HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 90: Menyerahkan Surat



Aria telah sampai di kantin. Dia sekarang sedang berdiri di depan mesin penjual minuman sambil memilih-milih apa yang akan dibeli Aria. Seperti biasa Aria membeli jus jeruk, namun ternyata jus jeruknya habis. Terpaksa Aria membeli sama seperti titipan Airi yaitu teh hijau.


"Yah.. Jus jeruknya habis!" Aria sedikit kecewa.


Aria mengeluarkan dompetnya, dia mengambil beberapa koin untuk membeli minuman. Setelah memasukkan koin dan memilih minuman, apa yang dibeli Aria keluar dari mesin.


“Fuh.. Tinggal ke ruang klub sekarang.” Ucap Aria.


Aria membawa 2 kaleng minuman di kantong plastik. Jujur Aria belum pernah minum teh hijau yang dipesan oleh kakaknya. Yang ada dipikirannya hanyalah apakah itu enak atau tidak?


Aria sekilas melihat para laki-laki di OSIS sedang berkumpul di kantin namun tidak ada Tio. Aria sebenarnya ingin menyapa mereka sebentar namun teringat dia dititipi oleh kakaknya, Aria tidak memiliki banyak waktu.


Aria segera bergegas kembali menuju ruang klub tenis untuk mengantarkan minuman itu. Aria berjalan meninggalkan kantin yang ramai sambil mengipaskan tangannya. Karena siang itu terasa sangat panas bagi Aria.


“Untung waktu istirahat masih lama, mana ruang klub tenis cukup jauh. Semoga minuman ini masih tetap dingin sampai sana nanti.” Keluh Aria sambil melihat jam di smartphonenya.


Karena cuacanya sangat terik dan panas, Aria berhenti sebentar di taman yang dia lewati menuju ruang klub. Aria mengeluarkan kunciran dari kantongnya.


“Panasnya, lebih baik aku kuncir rambutku!” Aria sambil mengipaskan tangannya.


Aria menguncir rambut panjangnya menjadi ponytail untuk mengurangi rasa gerah yang dia rasakan. Penampilan Aria menjadi sedikit berubah, dia tidak terlalu suka jika rambut indahnya dikuncir seperti itu sebenarnya. Aria lebih suka rambutnya terurai bebas seperti biasanya karena menurut dirinya rambut panjang yang terurai lebih menunjukkan sifat feminim. Setelah selesai menguncir rambut kemudian Aria melanjutkan berjalan menuju ruang klub tenis. Sesampainya di sana, Aria menemukan ruang depan sepi.


“Permisi.. Kak Airi!” Teriak Aria.


Aria melihat sekeliling ruangan yang kosong. Ini aneh, katanya mereka bertiga tadi ke ruang klub? Akan tetapi di sini tidak ada orang sama sekali. Aria memutuskan untuk mengintip ke dalam lalu mendengar suara dari ruangan sebelah. Aria langsung memasuki ruang klub dan menuju pintu yang terbuka.


“Oh kalian sedang asyik rupanya!” Ucap Aria.


Aria menemukan kakaknya beserta kedua gadis tadi sedang asyik mengecek peralatan klub. Pantas jika mereka tidak mendengar ketika Aria berteriak tadi.


“Eh Aria sudah datang!” Balas Airi.


“Aku sudah berteriak di depan tadi, tapi tidak ada yang membalas jadi aku langsung masuk saja. Sudah selesai kalian?” Tanya Aria.


“Oh maaf, maaf. Kami sedang serius barusan. Ini baru saja selesai.” Jawab Airi.


“Ya sudah, nih pesanannya!” Aria memberikan minuman Airi.


Aria mengambil satu kaleng minuman lalu memberikan minuman beserta kantongnya kepada Airi. Airi kemudian menerimanya.


“Terima kasih!” Airi menerima kantong dan membuka minuman di dalamnya.


Airi sedikit menyadari ada yang berbeda dengan Aria. Biasanya dia minum jus jeruk tapi kenapa saat ini dia malah minum teh hijau seperti miliknya?


"Aria, tumben tidak beli jus jeruk?" Tanya Airi.


"Jus jeruknya habis kak! Aku bingung mau beli apa jadi aku terpaksa membeli ini." Jawab Aria dengan kecewa.


"Memangnya kamu doyan?" Airi memastikan.


"Sedikit pahit sih teh ini, tapi rasanya ternyata tidak buruk." Balas Aria.


"Syukurlah kalau kamu suka." Airi terlihat lega.


Airi sedikit takut karena Aria tidak suka minuman yang pahit. Maka dari itu dia menanyakan apakah adiknya suka dengan teh hijau yang ada sedikit pahitnya itu. Karena jika Aria tidak menyukai sesuatu pasti akan langsung dibuang dan untuk minuman itu benar-benar sayang jika dibuang.


Disaat Aria dan Airi sedang minum, Rin langsung bertanya kepada Aria. Rin ingin tahu apakah Kevin masih ada di kantin atau tidak. Karena tadi Kevin pamitnya kepada Rin mau pergi ke kantin.


“kak Aria, tadi di kantin lihat Kevin?” Tanya Rin.


“Aku sempat melihatnya di sana, ada apa?” Jawab Aria.


“Eh tunggu sebentar!” Sahut Airi dengan segera.


Airi langsung menghentikan Rin yang akan segera berlari. Airi sedikit mengingatkan tugasnya yang terakhir yang mungkin saat ini Rin lupakan.


“Ada apa lagi kak?” Balas Rin.


“Kunci dahulu ruangan ini, bukankah kamu ketuanya? Aku juga ingin kembali ke kelas.” Lanjut Airi.


Airi sudah tidak ada tanggungan lagi di ruang klub ini karena semua kuncinya sudah dia serahkan kepada Rin yang mana adalah ketua baru. Memang Rin masih baru menjadi ketua, tapi tugas sekecil itu saja dia lupa.


“Dasar kamu ya! Terburu-buru juga tidak segitunya, Rin.” Sela Kana


“Ehehe, aku lupa!” Rin tertawa.


Kali ini mereka berdua tidak bertengkar karena memang Rin yang salah telah lupa untuk mengunci ruang klub. Airi pun segera mengajak Aria keluar dari ruang klub.


“Kalau begitu aku pergi dulu. Ayo Aria kita kembali ke kelas.” Ajak Airi.


Airi dan Aria pun pergi meninggalkan Rin dan Kana. Kemudian Rin mengunci ruang klub dan Kana membawa 2 raket rusaknya. Mereka segera menuju kantin. Sampai di kantin, Rin dan Kana melihat sekeliling dan langsung menemukan Kevin bersama Andreas dan Ryan


“Anu permisi kak ketua OSIS, kami ada perlu sebentar dengan Kevin.” Sela Rin dengan sedikit malu.


“Oh, silahkan!” Balas Andreas.


Rin datang mendekati Kevin, dia juga memberikan surat pengajuan kepada Kevin.


“Ini Kevin, aku sudah selesai mengisi suratnya.” Rin menyerahkan surat itu.


“Sebentar, aku lihat dulu.” Kevin menerima surat pengajuan itu.


Kevin mengamati sesaat surat itu. Dari jumlah dan barang-barang yang diajukan, Kevin merasa familiar


“Ini pasti kak Airi yang mengisi?” Tanya Kevin.


“Tidak ya! Itu semua aku yang mengisi.” Rin menyangkal.


“Tidak juga, kak Airi yang memberikan saran.” Sahut Kana


“Ssshhh... Diam kamu Kana!” Rin menyuruh Kana diam.


“Sudah kuduga, soalnya aku hapal dengan apa yang kak Airi ajukan.” Lanjut Kevin.


Kevin sudah hafal dengan benar dengan barang-barang dan jumlah yang ditulis kak Airi, Rin tidak bisa mengelabuinya di sini. Setelah Kevin selesai melihat surat pengajuannya, Kana memberikan kedua raket rusak itu kepada Kevin.


“Oh iya Kevin, ini raket yang rusak.” Kana menyerahkan raket yang dia bawa.


“oke, nanti akan kuajukan. Sepertinya masih di bawah budget.” Balas Kevin


“Baiklah kalau begitu, kami kembali dulu. Permisi kak!” Rin pamit kepada Andreas.


“Ya, silahkan!” Balas Andreas.


Rin dan Kana berlari meninggalkan tempat Kevin berkumpul. Di sini Ryan sedikit merasa aneh kenapa kedua gadis tadi yang memberikan surat pengajuannya.


“Loh kok bukan kak Airi yang datang?” Ryan sedikit penasaran


“Kak Airi sudah memindahkan posisi ketua klub kepada Rin.” Jawab Kevin.


“Oh masuk akal juga. Kelas 3 sudah tidak ada waktu untuk urusan klub lagi.” Lanjut Ryan yang mulai paham.