
Yanzhi Zhuxiu sangat amat menyayangi adik perempuannya itu dia ingin selalu bersamanya, tetapi sang adik bungsu selalu merusak kesenangannya, kadang dia mengganggu mereka dan membawa Lan Xiadea pergi bermain dengannya sendiri
Setelah lama berbincang, kedua saudara Dea akhirnya pergi, kini tinggal Dea sendirian
Dea yang menatap kini menatap bulan dengan kesedihan, bernanyi lagu yang hanya dapat di dengar dari kamarnya
Setelah bernyanyi dia mulia membersikan dirinya dan tidur, tak lupa dengan meminum obatnya
\-------
Di pagi yang cerah dengan kicauan burung yang bernyanyi, Lan Xiadea yang kini telah bangun, membaca bukunya sambil menyantap sarapan yang di buat khusus untuknya di beranda
“Pagi yang tenang ini hanya sekejap saja aku bisa merasakannya” ucap Dea dengan sengaja dan sesuai dengan apa yang di pikirkannya, tak lama kemudian bunyi langkah kaki terdengar, datang mendekat
Brukk...
Seseorang datang dan menbuat kekaduhan, dia mendobrak pintu kemudan berteriak dengan senang “Kakak..!!”
“Berisik..!!”. Yah orang itu adalah Yanxui Ki Hua
Selama beberapa hari ini Yanxui suka datang dan membangunkan Dea ketika dia menyadari bahwa kakak perempuan kesayangannya itu sering telat bangun, makanya dia datang untuk membangunkannya
Karena tidak mau di bangunkan lagi oleh suara adiknya yang menggema keseluruh istana, Dea mengantisipasi dirinya sendiri dengan bangun lebih cepat, agar adiknya itu tidak membangunkannya lagi dengan kegaduhan kecil
“Oh.. ternyata sudah bangun yah.. hehe..” ucap Yanxui dengan riang, sementara itu Dea hanya memandangnya dengan ekspresi kesal
Setelah lama berbincang Yanxui pergi dari kamar kakaknya, kini tinggal Dea sendiri dengan Yao dayang kelas atas yang di perintahkan oleh ratu untuk melayani Dea
Di saat Dea meresap tehnya datang pelayan yang berjaga di depan pintu kamar Dea “Nona.. nona Lei ada di depan datang berkunjung..” ucap pelayan itu. Sebenarnya selama berada di istana, sebagian besar pelayan masih enggan memanggil Dea sebagai putri karena lei Fang’er yang memerrintahkan
Dia masih berpikir bahwa Dea hanyalah seorang anak angkat dan diam-diam akan merebut posisinya sebagai calon tunangan atau calon putri mahkota
Dea kemudian menajamkan tatapannya ketika mendengar ketika Lei Fang’er datang mengujunginya. Dea enggan membiarkannya masuk karena kejadian yang sebelumnya
Dengan senyum sinis Dea berkata “Hm.. suruh dia masuk..” Sebenarnya Dea enggan dan ingin menghusir Lei Fang’er pergi, tetapi setelah memikirkannya lagi “Sepertinya seru kalau melihatnya dengan muka masam..” pikirnya
Lalu dengan muka masamnya Lei Fang’er masuk sambil senyum dengan terpaksa “Sial apa dia pikir aku ini pelayan.. masa dia menyuruhku masuk bukan mempersilahkan.. heh dasar rendahan..” pikirnya dalam hati
Melihat muka Lei Fang’er, membuat Dea tertawa dalam hati. Dia berpikir bahwa kalau adiknya masih ada di dalam kamarnya pasti akan tertawa terbahak-bahak
Lalu sekejap raut wajah Lei Fang’er menjadi kesal “Ah itu.. tidak ada apa-apa hanya khawatir saja dengan keadaanmu.. bukannya kau sudah beberapa hari ini menolak untuk keluar dari pavilunmu..? Aku datang karena ku pikir kau butuh teman untuk bicara..” ucapnya, dia ingin terlihat baik di depan mata ratu dan pengeran dengan memanfaatkan Dea
Dia memanfaatkan sikap Dea yang memasang tembok perusuhan agar terlihat bahwa Dea menindasnya dengan bersikap baik kepada Dea, tetapi itu tidak berguna malah akan menjadi bumerang untuknya
Kemudian Dea memandangnya dengan tatapan dingin “Aku tidak butuh teman bicara, karena itu tidaklah penting.. karena itu tolong keluar aku tidak ingin hariku di ganggu”
Setelah dea bekata seperti itu, entah bodoh atau pura-pura bodoh, Lei Fang’er hanya mengagapnya seperti candaan “Haha.. ternyata Dea adalah orang yang suka bercanda yah..” dia tertawa dengan canggung
“Karena kau terlihat baik baik saja aku akan pergi..” lalu dia keluar dari kamar Dea. Begitu Lei Fang’er ingin melangkah keluar dia melihat Yanzhi di depan pintu ruangan, lalu dengan cepat memasang wajah seperti tertindas
“Nona Lei.. apa yang kau lakukan disini..” ucap Yanzhi dengan dingin. Dea yang melihat kakak nya datang sedikit terkejut “!!”
Melihat Yanzhi yang bersikap dingin pada nya membuat kesal, melihat tatapan dari nonanya membuat pelayan pribadi Lei Fang’er membuat pernyataan seperti ingin menyalahkan Dea “Ah.. pangeran...” dengan ekspresi menahan sedih yang di buat-buat “Itu nona datang ingin melihat nona Dea karena khawatir, nona saya mendengar bahwa nona Dea sudah tidak keluar kamar selama beberapa hari.. tetapi nona Dea menyuruh kami keluar Pangeran dengan alasan ingin beristirahat katanya..” mendengar perkataan pelayan pribadinya, senyum licik muncul di wajah Lei Fang’er
“Apa yang terjadi, Dea..?” tanya Yanzhi begitu mendengar apa yang di ucapkan oleh Lei Fang’er
Lalu dengan santainya Dea menjawab “Hm..? dia mengganggu..”
Saat melihat raut wajah dari Yanzhi, Lei Fang’er berpikir bahwa Yanzhi akan memarahi Dea tetapi malah sebaliknya, dengan sikap sok sucinya dia berkata “I.. itu pangeran jangan menyalahkan Dea, i..” sebelum menyelesaikan ucapannya Yanzhi memotong dan berkata dengan dingin
“Apa yang kau tunggu..” ucapnya membuat semua orang yang ada disitu binggung kecuali Dea
Lei Fang’er memasang wajah yang seperti meminta penjelasan. Melihat tidak ada respon Yanzhi menjelaskan maksudnya “Keluar.. bukankah adikku menyuruhmu untuk keluar? Jangan menggangunya!”
Marah dengan perkataan Yanzhi, tetapi tidak dapat berbuat apa-apa, dengan memanfaatkan pelayan yang menjaga di depan pintu, Lei Fang’er membuat wajah yang seperti tertindas, hasil itu membuat dua pelayan yang menjaga di depan pintu dan salah satu bawahan Yanzhi merasa kasihan lalu keluar dari kamar Dea
Kini Lei Fang’er dan kedua pelayannya berada di danau kecil yang berada di istana, terdapat bunga yang indah di pinggir danau. Setelah memastikan tidak ada orang, ekspresi wajahnya berubah menjadi marah “Hah..!! sial!! Kenapa, kanapa.. kenapa pangeran tidak memarahi \*\*\*\*\*\* itu, bukannya marah dia malah menhusirku.. sial!!”
“Mohon tenanglah nona.. kalau sampai ada yang melihat nona seperti ini bisa gawat..” ucap salah satu pelayan yang mencoba menenangkan Lei Fang’er
“Benar nona tolong tenanglah” ucap pelayan yang satunya
Lalu amarahnya perlahan menghilang, mengingat kejadian terakhir tadi senyum licik muncul di wajahnya “Benar aku harus tenang, bukankah tadi apa pelayan yang melihat.. heh kau pikir kau itu hebat Dea.. heh lihat saja nanti aku akan membuat reputasimu hancur.. ini karena kau telah mencoba mempermalukanku.. heh lihat saja nanti” lalu dia tertawa sambil memikirkan rencananya
Meninggalkan Lei Fang’er, Lan Xiadea yang melihat kakaknya datang membuatnya bingung “Ada keperluan apa kakak ke sini..?” tanya nya