
Mereka tidak tau bahwa aura itu berasal dari Lan Xiadea, mereka berpikir bahwa aura itu dari senior dengan kekuatan yang luar biasa
Beserta Lei Fang’er dan para pelayan yang ada di dapur pun meresakan aura mematukan itu, tetapi yang paling menderita adalah para pelayan dan prajurit yang ada di dekat Dea
Berbeda dengan para mentri yang masih tinggal di istana, mereka mengetahui aura siapa itu karena mereka adalah orang yang sering mengunjungi Dea diwaktu Dea masih berada di akademi lamanya
“Siapa yang sedang mencari mati dengan sendirinya itu, apa dia adalah orang yang tidak takut mati sehingga dia mencari masalah dengan Putri...” itu yang ada di dalam pikiran mereka saar ini
Mereka dapat mengenali aura yang Dea pancarkan karena saat mereka mengunjugi dea ada insiden yang terjadi sehingga Dea mengeluarkan aura yang sama seperti tadi
Sesampainya Dea dan adiknya di ruang makan mambuat para pelayan yang sedang melayani ibu dan kakak Dea terkejut karana pangeran kedua datang ke ruang makan
Ratu dan Yanzhi Zhuxiu mereka tidak heran karena yang memanggil Yanxui Ki Hua adalah Dea, itu karena sejak dulu yang bisa membujuk Yanxui hanyalah Dea
Di dalam dapur setelah tekanan aura tersebut lenyap, Lei Fang’er dan para pelayan yang lain mulai menyiapkan makanan tetapi yang ada di pikiran Lei Fang’er lain
Lei Fang’er adalah orang yang paling terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Dea untuk menjemput Yanxui, tetapi dia juga senang, berpikir bahwa pangeran kedua akan marah padanya
Sejujurnya Lei Fang’er memiliki pemikiran yang kolot layaknya bangsawan lainnya yaitu pikiran bahwa derajat wanita ada di bawah sedangkan pria di atas
Apalagi dia masih berpikir bahwa Dea adalah adik angkat Yanzhi, yang artinya bahwa Dea adalah manusia rendahan jadi dia berpikir bahwa pangeran ke dua akan marah akibat perbuatan Dea
Dia hanya tersenyum senyum seperti orang gila di dapur, para pelayan yang melihat nya berpikir bahwa dia itu sudah gila karana berpikir akan mendapatkan pujian dari Yanzhi.. hehe dasar wanita halu!!
Di ruang makan setelah meraka sampai Dea duduk di sebelah ratu di depan kakaknya sedangkan Yanxui adiknya duduk di sebelah kakak laki-lakinya Yanzhi, dia kesal karana peraturan makannya dia harus duduk berjauhan dengan kakak perempuannya, dia inginnya duduk di sebelah Dea tetapi tidak bisa karana peraturan gelar
Lalu dengan gemas nya Yanzhi kakak tertua mereka meledek adik laki-lakinya. Para pelayan merasa aneh karana melihat kedua pangeran mereka yang kekanakan sedangkan mereka melihat Dea duduk di sebelah ratu
Mereka berpikir bahwa itu tidak pantas karena mereka masih berpikir bahwa Dea hanyalah anak angkat tetapi melihat kepala dayang dan para dayang dan pelayan pribadi ratu masih diam mereka diam
Setelah beberapa waktu menunggu akhirnya Lei Fang’er datang dengan membawa makan malam dan langsung menyajikannya, makanan yang dibawahkan membuat para pelayan tergiur, “Makanan tersebut kelihatan sangat mewah dan lesat” itu yang ada di pikiran mereka tetapi berbeda dengan Dea
Ratu dan kedua pengaran mulai menyantap makanannya lalu ratu menengok ke ara piring yang yang tidak menyetuh makanannya “Dea ada apa.. kenapa kau tidak menyantap makanan nya”
“Oh dea belum menyantapnya, aku akan menyiapkannya” ucap Lei Fang’er yang ingin mencari kesampatan bersikap baik pada Dea
“Tidak.. tidak perlu” tolak Dea dengan tegas tetapi Lei Fang’er tetap menyajikan makan itu di piring Dea, Dea menjadi marah seketika tetapi tidak mengeluarkan aura
Kerena melihat perilaku Dea, ratu menjadi sedikit tidak senang “Dea ada apa kenapa tiba-tiba marah begini, nona Lei hanya menyajikan makanan di piring mu..” ucap ratu membuat Dea meninggikan ucapannya karena sepertinya ratu lupa kebiasaannya
“Tapi aku tidak bisa makan daging apa ibu lupa!!??” ucap dea dengan nada yang sedikit tinggi mengingatkan ibunya yang lupa itu. “Aku bahkan tidak bisa mencium bauh daging..!!??”
“Ah.. kau coba saja dulu ini sangat enak karena di campuri dengan saus kacang” ucap ratu yang menyuruh Dea mencoba makanannya
“Iya ini sangat enak saus kacangnya di bumbui resep rahasia keluarga, aku juga menaru sausnya di salad dan seafoodnya..” ucap Lei Fang’er menambahi
“Aku alergi dengan kacang..” Dea memotong perkataan Lei Fang’er dengan ekspresi dingin seketika ratu teringat, didalam pikirannya bagaimana dia bisa melupakan hal itu, lalu sebelum dia mengatakan sesuatu yang membuat nya hampir membuatnya kehilangan Dea semlamanya..
“Ha.. aku tidak bisa makan daging dan alergi terhadap makanan kerang dan kacang..” ucap Dea dengan sangat dingin lalu perlahan dia berjalan mendekati Lei Fang’er dan berkata dengan sangt dingin “Apa kau ingin membunuhku..”
Pekataannya itu membuat kegaduhan terjadi, Lei Fang’er menjadi ketakutan karena Dea memfokuskan aura mengitimidasinya kepada Lei Fang’er
Lalu Dea pergi dari ruang perjamuan menuju tempat tinggalnya yang di siapkan dengan tuntunan dari para pelayan yang di tugas kan melayani dea karena dia ingin beristirahat
Selama perjalanan dia merasa aneh karena ini bukan jalan ke paviliunnya tetapi jalan ke paviliun khusus tamu, tetapi dia berpikir bahwa mungkin paviliunnya belum di bersikan
Setelah sampai di depan gerbang, Dea masuk wajahnya menjadi masam, lalu dia bertanya “Siapa yang menghias ruangan ini?” ucapnya yang mencoba sabar
“Menjawab putri ini yang menghias adalah nona kami” jawab salah satu pelayan
“Nona kalian..?” tanya Dea lagi
“Yah nona yang menghias adalah nona Lei” jawab lagi pelyan itu, dia adalah pelayan Lei Fang’er yang ikut dengan rombongan pelayan yang melayani Dea untuk mengantar Dea dan menyampaikan bahwa Lei Fang’er yang menghias kamar Dea
Lalu Dea masuk ke dalam, di dalam penuh dengan barang yang sangat mewah dan hiasan yang gemerlap-gemerlip, para pelayan yang melihatnya terkagum-kagum kecuali tiga orang dayang
Dea yang meihat nya merasa frusatasi lalu dia membuka dress roomnya disana penuh dengan pakaian yang kelihatan sangat mewah
Hal ini membuat Dea kehilangan kesabaranya kemudian dia memanggil ke tiga pelayan yang mempunyai ekspresi yang biasa.. mereka adalah pelayan lama Dea dan sekarang menjadi dayang pribadi dari ratu
“Mei, Shin, Yao!” ucap Dea yang memanggil ke tiga dayang tersebut
“Yah putri..” jawab ketiga orang itu, para pelayan lain yang ada di sana bingung karena panggilaan mereka bertiga kepada Dea, tetapi mereka lebih bingung karena hanya mereka yang di panggil