HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 64: Permohonan Maaf



Andreas melihat Tio yang terbaring di tempat tidur. Dia tidak tega melihat keadaan Tio, Andreas berusaha untuk tetap tenang dan tidak terbawa emosi.


"Kasihan sekali kamu Tio, padahal kamu tidak memiliki salah apapun." Ucap Andreas lirih.


Kepala sekolah maju menghampiri ibu Tio. Kepala sekolah merasa bertanggungjawab atas semua ini. Beliau langsung meminta maaf kepada ibu Tio.


“Saya selaku kepala sekolah, mewakili semua dari kami pengambil keputusan kemarin. Kami benar-benar meminta maaf sebesar-besarnya atas musibah yang menimpa Tio. Kami sangat tidak memperhatikan dari sudut pandang Tio, jadi keputusan kami kemarin malah menimbulkan masalah baginya.” Kepala sekolah meminta maaf dan para guru menundukkan kepala.


Ibu Tio akhirnya mengetahui tujuan semuanya datang kemari. Ibu Tio sudah menerima dengan lapang dada atas musibah yang dialami Tio. Ibu Tio juga sangat menghormati keputusan kepala sekolah, meskipun sampai seperti ini tapi mereka yang melakukan ini pada akhirnya akan menerima balasannya dengan dikeluarkan dari sekolah.


“Sudah pak, sudah tidak apa-apa. Bahkan saya sudah memprediksi sejak lama hal ini pasti akan terjadi. Saya selalu menyuruh anak saya agar tetap di rumah demi keselamatan dirinya sendiri. Dan pada akhirnya musibah ini tidak dapat dihindari. Saya juga berterima kasih atas keputusan para guru sekalian.” Balas ibu Tio.


Mendengar semua itu, kepala sekolah langsung menanyakan alasan ibu Tio yang menyimpan rahasia tentang Tio selama ini.


“Kenapa ibu tidak melaporkan ke pihak berwajib jika keselamatan anak ibu terancam sejak kecil, bahkan ibu sendiri tahu jika anak ibu mengalami masalah serius?” Tanya kepala sekolah.


“Itu adalah hal yang tidak mungkin untuk dilakukan. Para pelaku masih anak-anak, bahkan sekarang pun mereka masih tidak bisa dijerat hukum karena masih di bawah 18 tahun atau masih di jenjang sekolah. Lagipula belum tentu juga mereka pelakunya. Tio belum sadar, jadi saya belum bisa memastikannya.” Jawab ibu Tio.


Kepala sekolah masih penasaran dengan asal-muasal perkara itu bisa terjadi. Kepala sekolah kembali bertanya tentang hal itu.


“Lalu kenapa banyak sekali orang yang tidak suka dengan Tio. Sehingga mereka melakukan pem-bully-an?” Lanjut kepala sekolah dengan penasaran.


Ibu Tio hanya bisa menunduk. Ibu Tio kembali melihat Tio yang masih tertidur lelap. Pada akhirnya ibu Tio harus menceritakan sesuatu yang bahkan tidak boleh diceritakan. Karena jika Tio tahu, dia pasti akan marah sekali.


“Itu semua bermula setelah ayah Tio meninggal karena sebuah kecelakaan kerja. Dia sangat terpukul atas kepergian sang ayah. Saat dia masuk sekolah, saya jarang sekali di rumah karena harus bekerja. Dia belajar dan belajar dengan giat, nilai-nilainya sangat bagus sehingga membuat saya bangga terhadapnya. Saat saya bertanya pada Tio kenapa nilainya bagus-bagus, dia menjawab karena tidak ingin mengecewakan ibunya. Dia berkata jika dia harus pintar dan suatu saat dia yang akan mencari uang sehingga ibunya tidak perlu bekerja lagi. Saya sangat terharu dengan niatan itu. Namun bagi orangtua lain sewaktu di SD menganggap Tio adalah anak yang spesial. Mereka semua selalu membanding-bandingkan anaknya dengan Tio. Perhatian orangtua teman-temannya hanya tertuju kepada Tio. Mulai sejak itu dia dibenci oleh semua temannya.” Jelas ibu Tio.


Luna, Aria, Andreas dan bahkan semua yang berada di tempat itu hanya bisa terdiam saat mengetahui alasan yang sebenarnya. Pantas saja jika Tio tidak mau menceritakannya. Bagi Luna dan Aria ini adalah kenyataan pahit dari kehidupan Tio, bagi Andreas ini adalah kesalahan terbesarnya karena telah berdebat dengan Tio kemarin. Dan yang terpenting, bagi kepala sekolah dan para guru, ini adalah dosa besar bagi mereka karena telah berbuat yang tidak seharusnya.


“Kami semua telah menyesal setelah mendengar semua ini. Tidak sepantasnya kami ikut campur terhadap apa yang di alami oleh Tio kemarin. Kami hanya ingin memberikan sanksi terhadap murid yang melewati batas, hanya itu.” Kepala sekolah menyesal.


"Sudah pak, saya sudah maafkan. Lagipula niat para guru juga sudah baik, namun hanya keadaannya saja yang salah." Balas ibu Tio.


Pak Indra sebagai guru yang paling dekat dengan Tio di sekolah sampai merasa gagal karena tidak bisa melindungi Tio yang sekarang hanya bisa berbaring di tempat tidur. Suaranya yang begitu semangat ketika mengganti pelajaran meski di hari minggu untuk saat ini juga belum bisa di dengar lagi. Pak Indra menanyakan keadaan Tio kepada ibunya.


“Lalu bagaimana keadaan Tio bu?” Tanya Pak Indra.


“Malang sekali nasib Tio, bu. Tidak perlu berterima kasih, itu sudah kewajiban guru mendidik muridnya.” Balas pak Indra.


Ketika ibu Tio mengobrol dengan guru olahraga, kepala sekolah mengambil amplop coklat yang telah disiapkan di tas miliknya. Kepala sekolah kemudian mengatakan tujuan mereka kemari.


“Ini bu, untuk mengganti biaya rumah sakit. Bagaimanapun juga, ini semua karena ulah kami. Kami harus bertanggung jawab.” Kepala sekolah memberi ibu Tio amplop yang berisi uang.


“Tapi pak, kita masih belum tahu penyebab Tio menjadi seperti ini. Lebih baik tunggu saat Tio sadarkan diri.” Ibu Tio menolak amplop itu.


“Baiklah begini saja, ibu simpan amplop ini dan kita tunggu saat Tio sadar nanti. Jika penyebabnya bukan karena siswa yang kami keluarkan kemarin, ibu boleh mengembalikannya.” Saran kepala sekolah.


Ibu Tio akhirnya menerima amplop itu dengan berat hati. Beliau sebenarnya tidak membutuhkan uang ini karena beliau sudah menyiapkan biaya itu sedari dulu. Ibu Tio kemudian menyimpan uang itu sampai Tio sadar nanti.


“Kalau begitu kami semua pamit pulang terlebih dahulu, tidak sopan beramai-ramai begini di ruang ICU. Kami juga hanya diberi waktu selama 10 menit untuk meluruskan ini.” Ucap salah satu guru.


“Baiklah para bapak ibu guru sekalian, terima kasih karena telah menjenguk Tio.” Ibu Tio menundukkan kepalanya.


Para rombongan bergegas meninggalkan ruang ICU. Yang tersisa sekarang tinggal para anggota OSIS. Andreas, Ryan dan Astrid ingin sedikit lebih lama menjenguk Tio.


"Aku masih tidak percaya dengan ini." Ucap Andreas.


"Aku juga merasa seperti itu." Balas Astrid.


"Ayo kalian berdua, kita harus segera pulang. Waktu untuk kita sudah semakin sedikit, aku tidak mau kalau sampai ditegur security nanti." Ryan mengingatkan.


Andreas melihat ke jam dinding yang ada di ruangan. Memang benar hari sudah semakin gelap. Ketika mereka semua sedang mengobrol santai, smartphone milik Aria berbunyi.


Kling.. (Bunyi notifikasi)


Aria membuka smartphone miliknya dan membaca pesan yang masuk


“Ke mana saja kamu kok belum pulang? Hari mulai malam." Pesan dari kak Airi.