
Tapi berbeda dengan apa yang di pikirkannya.. Lan Xiadea malah terlihat tenang-tengan saja.. dia bersikap acuh tak acuh seperti biasanya.. terlihat tidak ada masalah.. ini sungguh membuatnya jengkel
“Buat apa kau berpura-pura kuat.. kalau kau takut, lebih baik kau mundur saja.. melihat kau yang sekarang ini pura-pura kuat padahal takut, membuatku merasa jijik..” ucap Chan Bai Rin yang seperti mengolok-olok Dea..
Ini membuat tetua Li Wang juga diam-diam menjelekkan Dea.. “Murid ini.. lihatlah dia.. di saat seperti ini masih saja bertingkah angkuh..” dengan itu dia menggelengkan kepala merasa kecewa...
Dia mengatakan hal itu karena ingin membuat Dea buruk di mata para tetua lainnya.. dia sangat tidak menyukai Dea, kini bukan hanya karena perintah Chan Bai Rin saja, tapi miliknya sendiri
Salah satu tetua Bo Lu Wan, merasa perkataan tetua Li Wang ada maksud tertentu.. dengan itu dia membalas.. “Tetua Li Wang.. apa maksudmu dengan sikap angkuh.. bukankah murid itu hanya diam saja dari tadi..”
Ini membuat tetua Li Wang berkedut “Apa maksudmu, tentu saja sikapnya itu... lihat sikap acuh tak acuhnya itu yang tidak menghormati lawan..”
Keduanya saling berdebat..
Dea tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Chan Bai Rin, dan dia mengacuhkan itu
Guru Sun yang adalah sebagai wasit di sini, melihat bahwa Chan Bai Rin memiliki sebuah senjata di tangannya, sedangkan Dea tidak sehingga dia berkata “Murid Lan.. apakah kau tidak memiliki senjata.. kau bisa memilih senjata apapun selama pertandingan..”
Ini membuat Chan Bai Rin tersenyum sinis.. pikirnya karena Dea adalah putri dari seorang penjahat, rakyat biasa, dia tidak punya senjata apapun
Dea dapat membaca pikiran Chan Bai Rin melalui raut wajahnya.. senyum muncul di wajahnya itu dan berkata “Aku tidak perlu senjata apapun untuk melawannya..” jawab spontans dari Dea membuat mereka bersorak
Ini membuat Chan Bai Rin langsung berwajah masam.. tetua Li Wang yang mendengarnya juga menjadi kesal dan berkata .. “Lihatlah.. benarkan yang kukatakan.. murid itu terlalu angkuh.. lihat saja jawabannya itu.. tidak menghormati lawan..”
Tetua Bo Lu Wan tidak bisa berkata apa-apa karena hal itu...
Guru Sun yang mendengar Dea berkata seperti itu memiliki senyum paksa.. jujur dia sedikit marah padanya karena perkataanya itu, tapi di tahannya mengingat bahwa Dea sudah memiliki hukuman yang bisa di bilang cukup parah
Dengan itu dia menarik nafas dan berkata “Ini tidak bisa.. kau harus memiliki sebuah senjata agar pertandingan di anggap sah..” dalam hati Dea berpikir bahwa sekte ini adalah perguruan yang aneh..
Bukannya mereka ini sedang ingi agar dirinya menghancurkan sekte begitu mengeluarkan senjata.. tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena peraturan..
Sebenarnya bisa saja jika dia tidak ingin menurutinya.. tapi yah sudahlah agar semua tidak menjadi merepotkan.. dengan itu dia menjulurkan tangannya kebawah
Sebuah pisau kecil keluar dari lengannya, di lemparkanya keatas dan di tangkap dengan sempurna.. “Aku akan memakai ini..” katanya
Melihat sebuah pisau kecil dengan bentuk yang aneh Chan Bai Rin tidak bisa menahan tawanya dengan keras.. “I..ini.. apa kau akan menggunakan pisau aneh itu untuk melawanku? Haha..”
Chan Bai Rini tertawa, begitu juga dengan semua orang termasuk tetua Li Wang..
Sejujuernya saat melihat ini, Li Wang juga sedikit tidak asing dengannya, tapi di abaikannya
Bagi mereka yang belum pernah melihatnya pasti akan berpikir demikian atau tertawa seperti Chan Bai Rin, tapi bagi mereka yang tau akan terkejut
Seperti penatua ke Lima, tetua Bo Lu Wan, guru Sun dan tetua-tetua lainnya.. begitu pula juga dengan Luo Hong San
Xu Hei Fuyan sudah pernah melihat Dea menggunakannya jadi tidak ada keterkejutan sama sekali di wajahnya, yang ada malah serius
Itu juga yang dirasakan oleh penatua ke Lima dan lainnya
Penatua ke Lima terkejut dengan apa yang di keluarkan oleh Dea.. dia tentu tau benda apa itu tapi itu hanya di produksi di benua Arck dan tidak ada di tempat lain.. milik Dea juga memiliki sebuah logo atau tanda yang artinya itu adalah miliknya secara resmi..
Bukan hanya dia tetua Bo Lu Wan dan guru Sun juga berpikir demikian, begitu pula dengan Luo Hong San.. mereka menatap Dea dengan serius sekarang
Luo Hong San berbalik menata Xu Hei Fuyan yang tidak memiliki keterkejutan apapun di wajahnya, nampaknya dia sudah mengetahuinya sejak lama
Dea sudah mengeluarkan senjatanya dan menatap guru Sun yang kini sedang diam saja.. yang lain juga menatapnya.. karena di tatap banyak orang membuat guru Sun tersadar.. dia segera memulaikan pertandingan
Chan Bai Rin tidak bisa berhenti tertawa “Haha.. kau sungguh akan melawanku dengan pisau kecil itu.. haha” dia masih saja tertawa, orang-orang juga masih tertawa
Tapi Dea tidak bisa di ganggu.. dia mulai membenci suara tawa dari Chan Bai Rin, ingin supaya dia diam, dengan itu dia melempar pisau kecilnya itu lurus melewati Chan Bai Rin dan menabrak dinding sampai dia roboh
Ini membuat semua orang terkejut dengan apa yang terjadi, mereka masih saja bengong dengan hal itu
Apa yang mereka lihat.. sebuah pisau kecil yang memiliki bentuk aneh dan terlihat lama, seperti akan rusak saat di sentu sedikit saja kini terbang lurus dan menghantam dinding sekte, sampai hancur, ini membuat mereka diam
Dea dengan santai mengangkat tangannya, memanggil kunainya itu.. kunai itu bergetar dan terbang kembali pada Dea.. Dea hanya menangkapnya dengan mudah.. dia melihat Chan Bai Rin yang kini masih terkejut dengan apa yang di lihatnya
Dea dengan santai berkata.. “Tenang saja.. aku tidak akan menggunakannya.. karena sangat berbahaya..” pada titik ini Chan Bai Rin tersadar, semua orag sadar.. tapi Dea tidak berhenti sampai di situ “Oh, mungkin saja pedangmu itu akan rusak saat melawan senjataku ini, jadi akan ku simpan saja” ini jelas penghinaan
Melihat adegan ini membuat tetua Li Wang tersadar.. dia mengingat senjata ang di pegang Dea.. dengan itu dia berdiri dari tempat duduknya “Penatua ke Lima .. ini...” dia menjadi bingung sendiri
Sedangkan penatua ke Lima masih menatap Dea dengan serius...
Pertandingan di mulai.. Chan Bai Rin dengan perasaan marahnya dia maju dengan pedang di tangannya.. tapi Dea menghindari semua serangannya
***Note : Hai semuanya... terimakasih karena telah membaca.. jangan lupa tinggalkan jejak ya***..
***Faforit***...
***Comment and Like***