HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 89: Ruang Klub



“Ayo kita ke ruang klub!” Ucap Airi setelah menyelesaikan makan siangnya.


"Mohon bantuannya, kak!" Balas Rin.


Airi kemudian menata box makan siangnya lalu memasukan ke dalam tas. Airi kemudian bergegas menuju ruang klub untuk mengajari Rin bagaimana mengisi surat pengajuan yang telah dijelaskan oleh Airi tadi.


"Ayo kita lari ke ruang klub!" Airi segera bergegas.


Walau waktu istirahat masih panjang, Airi tidak mau membuang waktunya. Airi mengajak Rin dan Kana berlari menuju ruang klub.


“Kak, kenapa kita harus berlari?” Keluh Rin.


“Kita tidak boleh bersantai. Walau waktu istirahat masih cukup lama tetapi waktu istirahat ya waktu istirahat, pasti bel masuk akan berbunyi juga bukan? Kita tidak tahu berapa lama kita saat memeriksa peralatan nanti. Paling tidak dengan kita berlari sudah menambah beberapa menit dengan bergerak lebih cepat.” Jelas Airi sambil berlari.


“Sudah jangan mengeluh, ikuti saja kak Airi!” Balas Kana kepada Rin.


“Terserah kamu deh Kana, aku sudah capek”, lanjut Rin


Airi tersenyum melihat kedua juniornya itu. Mereka berdua bagaikan air dan minyak, sering bertengkar dan berdebat namun juga selalu akur. Airi paham dengan stamina Rin yang tidak sebaik Kana, tapi ini juga dihitung latihan juga untuk mereka.


Lalu sampailah mereka di ruang klub. Rin membuka kunci pintu dan Airi langsung memasuki ruangan. Lalu setelah itu, mereka bertiga langsung menuju ruang penyimpanan.


Airi kemudian menyuruh Rin mengeluarkan surat pengajuan tadi. Sekarang waktunya Airi mengajari Rin bagaimana cara mengisinya dengan benar.


“Rin, keluarkan surat tadi!” Suruh Airi.


“Oh, baik kak!” Balas Rin.


Rin mengeluarkan surat pengajuan yang dia lipat dan disimpan di sakunya. Rin membuka lebar-lebar surat pengajuan itu.


“Sekarang pahami kolom yang ada di situ seperti yang aku jelaskan tadi.” Lanjut Airi.


Rin kembali melihat surat pengajuannya. Di surat pengajuan itu tertera 3 kolom seperti yang sudah dijelaskan oleh kak Airi tadi.


[Nama barang | Unit baru(jumlah) | Pengajuan perbaikan(jumlah)]


Kemudian Rin menanyakan langkah pertama yang harus dia lakukan sekarang. Rin melihat ke sekeliling ruang penyimpanan sejenak lalu bertanya kepada kak Airi.


“Jadi kita di sini melihat-lihat barang apa yang kita butuhkan lalu jika kita menginginkan barang baru kita tulis di unit baru ini kan, kak? Sedangkan kita menemukan barang yang ingin kita perbaiki kita tulis di pengajuan perbaikan. Begitu kan, kak?” Rin sedikit paham.


“Betul sekali. Sekarang waktunya kita melihat apa yang kita butuhkan.” Balas Airi dengan bangga.


Mereka bertiga pun mulai melihat-lihat sekeliling. Mulai dari tempat bola, tempat raket lalu lemari, semua mereka buka. Di sini Rin mulai kebingungan.


“Aku tidak tahu apa yang harus kutulis.” Rin mengeluh.


Airi menengok ke arah Rin dan menggeleng kepalanya saat mendengar keluhan Rin. Padahal tadi anak itu sudah sedikit paham dengan cara mengisinya namun sekarang malah kebingungan dengan yang harus dia tulis. Padahal cukup banyak barang yang bisa diajukan menurut Airi.


“Ya ampun, masa iya aku harus turun tangan?” Airi membalas.


“Tolong kak, beri contoh 1 kali saja!” Rin memohon.


“Ya sudah, sini!” Airi mengulurkan tangannya.


Airi meminta surat pengajuan yang di pegang oleh Rin. Rin memberikan surat itu lalu Airi memberikan contoh benda apa saja yang diajukan. Rin memperhatikan apa yang Airi contohkan dengan sangat antusias.


“Kamu lihat di lemari bola ini, hanya tinggal 1 tabung bukan? Maka kita perlu bola tambahan.” Ucap Airi memberi tahu.


Rin baru tersadar jika bola tenis tinggal sedikit setelah kak Airi memberikan contoh. Sekarang Rin mulai paham.


“Oh begitu rupanya! Lalu berapa yang harus kita tulis?” Tanya Rin.


“Biasanya aku menulis 4 tabung. Karena di atas itu tidak bisa disetujui dan jika di bawahnya kita harus benar-benar hemat bola. Kita tidak pernah tahu kapan bola itu rusak dan belum lagi jika hilang. Biasanya 2 tabung kita pakai selama satu bulan bukan? Jadi 4 tabung pas untuk cadangan jika ada bola yang hilang atau rusak.” Jelas Airi.


Rin hanya bisa mengangguk-angguk mendengar penjelasan kak Airi. Jadi begitu cara menghitung barang-barang yang diajukan, karena semua ada budgetnya dan tidak boleh lebih.


“Ohhh.. Aku mengerti sekarang.” Rin mulai mengerti.


“Jangan cuma Oh doang! Nih tulis dan lanjutkan sendiri.” Airi mengembalikan surat itu kepada Rin.


Rin menerima kembali surat pengajuan dari kak Airi. Rin kemudian menulis apa yang telah dicontohkan kak Airi. Rin menulis 4 tabung bola tenis di surat pengajuan.


“Lalu apa lagi kak?” Rin bertanya lagi.


“Hmm, untuk net sepertinya masih bagus semua. Raket bagaimana Kana?” Tanya Airi kepada Kana.


Airi berpindah ke lemari penyimpanan net, sedangkan Kana sedari tadi sibuk memilah-milah raket untuk diperiksa kondisinya.


“Dari 9 raket, 2 raket senarnya sudah jelek kak!” Jawab Kana.


Airi kemudian memberi contoh lagi ke Rin setelah Kana menemukan ada 2 raket yang senarnya rusak. Airi menutup lemari penyimpanan net lalu mendekati Kana. Airi mengambil kedua raket yang rusak tadi.


“Baiklah, kita ajukan 1 raket baru dan pengajuan perbaikan 2 raket ini.” Lanjut Airi.


“Baik kak!” Balas Rin dengan serius.


Rin menulis apa yang disarankan oleh Airi. Rin akhirnya mengerti bagaimana cara mengisi surat itu. Kemudian Airi menambahkan beberapa catatan kepada Rin untuk ke depannya.


“Ingat! ini hanya barang yang kita butuhkan untuk kegiatan klub kita. Jika aku sudah lulus besok tugasmu akan lebih berat. Kamu harus mencari anggota baru dan kamu juga harus mengajukan seragam tenis untuk anggota baru. Seragam itu gratis untuk pertama kali, namun setelah itu jika seragam itu rusak, hilang atau tidak muat lagi maka harus membayar untuk mendapatkannya lagi.” Tambah Airi.


Rin sedikit terkejut dengan apa yang baru saja diberi tahu oleh kak Airi. Ternyata masih ada tugas lain selain mengajukan peralatan baru. Rin melihat ke surat pengajuan, tidak ada tulisan seragam di sana. Rin menjadi penasaran.


“Bagaimana lagi itu cara pengajuannya?” Rin penasaran.


“Ya aku tidak bisa mencontohkan itu, kemungkinan aku kan sudah lulus. Tanya pada guru pembimbing saja besok.” Jawab Airi.


Airi kemudian merapikan semua barang-barang di ruang penyimpanan. Rin menjadi bengong karena memikirkan apa yang harus dia perbuat ke depannya. Kemudian Rin tersadar ketika melihat kak Airi dan Kana beres-beres, apa sudah selesai tugasnya?


“Eh iya, aku lupa! Jadi cuma ini saja yang kita ajukan?” Rin memastikan


“Iya, sementara cukup itu saja.” Balas Airi.