
Lan Xiadea melemparkan pisaunya itu untuk menangkis serangan para prajurit yang menggunakan pedang, itu terlihat seperti pisaunya sedang menari-nari, dan yang memperhatikan hal itu terpukau, kecuali Lei Fang’er
Tidak mau mengakui kemampuan yang Dea miliki, dalam batinnya Lei Fang’er mengatakan bahwa Dea hanya pandai dalam memakai pisau dan tidak memiliki kultivasi yang tinggi, mengingat hal itu membuatnya tersenyum mengejek pada Dea, tetapi lagi-lagi itu hanyalah angan-angannya
Merasa bahwa dia lebih unggul dalam level kultivasi, dia muntah darah begitu meliha yang Dea lakukan
Yang Dea lakukan, saat tiga buah pedang datang, dia melompat menghidari itu, menedang salah satu pedang dan menacap di tanah lemudian dia berdiri di atas pedeng yang menancap dengan tenang, mereka terpukau dengan senyuman yang Dea lemparkan
Itu karena Dea senang, dia menganggap bahwa itu bukanlah latihan tetapi hanya main-main sebelum pertandingan yang sesungguhnya
Melihat para prajurit datang menerumuninya, Dea melompat tinggi, seakan malayang Dea melemparkan pisau kecilnya mengelilingi para prajurit itu
Menggumankan sesuatu “Alemen petir” lalu muncul petir dari pisau itu, menyetrum para prajurit sampai pingsan. Dea mendarat di pedang yang tertancap di tengah-tengah prajurit itu dan kemenangan pun menjadi miliknya
Mereka terpukau, dan tentu saja Lei Fang’er dan guru tanding kakaknya kesal, kenapa gadis itu bisa melawan mereka semua dengan tanpa sedikit luka, bahkan debuh pun tak ada
Seperti ada yang salah, membuat guru tanding Yanzhi Zhuxiu marah “Baiklah karena putri berhasil mengalahkan mereka, maka yang selanjutnya adalah saya.. saya yang akan menjadi lawan putri selanjutnya” Ucap guru tanding Yanzhi
Dia dan Lei Fang’er tersenyum penuh kemenangan, mereka berdua berpikir bahwa dia yang akan menang melawan Dea dan hasil akan membuat Dea di permalukan
Tidak ada ketakutan di mata Dea, membuat Lei Fang’er sedikit kesal dan menganggap bahwa Dea hanya pura-pura terlihat baik-baik saja
Dia berpikir bahwa Dea hanya memiliki sedikit kekuatan saja dan itu tidak bisa di gunakan untuk melawan guru tarung Yanzhi
\--------
Guru tarung Yanzhi maju ke halaman tengah, Dea sedikit tersenyum, tetapi itu adalah senyum meremehkan “Apakah guru Zhou sudah siap untuk bertanding..?” Dea sudah tak sabar untuk bertanding dengan Guru Zhou, guru tanding Yanzhi
Dia berpikir bahwa akan seru bertanding dengan orang yang lebih kuat dari prajurit-prajurit tadi mengingat perbedaan kekuatan
Dengan angkuhnya guru menyuruh Dea untuk melancarkan serangan pertama, dia melakukan hal tersebut untuk kesan baiknya
Dea mengerutkan dan mengangkat sebelah alisnya dan bertanya “Apa kau yakin..?” tanya nya dengan serius, dia tidak mau di cap sebagai penyiksa orang yang lanjut usia walau hal itu sudah biasa dia lakukan di akademi saat menjalankan misi, tetapi hanya orang jahat yang dia perlakukan seperti itu
Setelah mendapatkan jawaban dari guru Zhou yang menyakinkannya untuk menyerang duluan, dengan tak segan-segannya dia melemparkan pisaunya begitu pertandingan di mulai
Pisau itu melesat, menggores pipi kiri guru Zhou sehingga mengeluarkan darah setelah pisau itu menancap di dinding yang cukup jauh dari halaman tengah dengan cepat, membuat dinding itu rusak parah
Dengan sekedip mata Dea menghilang dari pandangan mata guru Zhou lalu muncul di tempat pisau itu tertancap “Ah.. Pisau-ku sedikit tergores..” ucap Dea yang mengeluh melihat bahwa pisau kecil itu sedikit tergores
Guru Zhou terkejut ketika memperhatikan dengan baik pisau itu, dahinya sedikit gemetar ketakutan, sedangkan Yanzhi yang memphatikannya juga berpikir “Sudah ku duga..” ucap dengan senyuman
Melihat pisaunya yang sedikit tergores Dea sedikit mengeluh, dia menyimpan pisaunya di tas kecil miliknya dan berbalik menghadap guru Zhou
Muncul senyuman di cadar, jika Yanzhi melihatnya akan berpikir bahwa itu adalah senyum yang menantikan permainan menyenangkan
Dea melesat menuju guru Zhou dan mulai menyerangnya, guru Zhou menangkis semua serangan Dea dengan susah payah di tambah energinya yang mulai habis, sementara itu, Dea menyerang nya tanpa kekuatan kultivasinya sama sekali tetapi menyerangnya dengan kekuatan fisik
Sekejap guru Zhou berpkir bahwa perbedaannya begitu besar karena dia mulai kewalahan, serangan yang di lancarkanya pada Dea tidak mengenainya sedikit pun bahkan pada pakaiannya pun tidak
Ada suara yang keluar saat keduanya bertarung, itu seperti suara memukul angin, mereka yang melihat terpukau, ada yang berpikir bahwa Dea sangatlah hebat, bisa melawan guru Zhou deangan seimbang dan ada yang berpikir bahwa Dea lebih unggul dari guru Zhou
Saat ini guru Zhou sudah mencapai batasnya, sementara Dea, tidak terlihat tanda tanda kelelahan, bahkan gerakannya sudah lebih cepat, membuat guru Zhou kewalahan
Sesaat guru Zhou melengah, Dea menendang guru Zhou dengan capat, membuat guru Zhou menabrak dinding dan memuntahkan seteguk darah segar dan di saat itu lah guru Zhou kalah
Bawahan yang lain menyusul guru Zhou dan melihat keadaanya, walaupun masih ada kesadaran tetapi dia merasa kalah telak. Merasa malu dengan dirinya yang kalah dari seorang yang masih muda membuat harga dirinya terluka, guru Zhou merasa lebih sakit karena malu dari pada sakit yang di alaminya saat ini
Dia memandang Dea dengan wajah yang tidak percaya. Dea yang saat ini melihat guru Zhou mengaku kalah, dia kecewa “Hah.. membosankan..” ucapnya yang mengagetkan semua prajurit dan pelayan serta Lei Fang’er
“..Padahal kupikir kau akan bertahan sedikit lebih lama.. tapi ternyata tidak.. mengecewahkan..” guru Zhou yang mendengarnya, merasa ada yang tertusuk di hatinya, sedangkan Yanzhi dan Yanxui Ki Hua menahan tawanya agar tidak keluar
....
Setelah guru Zhou keluar menuju etempat istirahat, Dea memandang kakanya dengan senyumman tadi “Nah.. kak.. apakah sudah siap..” ucapnya
Yanzhi yang mendengar itu sadar dan memandang Dea dengan senyuman yang sama “Heh.. tentu saja siap..” ucapnya
“Baiklah.. akan ku lihat sudah seberapa kuat kakak saat ini..” ucap Dea, dia ingin menguji seudah seberapa kuat kakaknya sekarang
Yanzhi lebuh memperdalam senyumannya setelah merasakan hawa dari seseorang.. lalu menghadap Dea dan berkata “..Tetapi sebelum itu.. bukannya kau harus turun dulu.. kalau kau tetap berada di situ.. bagaimana kita akan bertanding..?”
Ucapan Yanzhi membuat semua orang bingung bahkan untuk Yanxui sendiri, dia tidak mengerti maksud dari kakak laki-lakinya itu
Lan Dea yang mendengarnya tersenyum misterius, tidak ada yang mengerti dengan apa yang di katakan oleh Yanzhi, bahkan ada yang mengira bahwa Yanzhi tidak melihat Dea karena rabun, semua orang berspekulasi