia berbalik dan melihat Dea, tapi apa.. Dea hanya menatap tajam padanya, sebelum berjalan melewatinya, Dea memberikan tatapan dingin “Jangan ikut campur” katanya



Dea berjalan mendekati Chan Bai Rin, membuat Chan Bai Rin merasa tidak enak, takut, dan memilih untuk bersembunyi di belakang Hu Wen dan Mu Zhinghai



Mu Zinghai dengan sigap, melindungi Chan Bai Rin di belakangnya dan menatap Dea lurus kedepan dengan berani.. Hu Wen juga dengan angkuhnya melihat kearah Dea, dengan tatapan permusuhan, tapi tetap saja dia masih saja takut



“Jangan mendekat lagi... apa kau tau kalau sehelai rambutku jatuh, bukan hanya kerajaan Pamanku, kerajaan Aun saja yang akan marah, bahkan kerajaan Laurenzhi juga akan ikut campur”



Ini membuat Dea berhenti di jalurnya.. dia memiliki tanda tanya di dalam kepalanya.. Hu Wen yang melihat itu tersenyum dengan bangga walau sedikit takut “Kenapa, kau takut.. jadi sebaliknya kau berhenti dan minta maaflah pada Chan Bai Rin.. jika tidak, aku akan meminta adik iparku, tuan Putri Laurenzhi untuk memusnahkanmu..”



Dea terkejut dengan apa yang di dengarnya.. kenapa dia harus memusnahkan dirinya sendiri? Apakah ada yang salah dengan otak Putri di depannya ini..



Sama seperti Dea, yang lainnya juga terkejut.. kenapa harus putri Laurenzhi, bukankah akan lebih efektif jika meminta langsung pada putra mahkota.. tapi mereka mengingat, bahwa tuan Putri Laurenzhi adalah yang kesayangan dari putra mahkota dan pengeran kedua



Chan Bai Rin yang terkejut, bersuara “Wah, putri, rupanya kau sudah mendapa hati putri Laurezhi?” tanyanya dengan penuh pujian, tapi di dalam hatinya, dia sangat cemburu




Shua Yunru Xi dan Zhao Yinxu yang mendengar hal itu, menurunkan kesannya terhadap Hu Wen.. menurut mereka Hu Wen adalah panutan semua tuan putri di benua timur ini, tapi melihat ini kesan mereka menjadi hancur.. itu karena mereka tau kebohongan yang di ucapkannya



Begitu pula juga dengan Xu Hei Fuyan.. dia merasa bahwa Hu Wen ini sudah terlalu jauh bermimpi.. jika dia sangat akrab dengan putri Laurenzhi, kenapa dia tidak mengenali Dea saat itu..,



Memikirkan Dea, dia teringat dengan temperamennya dan melihat kearahnya.. suara tawa menyambutnya.. dia tidak mengerti mengapa Dea tertawa bukannya marah karena Hu Wen sudah berbohong.. tapi dia terkejut saat melihat sorot matanya



Dea yang sedari tadi diam dan memperhatikan apa yang di katakan oleh Hu Wen kini melepas suara tawa yang terdengar mengerikan bagi yang mendengarnya.. seketika rasa takut mereka yang tadinya sudah hilang, kini kembali dengan getaran yang lebih besar



“Selama ini aku sudah terlalu banyak diam rupanya, sampai tersebar rumor yang penuh omong kosong..” dengan itu dia melihat kearah Chan Bai Rin yang kini bersembunyi di belakang Mu Zhinghai dan Hu Wen secara bergantian



Mereka tidak tau apa maksud dari tawa dan perkataannya..



Tatapannya sangat tajam sampai membuat semua orang merinding.. dalam perkataanya tapi terhadap Chan Bai Rin ada tawa di sana, tapi menghilang dengan cepat dan berubah menjadi tatapan mematikan



Katanya dengan senyum mengerikan “Kalian ingin mati rupanya..” dengan itu kekesalan Hu Wen meledak.. 



Dia mendadak menyerang Dea bersama dengan Mu Zinghai dan Mu Fu Lei..



Dea terdorong cukup jauh dari tempat itu, dan pertarungan mereka menyebar ke halaman utama sekte



\---------


Di sisi Yanzhi.. Yanzhi Zhuxiu sedang berlatih di tempat latihan khususnya.., ada seorang pria lagi bersamanya dan  juga Xiao’ru di sana.. sedang memperhatikan Yanzhi..



Pria itu menjadi bosan karena melihat Yanzhi yang sepertinya tidak ada niat untuk berhenti.. dengan itu dia mengajak Xiao’ru keluar bersama dengannya untuk melepas kebosanan



“Xiao’ru, ayo kita pergi keluar sebentar, rasanya aku akan menjadi tua dalam sekejap jika berada di sini terus-menerus” katanya sambil menguap..



Xiao’ru yang melihatnya menguap, segera menendangnya.. pria yang di tendang itu, melihat kearah Xiao’ru “Kenapa menendangku?” tanyanya



Tapi Xiao’ru malah menjawabnya dengan dingin “Jangan menguap seperti itu.. tidak sopan” ucap Xiao’ru yang melangkah keluar



Pria itu mengendus kesal, dan mengikuti Xiao’ru keluar “Apanya yang tidak sopan.. bukankah itu hal yang biasa?”



“Tentu saja itu tidak sopan.. kau ini seorang pangeran, tapi malah bersikap seperti bukan pangeran” ucapnya dengan nada yang masih saja dingin



***Note : Hai semuanya... terimakasih karena telah membaca.. jangan lupa tinggalkan jejak ya***..


***Faforit***...


***Comment and Like***