
Walau sangat indah, paviliun milik Lan Xiadea juga berbahaya, Dea menaru sebuah artefak pelindung yang tak kasat mata dan juga kuat dari serangan apapun dan juga dia menambah kan kekuatanya agar pelindung itu menjadi lebih kuat
Setelah selasai makan Dea menyuruh kedua pelayan itu untuk membawa alat makan Dea kembali dan menyuruh mereka untuk membawakan minuman yang manis dan cemilan
Tak lama kemudian mereka datang dengan membawa pesanan Dea, cemilan yang di maksud adalah stik pisang yang guri dengan saus pedas dengan minuman jus jeruk dingin dan air putih... Dea menyuruh mereka meletakan cemilannya di meja depan rak buku lalu menyuruh meraka keluar
Sebenarnya mereka enggan untuk keluar karena mereka sangat menikmati suasana dan pemandangan dari atas, tetapi mereka tetap melaksanakan perintah Dea, tetapi sebelum mereka keluar Dea memanggil mereka lagi “Tunggu..!! mendekat” lalu mereka menghampiri Dea lagi
“Dua jam lagi aku ingin kalian memanggil pelayan lain untuk menggantikan kalian..!!” ucapan Dea yang membuat kedua pelayan itu salah paham dan memohon ampun
“P.. Putri apa kami membuat kesalahan.. kalau kami membuat kesalahan kami mohom maaf putri..”
“Ah.. bukan begitu.. aku ingin setiap dua jam ada pergantian pelayan yang menuggu karena aku ingin kalian bisa beristirahat, bukan karana aku marah kepada kalian..” ucap Dea dengan wajah acuh tak acuh seperti biasa menjelaskan maksudnya dan kedua pelayan yang mendengarnya merasa terharu
“Yah tapi kalian memang membuat kesalahan, tetapi kesalahan itu tidak sampai membuat aku harus menghukum kalian” mendengar Dea mengatakan hal itu membuat mereka tertawa canggung tetapi terharu lagi saat mendengar perkataan terakhir Dea
“Untuk kedepannya kalian harus memperhatikan.. jangan ceroboh lagi” ucap Dea yang menasehati kedua pelayan
“Baik putri..!! Kami izin keluar” ucap mereka berdua dengan senang hati, awalnya mereka berpikir bahwa tuan putri angkat Dea adalah orang yang semena-mena sama seperti Lei Fang’er tetapi ternyata dia adalah orang yang baik sampai-sampai pelayan seperti mereka di pedulikan
Lalu disaat mereka berkumpul dengan para pelayan yang lain mereka menceritakan tentang kekaguman mereka pada paviliun Dea dan juga kebaikannya
Keindahan kamar Dea telah sampai di telinga Lei Fang’er, hal itu membuat Lei Fang’er kesal dan penarasan tentang seberapa bagusnya paviliun yang di atur oleh Dea sehingga Dea menolak dan membuang hiasan yang di atur olehnya dia berniat untuk pergi dan melihat
Di saat Lei Fang’er yang kesal itu datang untuk melihat, di saat ini orang yang di bicarakan tengah duduk di halaman paviliun menikmati hari sambil membaca buku, tidak tau apa yang di baca Dea tetapi membaca itu membuat hati Dea tenang
Lalu datang lah si pembuat masalah, saat ini Lei Fang’er telah sampai di depan paviliun Dea
Ketika dia ingin masuk penjaga yang menjaga di depan paviliun tidak mengizinkan Lei Fang’er masuk karena Dea tidak mengizinkannya tetapi dengan keras kepalanya dia memakasa untuk masuk, dengan bangganya dia berkata “Tenang saja Dea tidak mungkin tidak membiarkan ku masuk, lebih baik kalian minggir sebelum aku memberi hukuman pada kalian.. hmp”
Penjaga yang menjaga takut menghentikan karena tak ingin mendapat hukuman dari Lei Fang’er, mereka pun tidak lagi mnghentikan dia
Fang’er membuka pintu dengan keras tapi menjadi dia kerena saat dia mencoba membuka pintu, pintu itu tidak bisa di buka
Yah tentu saja itu karena Dea menggunakan kekuatanya untuk menyegel pintu agar tidak mengganggunya, tetapi dia menyesuaikan dengan level pelayan karena tidak ingin mereka terluka
Begitu melihat Lei Fang’er yang menerobos masuk membuat Dea bermuka masam sementara Lei Fang’er, begitu dia masuk ke dalam dia begitu tekejut karena kediaman Dea seratus kali lebih bagus dan indah dari pada miliknya
Dia terpesona melihat halaman Dea sehingga tidak menyadari Dea yang sadari tadi menatap dia dengan sinis
“Erhm...” dehaman Dea yang ingin agar Lei Fang’er tersadar dan itu membuahkan hasil, Lei Fang’er tersadar dan melihat Dea yang tengah duduk sambil membaca buku dengan teh dan cemilan, lalu dengan tidak tahu malunya Lei Fang’er duduk di depan Dea bersama dengan pelayan di belakangnya
“Wah halaman paviliun ini sangatlah indah.. patas saja kau menolak kamar yang ku atur.. haha” ucapnya memuji, tapi nyatanya di dalam hati dia berkata “Sial paviliunnya yang sebagus ini diberikan hanya untuk anak angkat ini, bukankah ini berlebihan, padahal aku sudah mencoba memintanya kepada pangeran tetapi dia tidak memberikannya..heh apa aku coba minta saja pada ratu, pasti ratu akan memberikan nya kepada ku yang merupakan calon putri mahkota dari pada kepada seorang anak angkat..” ucapnya dalam hati
Lalu dia berkata lagi “Padahal aku sudah mencoba meminta paviliun ini pada pangeran tetapi dia tidak memberikannya..” ucapnya yang penuh dengan maksud menindas Dea
Maksud ucapannya adalah Yanzhi lebih perhatian kepada Dea dari pada dirinya yang merupakan calon tunangannya
Mendengar bahwa Lei Fang’er meminta pada kakaknya untuk memberikan paviliunnya kepadanya membuat Dea lebih tidak suka kepada Lei Fang’er, lalu dengan dinginya dia berkata “Siapa yang menizinkanmu masuk..?” ucapnya yang seperti mengabaikan Lei Fang’er
Lei Fang’er yang merasa di hina hanya diam malu “Kalau tidak salah aku menyuruh kalian untuk tidak mengizinkan siapapun untuk masuk.. kalian meremehkan perintah ku” ucapnya dengan menatap tajam ke dia kedua penjaga yang telah menukar sift dengan penjaga yang pertama
Kedua penjaga yang ditatap tajam pun merasa takut dan berkata “K.. Kami minta maaf putri.. T.. Tapi nona Lei yang memaksa.. k.. kalau kami tidak mengizinkan, nona Lei akan menghukum kami” melihat mereka berkata seperti itu membuat Lei Fang’er marah tetapi dia mencoba menjadi malaikat
“Dea jangan melanyahkan mereka, aku yang memaksa untuk masuk dengan berbohong kalau aku akan menghukum mereka, jadi jangan menyalahkan mereka” ucapnya agar terlihat baik tetapi itu tidak mempan terhadap Dea
“Jadi kalian memilih untuk di hukum oleh ku...” ucap yang mengabaikan Lei Fang’er, Lei Fang’er yang di abaikan merasa malu., lalu Dea menatap kedua pelayan dengan mata yang dingin dan tajam dengan senyum yang menyeramkan dan berkata “Heh sepertinya aku sedang di remehkan di sini..”
Dea kemudian menjentikan jarinya lalu tiba-tiba sumpit yang ada di piring cemilan Dea dengan sangat cepat datang lalu berhenti di tepat di depan mata ke dua penjaga itu, keduanya pun merasa takut dan mencoba meminta