
“Putri. Kita harus berhati-hati, ini adalah tempat yang berbahaya. Jika kau bersikap santai seperti ini, hanya akan menjadi beban, kau harus...!!”
“Shrres!!” sesuatu menyerang Wei Ran dari belakang.
Wei Ran tidak bisa bereaksi tepat waktu, dia tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya diam menatap makhluk itu tanpa bergerak dari tempatnya. Semua orang juga tidak bisa bereaksi tepat waktu.
Mereka mencoba untuk menolongnya, tapi semuanya terasa bergerak secara perlahan..
Tanpa di ketahui semua orang yang ada di sana. Sebuah pisau dengan bentuk yang unik, melintas. Dengan kecepatan yang luar biasa, dia menusuk bagian tengah dari makhluk itu sampai tertancap di dahan pohon.
Semua orang hanya bereaksi saat melihat makhluk hijau itu tertancap di pohon dengan pisau aneh di sana. Sebuah suara yang manis namun nada yang dingin, menyadarkan mereka semua “Ular Romati.” Mereka semua melihat Lan Xiadea.
Dea mengabaikan yang lain dan melihat Wei Ran “Kau harus berhati-hati. Ini adalah hutan mati, jika lengah sedikit saja, kau akan kehilangan nyawamu.” Dea membalikan perkataannya!
Ini membuat Wei Ran sangat-sangat malu. Selain dia hampir terkena masalah, dia juga di selamatkan oleh Dea, orang yang paling tidak di anggapnya!!
Dea berjalan kearah pohon itu untuk mengambil tubuh ular mati itu. Wei Ran kesal dengannya “Hh, hal kecil. Apa yang perlu di banggakan?” ucapnya dengan suara kecil, tapi semua orang yang ada di sana mendengarnya dengan jelas.
Dea mengabaikan Wei Ran, dia hanya mengerut saat melihat pisau kecilnya itu, kotor dengan darah ular Romati. Tapi tidak dengan yang lain
Xiao’ru melihatnya begitu memandang rendah Dea, dia mendengar jelas apa yang di katakan Wei Ran dengan kepala tegak, yang tinggi harga diri. Ucapnya “Yah.. hal kecil itu hampir saja membunuhmu.”
Xiao’ru mengejek, Wei Ran dengan sangat jelas, Yanxui Ki Hua diam-diam mengacungkan jempolnya. Wei Ran melihat Xiao’ru dengan tajam, pandangan menghinanya sangat jelas di wajahnya “Bukankah hanya seekor ular kecil saja. Apa yang harus di takuti?” dia bahkan tertawa kecil.
Harga dirinya naik saat melihat, Yanxui dan Xiao’ru memandang benci padanya. Jika itu Yanzhi Zhuxiu atau Han Luoyi, Wei Ran agak waspada, tapi ini hanya Ynaxui dan Xiao’ru saja, apa yang perlu di takuti?
Dia berbalik untuk melihat bagaimana ekspresi Dea, tapi belum sempat dia melihat Dea, kepercayaannya tadi di hancurkan dengan perkataan dingin Jing Ze padanya.
Mendengar Wei Ran yang mengaggap remeh ular itu, dia berkata dengan nada yang dingin “Itu ular Romati. Bisanya sangat berbahaya, bisa membunuh seseorang dengan sekali gigit dan tidak ada penawarnya.” Dia melihat Wei Ran dengan tatapan rendah “Meremehkannya karena dia kecil. Bukankah guru mengajarimu untuk tidak meremehkan semuanya? Benda kecil yang kau remehkan hampir membunuhmu!” ini membuat Wei Ran menjadi malu “Jika kau memiliki ke khwatiran seseorang akan menjadi penghambat, khawatirkan dulu dirimu sendiri!” kali ini Jing Ze marah karena Wei Ran.
Wei Ran sendiri menjadi sangat merah, kepercayaannya, turun, dia tiba saja berbalik melihat Dea hanya untuk melihat sikap acuhnya saja. Dea bersikap seakan semua kebisingan itu, tidak ada hubungan dengan dirinya. Dea tidak perduli dengan perkataan Wei Ran, dia hanya memperdulikan pisaunya yang kini kotor dengan darah dari ular Romati itu.
Amarah Wei Ran naik melihat sikapnya, dia menatap Dea dengan penuh kebencian “Ini semua salahnya.” Ucapnya dalam hati.
Hu Zhong Qi dari tadi tidak memperhatikan apa yang mereka lakukan karena pandangannya melihat kedepan “Berhenti. Kita sudah sampai..” dia melihat ke atas.
Dea memperhatikan tempat itu, mengabaikan tatapan membunuh yang Wei Ran berikan padanya. Jing Ze juga sama dia memperhatikan tempat itu. Dia merasa terusik dengan tatapan membunuh dari belakang, dan dia melihat pemandangan itu.
Jing Ze, menjadi tidak sabaran. Hu Zhong Qi memperhatian sekitar, dia melihat ada sebuah gua di kaki gunung, dan berpikir bahwa itu adalah tempat masuknya “Di sana, ada sebuah gua, mungkin saja itu adalah jalan masuknya.”
Arah pandang Jing Ze juga kesana, tapi dia tidak lupa dengan hal Wei Ran “Kita harus masuk sekarang.” Dia berbalik melihat Wei Ran “Atur dirimu. Jangan mengatakan seseorang sebagai penghambat. Bercemin dahulu sebelum berbicara! Kau tidak lupa dengan misi yang sebelumnya ‘kan?!” dengan itu dia pergi meninggalkan Wei Ran.
Wei Ran, mengingat misi sebelumnya saat dia berdua pergi menjalankan misi hanya dengan Jing Ze karena permintaan khusus dari guru mereka. Tubuhnya bergetar, dia tidak ingin mengingat hari itu.
Semua orang juga ikut masuk kedalam. Xiao’ru melihat Wei Ran yang sepertinya menunduk karena malu dengan puas. Pikirnya “Ini pelajaran harga diri.” Yanxui yang ada di sana pun diam-diam tertawa sedangkan Hu Zhong Qi, dia hanya menatap sebentar sebelum menghela nafas dan masuk kedalam gua.
Dea yang sengaja melambat, dan melihatnya sebentar dengan dingin. Hanya karena diam, bukan berarti dia tidak mendengarkannya, hanya karena dia mengabaikannya, bukan berarti dia tidak peduli. Dea adalah orang yang mengingat semua hal, baik yang kecil maupun yang besar.
Wei Ran sudah beberapa kali merendahkannya. Saat ini, walau ekspresi Dea sangat acuh, tapi matanya tidak. Matanya sangat-sangat dingin, sampai-sampai jika ada seseorang yang mampu untuk dapat melihat matanya, akan merasakan kedingian yang luar biasa.
Ini bukan kedinginan suhu tubuh yang melemah, tapi kedingian yang di rasa oleh orang saat mereka tidak bisa mengendalikan rasa takutnya.
\---
Semua orang masuk kedalam gua.
Semua melihat kesekeliling dan merasa sangat takjub. Bukan hanya dia tapi semua orang termasuk Wei Ran juga. Hanya Dea yang merasa ada yang salah, dia sesekali menengok kesana kemari.
“Apa, tempat ini adalah tempat Kelopak merah Api? Tempat ini sangat luar biasa.” Ucap Xiao’ru saat melihat-lihat gua itu.
“Tapi tempat ini penuh dengan tumbuhan lain. Bagaimana cara kita supaya bisa menemukan bahan itu?” tanya Yanxui tiba-tiba.
Semua orang juga mengingat masalah ini. Mereka semua melirik Wei Ran yang ada di belakang sekarang. Wei Ran yang merasa bahwa semua orang melihatnya berkata “Ada apa?” tanyannya.
Jing Ze mengerutkan kening “Kau tidak mendengar yang lain berbicara?”
***Note : Hai semuanya... terimakasih karena telah membaca dan juga mohon maaf atas ketidaknyamanannya jika Thor ada salah-salah kata***..
***Jangan lupa tinggalkan jejak ya***..
***Faforit***...
***Comment and Like***