
Akhirnya bel istirahat siang pun berbunyi. Semua siswa termasuk aku menyambutnya dengan senang. Dari tadi aku sudah menahan lapar karena tadi aku lupa sarapan.
“Baiklah pelajaran sampai di sini dulu, ingat pekerjaan rumah yang bapak berikan harus siap di pelajaran berikutnya.” Ucap seorang guru.
“Baik pak.” Balas semua siswa.
Para siswa langsung berhamburan, mereka ada yang ke kantin dan ada juga yang masih di kelas. Begitu juga dengan Luna, dia membawa bekal seperti biasa.
“Loh kamu tidak makan?” Tanya Luna sambil membuka kotak makannya.
“Ini aku mau ke kantin.” Aku mengambil dompet di tasku.
Sebenarnya aku tidak membawa uang pun juga tidak apa-apa. Toh hari ini aku dapat traktiran, uang ini untuk jaga-jaga kalau aku ingin sesuatu nantinya, ditraktir pun tidak semua yang kita inginkan akan bisa aku makan bukan? Tidak lupa aku memasang badge OSIS-ku untuk menjalankan tugas di waktu istirahat nanti.
“Oh begitu rupanya.” Balas Luna sambil makan.
“Sampai nanti.” Aku mulai berjalan meninggalkan Luna.
Aku sebenarnya tidak ingin sendirian di kantin seperti ini. Apa lagi ini masih awal-awal waktu istirahat, pasti sangat ramai di sana. Tetapi apa boleh buat, aku tidak boleh membuat Astrid menunggu.
"Aku harus cepat!" Ucapku.
Sesampainya aku di kantin, rasanya aku ingin menelan kata-kataku barusan. Ternyata Astrid sudah ada di kantin, dia pun memanggilku.
“Hoi Tio, sini!” Teriak Astrid sambil melambaikan tangannya.
Ah, malunya aku. Tidak aku sangka anak itu akan berteriak memanggilku, semua orang langsung melihat ke arahku. Aku kemudian menghampirinya, aku mencoba untuk tetap tenang.
“Sejak kapan kamu di sini?” Tanyaku sambil bergegas duduk.
“Hehe.. Aku tadi keluar lebih awal, tinggal pamit ke belakang, beres.” Astrid mengedipkan satu matanya.
Dasar kelakuan anak satu ini tidak dapat dicontoh. Harusnya Astrid sadar dengan jabatannya, dia adalah anggota OSIS. Yah, tapi terserah dia juga sih, aku sedikit tertolong dengan kelakuan Astrid yang seperti itu.
“Sudahlah, aku lapar. Ada untungnya kamu keluar cepat jadi aku jadi tidak perlu mencari tempat duduk lagi.” Balasku.
“Hehe, kamu mau makan apa?” Tanya Astrid sambil tertawa.
“Terserah kamu saja!” Jawabku sambil melihat sekeliling.
Aku memutuskan untuk menyerahkan pesanan ke Astrid, apa saja akan aku makan. Aku paling tidak suka jika harus memilih pesanan sendiri saat ditraktir, karena aku tidak mau membebani orang yang mentraktir jika harganya cukup mahal. Akan lebih baik jika dia yang memilihkan.
“Oke kalau begitu. Mbak..!!” Astrid kemudian memanggil seorang waiters.
Seorang waiters mendatangi Astrid. Mereka berdua kemudian membahas tentang pesanan. Sementara aku masih melihat sekeliling, aku hanya tidak ingin ada anggota OSIS lain melihatku sekarang. Apa yang akan mereka bilang nanti jika menemukan aku berdua dengan Astrid, mereka pasti akan berpikiran aneh-aneh.
"Kalau begitu ini 2 dan ini juga 2." Ucap Astrid kepada mbak waiters
"Baik, tunggu sebentar ya!" Balas mbak waiters yang kemudian pergi.
Astrid menyelesaikan pesanannya dan waiters itu pergi untuk membuat pesanan tadi. Aku menunggu beberapa saat sambil mengobrol santai dengan Astrid. Setelah beberapa lama, pesanan Astrid pun di antar
“Terima kasih mbak!” Balas Astrid
Waiters itu menurunkan makanan dari nampannya. Aku pun sedikit kaget dengan apa yang dipesan Astrid. Aku memang bilang terserah tadi, tapi jangan juga beli paket makanan paling mahal. Yang di pesan Astrid adalah 2 paket yang masing-masing terdiri dari 1 nasi lengkap dengan lauknya, ada mi goreng juga, bahkan ayam goreng dan juga kentang goreng serta minuman soda. Harga makanan ini bakan dua kali lipat dari uang sakuku.
“Hoi Astrid, pesan kira-kira dong!” Keluhku.
“Lah katanya kamu lapar, ya sudah aku pesan ini.” Balas Astrid.
“Bukan begitu, tapi ini harganya...” Aku terhenti bicara.
“Shhhh.. lupakan soal harga. Kita tadi pagi sudah sepakat bukan? Ini adalah saatnya aku berterima kasih sekarang. Jadi segera makan dan jangan pikirkan yang lain.” Potong Astrid.
Astrid menatapku serius. Yah memang kami sudah sepakat tadi pagi, di sini aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku harus menyerah dan memakan apa yang sudah dibeli oleh Astrid.
“Terserah kamu saja deh!” Balasku.
Aku pun mulai makan. Tidak heran lagi jika makanan ini sangat enak, ya mengingat harga pasti ada rasa. Akan tetapi jika diingat-ingat, baru pertama kalinya aku memakan menu ini di kantin dan aku tidak menyangka jika rasanya enak. Mungkin ini pertama dan terakhir kalinya aku memakan ini mengingat aku sendiri tidak mampu membelinya.
Astrid kemudian terlihat sangat senang, dia juga kemudian mulai makan. Setelah beberapa saat kami makan, aku teringat tadi Astrid bilang tentang tadi pagi. Aku langsung teringat tentang bagaimana dia mendapatkan nomor teleponku. Tanpa menunggu lagi aku langsung bertanya.
“Hei Astrid, ngomong-ngomong darimana kamu dapat nomorku?” Tanyaku.
“Uhuk.. Uhuk.. Oi Tio, kita sedang makan. Jangan bertanya tiba-tiba begitu!” Astrid tersedak.
“Sudah jawab saja dan jangan beralasan, kalau aku tidak bertanya sekarang mau kapan lagi. Kamu pandai mengalihkan pembicaraan soalnya.” Lanjutku.
Astrid kemudian meminum minumannya. Setelah itu, Astrid malah terlihat semakin mencurigakan.
“Emm.. Anu..” Astrid berpikir keras.
“Jawab dengan jujur!” Aku memandangi Astrid dengan pandangan tajam.
“Iya, iya aku jawab, aku dapat dari komite sekolah. Karena para komite pernah berurusan denganmu sewaktu kamu masuk rumah sakit kemarin, jadi sore itu aku menghubungi salah satu komite untuk meminta nomor teleponmu karena aku ada keperluan denganmu dan akhirnya aku dikasih.” Jawab Astrid.
Aku masih memandangi Astrid, wajahnya tidak terlihat sedang berbohong. Jika saja dia dapat dari Luna atau Aria pasti aku akan langsung menegur mereka yang seenaknya memberikan nomor orang. Akan tetapi Astrid mendapatkan dari komite sekolah jadi apa boleh buat, lalu kemudian aku melanjutkan makanku.
“Ya sudah kalau begitu.” Balasku sambil makan.
“Fiuh...” Astrid lega.
Keringat dingin bercucuran, Astrid sedang mencoba menahan rasa takut jika Tio akan marah. Astrid juga mau tidak mau harus berbohong, lagipula mana ada komite yang memiliki nomor Tio.
Astrid teringat ide itu karena ikut ke rumah sakit bersama rombongan komite untuk menjenguk Tio dan menyelesaikan masalah kemarin. Menurut Astrid itu bisa dijadikan alasan karena waktu itu Tio tidak sadarkan diri.
Sekarang Luna sudah tidak perlu khawatir akan Tio marah, semuanya sudah terkendali. Wajah tenangnya saat berbohong tadi sudah menyelamatkan semuanya. Astrid merasa lega sekarang.
"Kamu harus berterima kasih padaku, Luna." Batin Astrid.
Astrid masih deg-degan untuk berbohong kepada Tio tadi, namun sekarang sudah aman dan Astrid melanjutkan makan bersama Tio.