HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 83: Kekhawatiran



Andreas dan Astrid datang menghampiri kami semua. Hari yang bagus untuk Andreas dan juga Lancer, Andreas terlihat senang karena bisa menang sedangkan Astrid hanya bisa menerima kekalahannya.


“Kalian hebat!.” Puji Luna.


“Hehe aku hanya tertolong oleh keberuntungan.” Andreas tertawa.


Astrid menghela nafas, dia masih dalam keadaan murung karena kalah dalam duel. Dia masih tidak menyangka serangannya akan gagal.


“Jujur aku masih belum terima. Masa iya ultimate Fenrir menyisakan HP yang sangat sedikit. Aku hampir menang tadi!” Balas Astrid.


“Tetapi kalian tetap hebat kok!” Sahut Aria.


Aria berusaha mencairkan suasana karena Andreas dan Astrid kembali berdebat. Hasil sudah didapat dan itu semua hanyalah sebuah simulasi, tidak perlu dipermasalahkan menang atau kalah.


Andreas kemudian menyadari jika ada yang kurang. Di mana Ryan? dia tidak terlihat sama sekali. Pantas saja tidak ada suaranya dari tadi.


“Loh mana Ryan?” Tanya Andreas.


“Ryan tadi..” Luna terhenti bicara.


Aku tidak bisa membiarkan Luna menjelaskan tentang hal yang bahkan dirinya pun tidak tahu apa yang sedang terjadi. Jika Luna salah bicara, mungkin saja Andreas dan Astrid akan langsung berlari mengejarnya dan itu akan menjadi tidak efektif jika kami semua berpencar.


“Tunggu Luna, biar Ryan saja yang menjelaskan. Ini informasi yang sensitif. Kita harus mendengar langsung dari Phoenix dan Ryan.” Potongku.


Luna berhenti bicara lalu melihat ke arahku. Luna kemudian mengangguk setelah aku bilang begitu kepadanya. Lalu Andreas dan semuanya juga langsung melihat ke arahku, Andreas penasaran dengan apa yang terjadi di sini sewaktu dia berduel tadi.


“Loh ada apa Tio? Kok sepertinya ada sesuatu yang penting?" Andreas penasaran.


“Iya ini memang penting. Makanya aku tidak bisa menjelaskan lebih lanjut. Aku tidak ingin menjelaskan sesuatu yang memang aku sendiri tidak tahu apalagi aku hanya mendengar sesaat.” Jawabku.


“Baiklah kita tunggu Ryan saja kalau begitu.” Lanjut Andreas


Andreas yang tadinya sangat penasaran akhirnya bisa memaklumi keadaan. Pada akhirnya dia setuju untuk menunggu informasi yang sebenarnya dari Ryan. Kemudian Luna mengalihkan pembicaraan kepada Astrid, Luna teringat dengan sifat Astrid yang menakutkan tadi.


“Hei Astrid! Sejak kapan kamu memiliki sifat seperti tadi? Tadi kamu begitu serius dan penuh amarah. Aku jadi takut mendekatimu sekarang.” Tanya Luna pada Astrid.


"Ehh.." Astrid terkejut dengan pertanyaan Luna.


Astrid terdiam sesaat setelah Luna bertanya kepadanya. Perhatian semuanya juga tertuju kepada Astrid sekarang. Banyak yang tidak menyangka jika Astrid bisa semenyeramkan tadi. Astrid kemudian menjelaskan kepada semuanya kenapa dia bisa seperti tadi.


“Ehm, yah itu karena aku sering bertengkar dengan orangtuaku saat di rumah. Menjadi anak orang kaya pun belum tentu membuat kita menjadi bahagia. Itulah yang aku rasakan.” Jawab Astrid dengan nada sedih.


Luna kembali mengulang kesalahannya. Dulu dia melakukannya saat bertanya kepada Tio kenapa dirinya tidak memiliki teman, lalu sekarang Luna menanyakan sesuatu yang sensitif kepada Astrid. Luna harus minta maaf kepada Astrid dengan segera.


“Maafkan aku, aku tidak tahu jika kamu memiliki masalah keluarga. Aku minta maaf.” Luna meminta maaf berkali-kali.


Luna merasa bersalah kepada Astrid dan berubah menjadi sedikit murung. Astrid kemudian mencoba menghibur Luna dan menjelaskan jika apa yang dia tanyakan tadi tidak apa-apa bagi Astrid.


“Tidak, aku tidak masalah dengan permasalahanku di rumah. Makanya aku suka dengan sifatku yang ini, aku yang ceria seperti ini sedikit menghibur diriku sendiri.” Astrid kembali ke sifat cerianya.


“Aku saja sebenarnya takut tadi. Sifat asli Astrid mengintimidasi pertarunganku.” Sahut Andreas.


"Apa kamu mau aku seperti itu terus, Andreas?" Tanya Astrid.


"Tidak lah, gila kamu!" Jawab Andreas menolak


Luna tersenyum saat melihat Andreas dan Astrid bertengkar. Jika mereka berdua sudah bertengkar seperti itu berarti semua sudah normal seperti biasa. Sekarang tidak ada lagi masalah berarti, Luna pun langsung tertawa karena senang.


"Hahaha.." Luna tertawa.


Di saat semuanya sedang bergurau di Battlefield, kemudian Ryan muncul dari hutan. Dia berlari terburu-buru, nafasnya terengah-engah. Setibanya di tempat berkumpul, Ryan langsung ditanyai oleh Andreas.


“Dari mana saja kamu?” Tanya Andreas kepada Ryan.


“Kita dimata-matai, informasi simulasi kita bocor!” Jawab Ryan dengan kelelahan.


“Apa..?! Apa yang terjadi saat aku bertarung tadi?” Tanya Andreas terkejut.


Ryan kelelahan dan juga tempat ini tidak aman. Ryan ingin istirahat sejenak lalu berencana mengajak kembali ke ruang OSIS. Ryan tidak berani berbicara panjang lebar di sini.


“Di sini tidak aman. Lebih baik kita kembali ke ruang OSIS untuk membahasnya.” Saran Ryan.


“Baiklah, ayo semua kita segera kembali.” Ajak Andreas.


“Battlefield, Out.” Kami semua keluar dari Battlefield.


Kami semua segera kembali ke ruang OSIS. Wajah Ryan menunjukkan betapa seriusnya dia. Memang Phoenix tadi bilang tentang Hydron dan sekarang mata-mata, ini sesuatu yang tidak dapat kami sepelekan.


Setelah di ruang OSIS, semuanya duduk di tempat masing-masing. Para monster juga muncul ke bentuk fairy. Lalu Andreas mulai bertanya kembali.


“Jelaskan secara rinci apa yang terjadi?” Tanya Andreas dengan serius.


Ryan mengumpulkan sisa-sisa tenaganya untuk mulai menjelaskan kepada Andreas. Dengan perlahan, Ryan pun mulai berbicara untuk menjawab pertanyaan Andreas.


“Tadi saat kalian simulasi, tiba-tiba Phoenix mencium aura Hydron.” Ryan mulai menjelaskan.


“Hydron katamu? Kamu tidak sedang main-main kan, Ryan?” Andreas memastikan.


“Aku tidak main-main. Karena saat Phoenix menunjukkan arah di mana aura itu berasal, aku menemukan seseorang dengan menggunakan hoodie.” Lanjut Ryan.


“Benar begitu Phoenix?” Tanya Andreas kepada Phoenix.


“Benar, aku tidak salah saat aura itu ada. Dulu aku melihat pertarungan legenda dan saat itu aku tahu betul aura Hydron yang menusuk.” Jawab Phoenix.


Andreas terlihat berpikir keras, tidak mungkin Ryan dan juga Phoenix sedang bermain-main sekarang. Mengingat jika Phoenix adalah saksi dari pertarungan legenda itu mau tidak mau Andreas juga harus mempercayainya.


“Jika Phoenix bilang begitu, aku sudah tidak dapat meragukannya. Dia memang kunci dari kami dalam pencarian kepingan Hydron.” Ucap Lancer.


“Lalu bagaimana dengan mata-mata itu? Kamu tahu orangnya?” Tanya Andreas.


“Sayang sekali aku hanya melihat bagian belakangnya. Dia mengenakan hoodie. Saat aku hendak menyergapnya, dia log out dari Battlefield. Namun hoodie-nya sama seperti milik rank 1, aku berani menjamin.” Jawab Ryan.


Andreas mulai mencurigai jika ada yang telah memberikan informasi kepada orang luar OSIS sekarang. Andreas memutuskan bertanya kepada semuanya.


“Sebenarnya siapa dia? Di sini adakah yang berbicara dengan orang asing tadi siang?” Tanya Andreas ke semua orang.


“Aku tidak.” Jawab Astrid.


“Aku dan Tio langsung ke kelas.” Balas Luna


“Aku dan Kevin bersamamu tadi.” Ryan mengingatkan.


“Aku juga tidak bertemu orang asing.” Jawab Aria.


Semuanya terlihat aneh karena semua menjawab dengan jujur. Andreas masih tidak tahu bagaimana informasi OSIS bisa sampai ke luar tanpa ada yang memberi tahu.


“Lalu kenapa informasi ini bisa bocor?” Andreas mulai kesal.


Semua orang kemudian berpikir keras. Bagaimana orang itu bisa tahu tentang rencana kami melakukan simulasi. Jika orang itu di antara kami, itu tidak akan mungkin karena kami semua ada di sana. Lalu siapa orang itu sebenarnya? Otakku juga berpikir keras karenanya.


"Aku sudah tidak tahu lagi." Aku menyerah memikirkannya


"Aku juga sudah bingung, Andreas." Balas Ryan.


Andreas juga sebenarnya sudah pusing memikirkan siapa sebenarnya mata-mata itu, Andreas pun memutuskan untuk melakukan sesuatu.


“Baik, kita akan lakukan ini besok!” Andreas kembali serius.