HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 123: Teman Ibu Datang



Setelah aku selesai mandi dan memakai baju, aku keluar kamar lalu menuju ke ruang makan. Aku duduk sambil melihat ibu yang masih memasak. Lalu aku teringat dengan siapa yang akan mengantar kami besok.


“Bu, memangnya sudah ada yang bisa mengantar kita besok?” Tanyaku.


Belum juga ibu menjawab tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari depan. Aku langsung kaget, dengan cepat aku bertanya kepada ibu lagi.


“Siapa itu bu? Ibu tadi tidak bilang ke selain pak guru kan?” Tanyaku lagi.


Aku menanyakan itu karena jarang sekali ada orang yang bertamu ke rumah kami. Sedangkan untuk waktu semalam ini, cukup mencurigakan siapa yang datang ke sini. Aku takut jika yang datang adalah polisi atau belum lagi orangtua anak-anak yang hilang itu.


“Tidak kok! Coba lihat sana, ibu nanggung sebentar lagi selesai.” Suruh ibu.


“Ya sudah.” Balasku.


Aku berdiri lalu perlahan menuju pintu depan. Aku mengendap-endap lalu mengintip sedikit dari balik kaca siapa yang datang ke sini. Ada yang aku takutkan selain yang sudah aku sebutkan tadi, akan gawat jika yang datang Luna atau siapapun itulah yang sedang aku ingin hindari. Rencanaku untuk pergi dari rumah mungkin akan gagal jika yang datang adalah salah satu dari anggota OSIS. Namun setelah melihat keluar, ternyata ada seorang wanita yang aku kenal. Wanita itu membawa mobil yang sudah terparkir di depan rumah. Aku pun segera membuka pintu depan.


“Oh ternyata tante Rose yang datang." Aku menyambut tante Rose.


“Ternyata Tio yang membuka. Apa kabar kamu? Sudah sembuh?” Tanya tante Rose


Aku sangat lega ternyata yang datang adalah tante. Aku sudah tidak perlu khawatir dan juga waspada lagi sekarang. Tidak ada yang tahu lagi rencanaku untuk pergi dari sini.


“Syukurlah sudah baikan, silahkan masuk tante.” Aku mempersilahkan tante Rose masuk


Tante Rose adalah teman baik ibu, dia adalah pemilik butik pakaian yang cukup besar di kota dan dia juga yang sering kami minta tolong untuk mengantar ke stasiun jika kami ingin ke rumah kakek. Karena stasiun kereta yang digunakan untuk bepergian jauh ada di seberang kota jadi kami mau tidak mau meminta tante untuk mengantar


Jalur kereta di kota hanyalah untuk kereta listrik yang hanya di fokuskan untuk para pekerja serta pelajar dan mahasiswa, jadi kami harus ke stasiun seberang kota agar bisa naik kereta tujuan tempat kakek kami. Jaraknya cukup jauh, jika naik taksi kami harus membayar cukup banyak dan juga jika kami naik kereta commuter line kami akan kesulitan saat bertemu jam sibuk dengan bawaan banyak.


"Tante masuk ya!" Ucap Tante Rose.


Tante masuk lalu langsung menghampiri ibu yang sedang di dapur. Tante meletakkan barang bawaannya di kursi ruang makan, lalu mereka pun saling sapa. Aku kembali duduk di kursiku tadi sambil mendengarkan obrolan mereka.


"Melisa, apa kabar kamu?" Tanya Tante Rose kepada ibu.


Ngomong-ngomong, Melisa adalah nama ibuku. Nama yang cantik secantik ibu. Ibu juga memiliki rambut panjang yang sangat indah. Belum lagi semangatnya dalam mengurus dan juga membesarkan diriku. Ibu benar-benar sosok yang hebat di mataku.


“Baik! Lama tidak bertemu kita. Tumben kamu ke sini cepat?” Tanya ibu ke tante Rose


“Aku sedikit penasaran dengan kalian, jadi aku memutuskan untuk tutup lebih awal dan datang ke sini. Lagipula sekali-sekali tutup awal kan tidak apa-apa.” Jawab tante Rose.


“Nanti kami jelaskan setelah makan, kamu belum makan bukan?” Tanya ibu lagi.


“Belum lah, aku langsung kesini setelah menutup butik tadi.” Jawab tante Rose.


“Ya sudah duduk dulu, sebentar lagi matang.” Balas ibu.


“Sebentar aku ambilkan, ini juga sudah selesai kok.” Balas ibu lagi.


Ibu kemudian mematikan kompor dan juga melepas celemek. Ibu mengajak tante ke kamarnya. Aku masih duduk sambil memainkan smartphoneku yang sudah mati ini. Ini mungkin hari terakhir aku melihat smartphone ini karena mulai besok selama aku pergi aku tidak akan menyalakannya.


"Lapar!" Ucapku.


Ibu kembali ke dapur, ibu kemudian mulai menyajikan makan malam. Ibu mengeluarkan nasi yang sudah matang dari rice cooker, menaruh sayur dan lauk yang sudah digoreng ke piring lalu membawanya ke meja makan. Aku kemudian mengambil gorengan sambil mengajak ibu mengobrol.


“Ternyata ibu sudah memberitahu tante?” Aku memastikan sambil memakan gorengan.


“Ya seperti biasa kan? Jika kita ingin ke rumah kakek kita minta tolong ke tante.” Ibu duduk di sampingku.


Aku melanjutkan memakan gorengan yang masih panas ini. Aku mengunyahnya dengan melawan panasnya gorengan yang baru saja matang itu. Mau bagaimana lagi, aku sudah lapar dari tadi. Setelah beberapa saat kami menunggu, tante datang ke ruang makan.


“Ah segarnya, akhirnya aku bisa lepas dari pekerjaan hari ini!” Ucap tante Rose lega.


Tante kemudian duduk di seberang ibu. Ibu pun menyiapkan piring dan juga sendok untuk tante. Tante Rose terlihat sangat antusias karena tante merasa masakan ibu itu enak.


“Ayo makan dulu, jika ingin bertanya nanti setelah makan. Kita nikmati makan malam ini.” Ucap ibu ke tante Rose.


"Oke, aku juga mau mengisi perutku terlebih dahulu." Balas Tante Rose.


Ibu kemudian menawarkan nasi kepada tante Rose dan kemudian tante mulai mengambil nasinya. Sedangkan aku yang sudah menahan lapar sejak tadi malah dibuat menunggu untuk itu.


"Ibu, aku lapar." Keluhku.


"Ah, maaf. Ini nak nasinya." Balas ibu.


Ibu kemudian membawakan nasi juga mengambilkannya dan menaruhnya di piringku. Sekarang aku bisa langsung mengambil sayur dan lauk untuk segera lapar. Perutku sudah meronta-ronta meminta jatah makan.


"Ternyata yang lapar Tio, tuh lihat anakmu malah kamu diamkan begitu." Ucap tante Rose ke ibu.


"Sudah diam saja kamu, Rose. Mana tahu kalau Tio sudah lapar. Aku hanya kasihan setelah kamu bekerja keras seharian dan belum makan." Balas ibu.


"Sudah bu, tante. Aku tidak apa-apa. Lebih baik kita segera makan." Aku menyela sambil memegang sendok.


"Baiklah, selamat makan!" Ucap tante Rose.


"Selamat makan!" Aku dan ibu serentak.


Kami semua pun melanjutkan makan malam bersama sambil mengobrol santai. Ibu dan tante mengobrol saling bahas dengan keadaan butik selama ibu tidak datang ke sana. Ya memang akhir-akhir ini ibu terlalu fokus merawatku. Aku jadi kasihan kepada ibu dan tidak enak kepada tante Rose yang mengurus butik sendiri. Aku hanya berharap setelah aku pulang dari desa nanti aku akan sembuh total dan ibu bisa kembali bekerja di butik bersama tante.


Aku pun segera melahap makananku. Sungguh betapa enaknya makanan ibu malam ini, atau mungkin aku yang memang sudah sangat lapar. Jika makanan malam ini seenak ini, rasanya aku akan nambah nanti!