HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 147: Berkeliling Kota



“Aria, aku capek! Bagaimana kalau kita istirahat sebentar?” Tanya Luna yang sedang mengayuh sepedanya.


“Hmm.. Itu di depan ada mesin minuman. Kita beli minum saja dulu.” Balas Aria yang membonceng Luna.


Sudah hampir 3 minggu mereka bersepeda keliling kota setiap sore sepulang sekolah untuk tetap mencari keberadaan Tio. Sebelum mereka mulai berkeliling, mereka berdua terlebih dahulu mengecek rumah Tio dan jika masih kosong mereka baru bersepeda berdua. Namun hingga saat ini Tio belum pulang, rumahnya masih tetap kosong tidak ada orang.


Luna kemudian membuka dompetnya lalu mencari uang koin untuk digunakan membeli minuman, begitu juga dengan Aria. Setelah mereka membeli minum, mereka duduk sejenak di kursi yang ada di sebelah mesin minuman.


“Aaaahhhh... Segarnya!” Ucap Luna setelah meminum minumannya.


Aria masih memegangi minumannya, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Aria melihat minumannya dengan sangat serius, tak lama kemudian dia pun membuka minumannya.


“Tapi hari ini tetap masih belum ada hasil.” Keluh Aria lalu mulai meminum minumannya.


“Yah mau bagaimana lagi? Kita juga sudah berusaha mencarinya setiap hari kan?” Balas Luna memainkan kaleng minuman.


“Tapi ini sudah hampir 3 minggu Luna, aku masih ingin mencarinya. Bagaimana kalau kita pulang sedikit malam?” Tanya Aria.


Luna menoleh ke arah Aria, dia tidak mau lagi menuruti kemauan Aria lagi. Sudah berapa kali Luna dimarahi oleh Airi karena pulang kemalaman beberapa kali. Kali ini Luna harus sedikit melawan kemauan Aria tanpa harus membuatnya marah.


“Tidak, aku tidak mau. Apa kamu tidak ingat aku kena marah Airi sewaktu kita berkeliling malam-malam itu karena kamu pulang kemalaman? Aku juga kena marah ibuku jadi aku tidak ingin mengulanginya.” Luna menolak.


“Kali ini saja, ya.. ya..?” Aria memohon kepada Luna.


Aria masih belum menyerah rupanya, dia terus memohon kepada Luna agar mau menemaninya sedikit lebih lama lagi. Namun keputusan Luna sudah bulat, dia tetap menolak dengan alasan keselamatan mereka sendiri.


“Tidak Aria, sekali tidak ya tidak! Bukankah kita sudah sepakat dengan Airi kalau kita hanya diizinkan sampai jam 6 sore saja. Itu juga demi keselamatan kita, tidak baik kita berada di luar pada malam hari bukan hanya karena ancaman musuh tapi juga hal lain.” Tegas Luna.


Aria langsung terdiam dan dia juga sedikit cemberut setelah Luna bilang seperti itu. Aria pun pada akhirnya memikirkan apa yang dikatakan Luna. Dia tidak ingin gegabah jika memang belum bisa menemukan Tio. Namun tetap saja, Aria masih merasa sedikit kesal.


“Yahhh... Ya sudah deh, apa boleh buat!” Aria cemberut kemudian meminum minumannya.


Minuman Luna sudah habis dan hari pun mulai sore, Luna langsung mengajak Aria melanjutkan bersepeda sebelum dia berubah pikiran lagi. Luna bergegas berdiri untuk melanjutkan pencarian mereka.


“Ayo kita jalan lagi, sudah sore nih!” Ajak Luna sehabis membuang kaleng minuman ke tempat sampah.


“Ayo, sekarang biar aku yang depan, kamu bonceng saja!” Balas Aria.


Setelah Aria menghabiskan minumannya lalu membuang kaleng minuman itu, mereka berdua kembali melanjutkan bersepeda keliling kota. Luna sekarang yang di belakang, dia kemudian melihat kesana-kemari daerah yang dilewatinya.


Mereka tidak sembarang berkeliling tanpa tujuan. Luna menyarankan melewati tempat yang kurang ramai serta tempat seperti minimarket karena memang Tio jarang keluar ke tempat ramai, namun mereka juga melewati beberapa tempat ramai kalau kalau ada kemungkinan menemukan Tio di tempat itu.


Mereka juga sering berhenti di perempatan jalan, sambil menunggu lampu hijau untuk menyeberang jalan mereka pun melihat sekitar perempatan. Tak lupa, mereka juga telah mencari toko-toko game yang ada di kota. Karena Tio suka bermain game jadi di toko-toko itu kemungkinan terbesar untuk menemukannya. Namun ketika hari sudah mulai gelap, hari ini mereka juga tidak mendapatkan hasil apa-apa.


“Aria, ayo kita pulang saja. Hari mulai gelap nih!” Ajak Luna


Aria pun berhenti setelah mendengar ajakan Luna. Dia berusaha untuk tidak egois dengan kemauannya sendiri. Pada akhirnya Aria menyetujui untuk pulang ke rumah.


“Baiklah, hari ini cukup sampai sini kalau begitu.” Balas Aria


“Sini aku yang depan!” Luna turun dari boncengan.


Saat perjalanan pulang, Aria menanyakan sesuatu kepada Luna. Aria ingin tahu apakah Luna sudah menelepon Tio lagi beberapa hari terakhir. Aria pernah menelepon namun tetap saja masih tidak aktif.


“Luna, apa kamu pernah menelepon Tio lagi setelah kemarin itu?” Tanya Aria.


“Beberapa hari sekali aku meneleponnya, nomornya masih nonaktif jadi aku meninggalkan pesan suara. Agar saat dia mengaktifkan lagi smartphonenya dia langsung menerima pesan dariku.” Jawab Luna.


“Hmm.. Jadi begitu ya!” ucap Aria setelah mendengar Luna.


Kenapa hal itu tidak terpikirkan olehnya? Selama ini Aria hanya menelepon Tio untuk mengecek apakah nomornya aktif atau tidak. Namun untuk pesan suara benar-benar di luar pemikiran Aria, ada baiknya dia juga mencobanya.


“Oh iya sekarang jam berapa?” Tanya Luna.


“Sekarang.. Gawat kurang 15 menit lagi jam 6!” jawab Aria dengan panik.


“Aku harus cepat!” Lanjut Luna.


Luna mempercepat mengayuh sepedanya. Dia takut jika harus dimarahi Airi lagi seperti kemarin. Meskipun Airi kembaran Aria, tapi dia lebih galak dan berbeda jauh dengan Aria yang pendiam. Lagipula Luna juga tidak ingin membuat Airi khawatir jika mereka pulang malam.


Mereka berdua akhirnya sampai di rumah Aria. Airi sudah menunggu di depan rumah dan jam saat ini menunjukkan pukul 6:10 petang. Mereka terlambat 10 menit dari perjanjian.


“Kalian terlambat 10 menit!” Ucap Airi yang sudah berdiri di depan rumah.


“Ah kakak cuma 10 menit kok!” Sahut Aria.


“Iya Airi, yang penting tidak kayak kemarin paling tidak.” Lanjut Luna.


wajah Airi yang sangat serius melihat kedua orang yang baru saja pulang itu langsung berubah dengan tawa dari Airi. Mereka berdua sangat tidak menyangka bahkan di saat seperti ini, Airi masih bisa bercanda.


“Hahaha.. Aku hanya bercanda, terima kasih sudah diantar pulang lagi.” Ucap Airi kepada Luna.


“Dasar kamu! Ya sudah aku pulang dulu ya! Sampai besok, dah..” Luna melambaikan tangannya lalu mulai mengayuh sepedanya.


“Ayo masuk, aku mau masak.” Ajak Airi.


“Baik kak.” Balas Aria.


Aria kemudian teringat dengan ucapan Luna tadi. Dia mengeluarkan smartphonenya lalu mencoba menelepon nomor Tio sebelum masuk rumah.


Tuuuttt.. (Suara panggilan)


“Nomor yang anda tuju tidak aktif, silahkan tinggalkan pesan.” Suara operator.


Aria pun langsung meninggalkan pesan suara, dia mengeluarkan semua yang selama ini dia rasakan dan pendam sendiri.


“Tio, cepat pulang. Aku merindukanmu!” Aria meninggalkan pesan.


Setelah itu, Aria langsung masuk ke dalam rumah mengikuti kakaknya. Aria juga harus mandi sebelum makan malam siap.