
Tak lama seorang pria tampan dengan hanfu merah hitan dengan sulaman lotus di pakaiannya datang di taman itu “Wah.. sangat indah..” katanya terkesan “Tak sia-sia jauh-jauh datang kesini..” sambil tersenyum indah
Pria itu tidak melihat adanya orang di taman, doa berjalan perlahan menuju tempat duduk dibawah pohin, tidak menyadari adanya orang di atas pohon
Lan Xiadea yang di atas pohon sedang memakan buah sambil berbaring bersandar pada dahan merasa terganggu dengan adanya orang lain
“Siapa di sana..?!” ucap pria tampan itu, merasakan adanya orang di atas pohon, dia menatap tajan ke atas pohon, melihat bayang seseorang uang tertutup oleh silaunya cahaya bulan
Dea tidak menjawab pertanyaan yang di lontarkan padanya, karena tidak ingin berbicara denganny, Dea melompat turun dari dahan pohon itu
Dari dahan pohon sampai tanah cukup tinggu tetai itu tidak menjadi masalah untuk Dea, dia melompat dengan lancar
Pria tampan yang melihat hal itu terpesona, dia melihat seorang wanita, turun dengan cara yang elegan, walau wajahnya tertutup dengan cadar tipis, dia dapat merasakan kecantikan dari wajah itu
Dea melihat pria itu sekilas dengan tatapan tajam dan dingin, lalu hendak pergi dari tempat itu, tapi di tahan oleh pria itu
“Tu..tunggu” ucapnya yang menghalangi jalan Dea, Dea tidak mau peduli pada awalnya tapi pria itu menghalangi jalannya “Ternyata adalah wanita cantik.. apakah saya dapat memiliki kehormatan untuk mengetahui nama dari nona..” ucapnya lagi, menggoda Dea
Dea tak mau berlama-lama lagi di tempat itu, dia menghempis tangan pria itu dan berjalan dengan cepat menghindari orang itu
Yang terlihat di mata prai tampan itu adalah Dea menghilang dari hadapannya dan meninggalkan bayangan di udara
Pria itu begitu terkejut “Hm.. menarik..” ucapnya dia merasa tertarik pada Dea, tanpa sadar sudah terlalu lama dia berada di sana
Kalau penjaga gelapnya tidak mengingatkan, dia mungkin tak akan sadar, dia berjalan kembali menuju aula pesta
Dea yang tengah berjalan menuju ke kediamannya, memikirkan kejadian tadi, matanya menjadi tajam dan lebih dingin
Dia mengumpat dalam hati.. di tengah jalan menuju kediamannya, dia bertemu dengan Shin
Dengan keringat di pelipis dahinya dia berkata “Putri!” dia menghampiri Dea dengan tergesa-gesa, setelah mengambil nafas panjang dia berkat “Mohon maaf putri.. tadi putri pergi kemana saja? Persiapan telah selesai.. mohon untuk putri mempersiapkan diri”
Sebenarnya dia mau memarahi Dea karena kabur meninggalkan kediaman, padahal hanya di tinggal sebentar saja, ketika dia kembali Dea sudah tidak ada di tempat
Shin lalu memanggil para prajurit yang berjaga dan menyuruh mereka membantunya mencari Dea
Dia mengurunkan niatnya ketika melihat wajah kesal dari Dea.. walaupun Dea memakai cadar yang tipis, auranya masih dapat di rasakan, dan juga karena melihat mata Dea yang lebih dingin dari biasanya, Shin mengerti bahwa Dea tengah kesal parah
Setelah bertemu, mereka berjalan menuju kediaman Dea kediaman Sayap kiri
Setibanya, Dea langsung merendam dirinya tempat mandinya yang seperti kolam kecil tetapi hanya setinggi paha, itu di gunakan untuk berendam
Sekitar 15 menit kemudian dia bangkit dan para pelayan bersiap untuk menandanunya. Butuh setengah jam lamanya
Dea tidak berniat untuk mencolok karena tidak ingin mendapat perhatian
Bahkan kalau tidakpergi, akan lebih bagus lagi, batinnya, dia sangan malas untuk pergi ke pesta, karena akan sangat merepotkan, apa lagi dia yang masih belum merasa baik sejak mimpi buruk itu datang
Matanya terlihat kosong..
Hanya wajah cantiknya itu ada di tutup dengan cadar tipis
Dia beranjak dari temapat duduknya dan mulai berjalan menuju aula pesta..
\--------
Di aula pesta, tengah meriah, para nona muda dari berbagai Klan, mulai memperlihatkan bakat yang mereka miliki, ada yang menari dan bermain alat musik
Tapi Lei Fang’er, si ular licik, tidak terlihat dimana pun
Yanzhi Zhuxiu, Yanxui Ki Hua dan sang Ratu, terlihat gelisah karena saudari-putri mereka belum juga sampai
Mereka bahkan tidak menyadari adanya musih yang mengintai di luar aula, menunggu waktu yang tepat untuk membunuh sang Ratu
Tak lama kemudian, seseorang berjalan memasuki ruang aula, dengan tampilan yang sedikit, dan ekspresi yang di buat-buat malu saat di lihat oleh pria lain, serta pakaian yang mencolok
Yah orang itu adalah Lei Fang’er dengan ekspresi itu dan pakaiannya, membuat beberapa pria tergoda, dan tentu saja Yanzhi dan Yanxui tidak terpengaruh dengan hal itu
Ada juga beberapa pangeran, Pangeran Xu Sang Fu, pangern Luo Bai Ying dan tuan muda Lie Fong dari keluarga mentri Lie
Sedangkan tuan muda Liang Shuyan, melihat Lei Fanger, bahkan meneteskan air liurnya
Satu kata, Menjijikan..
Melihat ada kursi yang kosong di sebelah Ratu, Lei Fang’er menjadi salah paham, berpikir bahwa tempat itu di khususkan untuknya
Dia mendekat pada Ratu Xia “Salam Ratu dan para Pangeran.. Lei Fang’er telah tiba..” ucapnya dengan lemah lembut, membuat Yanxui yang mendengarnya merasa mual
Mendengarnya, sang Ratu mengangguk puas dengan tatakramanya dan menyuruhnya duduk
Di batinya, Lei Fang’er merasa karena dia akan duduk di samping sang Ratu, membuat semua gadis menjadi iri ketika melihatnya, mereka juga berpikir sama dengannya
Tetapi khayalannya hancur ketika mendengarkan Jendral Liang berbicara yang menghentikan dirinya berjalan mendekati tempat duduk itu
Sungguh, itu menghancurkan martabatnya “Mohon maaf nona Lei, izinkan saya bertanya.. anda menuju kemana nona?” tanya Jendral Liang padanya
Merasa bahwa anaknya akan di permalukan Raja Lei dar kerajaan Lei Biyu berdiri dari tempat duduknya dan menjawab pertanyaan Jendral Liang dengan sedikit kasar “Mohon maaf mengganggu, apa maksud Jendral Liang bertanya seperti itu? Tentu saja putriku menuju ke tempat duduknya”
Raut wajah Jendral Liang menjadi sedikit buruk, tapi di wajahnya masih memiliki senyum ramah “Maaf tapi dari apa yang Jendral ini lihat, nona Lei sepertinya sedang berjalan menuju tempat duduk di sebelah Ratu? Apa saya benar?” ucapnya yang sengaja menekan kata ‘Jendral ini’
Ucapannya membuat riuh aula pesta, ada yang bingung, ada apa sebenarnya, tapi para mentri mengerutkan keningnya, mentri Lie maju untuk bertanya “Apakah benar dengan apa yang di katakan oleh Jendral Liang, nona Lei” raut wajahnya jelas tidak baik
Note : Hai semuanya... terimakasih telah membaca... jangan lupa tinggalkan jejak Yah...
Favorit...
Comment dan Like...