HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 24: Gadis Kembar



Seorang gadis berambut ungu panjang muncul dari balik pohon tempatnya bersembunyi. Jujur saja gadis ini tipeku sekali, rambut panjangnya sungguh menawan. Tunggu, apa yang sedang aku pikirkan? Jangan terlalu menghayal Tio.


“Baiklah, aku pulang dulu kalau begitu." Kataku pada Luna.


“Oke, sampai jumpa besok senin." Luna membalas dengan senyuman.


Aku berjalan pulang dan melewati gadis berambut ungu di depanku. Dia melihat terus ke arahku dari tadi dan aku pun menghiraukannya. Aku belum tahu tentang gadis ini seperti apa?


Tio mulai berjalan menjauh. Namun Aria seolah terpaku akan sesuatu. Luna memanggil Aria yang melihat Tio berjalan pulang dan sama sekali tidak di gubris olehnya.


“Aria!" Panggil Luna.


Aria diam terpaku. Luna mencoba memanggilnya lagi.


“Oiiii Aria!" Tangan Luna melambai di depan mata Aria


Bahkan Luna sampai melambaikan tangannya di depan wajah Aria. Aria masih saja diam, ada apa dengan anak ini?


“Sadarr Aria...” Luna memegang pundak Aria.


“Ehh, ada apa Luna?” Aria kaget.


Akhirnya anak ini sadar juga, Luna mengira kalau Aria tadi kesurupan. Habisnya dia tidak mendengar panggilan Luna.


“Kamu itu yang kenapa? Melamun melihat Tio pulang." Tanya Luna.


“Ehm, tidak apa-apa kok." Jawab Aria.


"Mencurigakan." Luna memandangi Aria.


Aria merasa tidak nyaman dilihat oleh Luna seperti itu. Aria menyuruh Luna agar menghentikan itu.


"Beneran aku tidak apa-apa. Aku hanya bengong tadi, jadi jangan terlalu curiga padaku." Balas Aria


Luna mengesampingkan tentang Aria yang bengong tadi. Hari sudah sore, di mana kakak Aria sekarang? Lama sekali tidak muncul-muncul.


“Lalu kakakmu di mana?” Tanya Luna.


“Dia ada urusan sebentar dengan teman-temannya tadi.” Jawab Aria.


Tak lama kemudian, ada seorang gadis berlari menuju Luna dan Aria. Gadis itu berambut ungu pendek belah kiri dan memakai jepit rambut di atas alis kirinya.


“Oooooiiiii... Maaf aku terlambat." Teriak Airi.


Luna dan Aria menoleh ke arah suara. Akhirnya Airi datang juga.


“Kakak ini memang selalu seperti ini. Membuat janji tapi selalu datang paling akhir." Balas Aria sesampainya Airi di tempat Luna dan Aria berdiri.


Airi dan Aria adalah kakak beradik dan juga mereka adalah saudara kembar. Jika rambut mereka sama panjangnya mungkin akan sulit bagi orang lain mengenali satu sama lain. Namun Airi tidak menyukai rambut panjang seperti Aria, jadi Airi lebih suka rambut pendek.


“Lalu kenapa kamu mengajakku lagi Airi?” Tanya Luna.


“Hehe, karena pemilik toko buku itu adalah kenalan ayahmu jadi kalau kamu yang membeli kita akan mendapatkan diskon." Airi tersenyum menggoda Luna.


Selalu saja seperti ini. Semua berawal ketika Luna diajak oleh ayahnya ke toko buku kenalan ayah Luna. Di sana dia bertemu dengan Airi yang sedang membeli buku. Karena Luna kebetulan mengenal Airi, jadi pemilik toko memberikan diskon kepada Airi dan sekarang Airi malah ketagihan.


“Hhaaaahh, jadi aku hanya kamu manfaatkan untuk mencari diskon?" Balas Luna dengan lemas.


“Tolong bantulah kali ini! Aku sebentar lagi akan banyak ujian untuk kelulusan. Uang jajanku tidaklah banyak." Jelas Airi dengan nada sedih.


“Apa boleh buat deh, ayo berangkat. Hari semakin sore ini." Ajak Luna.


“Ayooo." Airi dan Aria serentak.


Luna menuntun sepedanya diikuti oleh Airi dan Aria. Merekapun bergegas menuju toko buku karena Luna tidak ingin pulang dalam keadaan gelap. Selain Luna takut dimarahi ibunya, dia juga masih teringat tentang kejadian tadi. Luna sedikit ada rasa takut saat pulang.


Saat di perjalanan, ada hal yang membuat Luna penasaran.


“Hei Aria." Panggil Luna.


“Ada apa Luna?” Aria membalas.


“Kenapa kamu memanggil Airi kakak?” Tanya Luna.


“Ya karena dia kakakku." Jawab Aria dengan polos.


Betapa polosnya anak satu ini. Yang di maksud Luna bukan itu, Luna juga sudah tahu jika Airi kakaknya Aria. Airi yang mendengar itu langsung tertawa.


“Hahahaha." Airi tertawa terbahak-bahak.


“Sungguh aku menyesal menanyakan itu padamu Aria." Sesal Luna.


Aria belum paham dengan apa yang di maksud oleh Luna. Aria spontan saja menjawab seperti itu tadi.


“Lalu apa maksudmu?" Aria meminta penjelasan.


“Maksudku bukankah kalian kembar? Harusnya kalian bertingkah seperti sebaya kan? Tetapi kenapa kamu formal ke Airi." Jelas Luna.


Nah jika pertanyaannya seperti itu Aria paham. Aria kemudian menjelaskan kepada Luna kenapa dia memanggil Airi dengan kakak.


“Oh itu karena aku sangat menghormati kak Airi. Memang kita kembar, tapi aku dan dia juga beda tingkat kan? Kak Airi kelas 3 sedangkan aku masih kelas 2. Jadi sekalian saja aku panggil kak agar hubungan kami seperti kakak adik yang sesungguhnya." Jawab Aria.


“Nah itu yang membuatku penasaran. Kalian kembar tapi kenapa kalian beda tingkat? Apakah kamu pernah tinggal kelas?” Tanya Luna kepada Aria.


“Hoi sembarangan, aku tidak sebodoh itu." Aria cemberut mendengarnya.


“Hahaha." Airi tertawa lagi.


Kemudian Airi menjelaskan apa yang ditanyakan Luna. Ada alasan di balik semua itu dan alasannya cukup simpel sebenarnya.


“Kamu masih ingat peraturan masuk SD kan?” Tanya Airi kepada Luna.


“Masih, memangnya kenapa sampai SD juga ikut di bahas?" Jawab Luna.


“Jadi sebenarnya aku dan Aria lahir di penghujung tahun pada tengah malam. Aku lahir 31 desember sedangkan Aria lahir di 1 januari. Nah di peraturan masuk SD jika seorang anak berulang tahun pada tahun dibukanya pendaftaran siswa baru, walau aku berulang tahun di penghujung tahun tapi aku sudah bisa ikut pendaftaran masuk SD. Sedangkan Aria lahir di tahun yang berbeda, dia tidak bisa masuk dan harus menunggu tahun ajaran baru." Jelas Airi.


Luna paham sekarang. Memang benar apa yang di katakan Airi. Sewaktu masuk SD di bulan Juni, Luna juga berulang tahun di bulan November. Meskipun Airi berulang tahun di bulan Desember akhir, Airi bisa ikut pendaftaran masuk SD di bulan Juni tahun itu juga.


“Begitu kejadian yang sesungguhnya! Bukannya aku tinggal kelas atau bagaimana, memang Aku dengan kakak beda angkatan." Tambah Aria.


“Hooo jadi begitu rupanya, pantas saja kalian beda tingkat kelasnya. Aku paham dan aku minta maaf Aria. Kalau begini kan jadi jelas semuanya." Luna mulai mengerti.


“Lain kali jangan tuduh sembarangan. Kalau aku bodoh, mana bisa aku di pilih menjadi anggota OSIS." Balas Aria.


"Iya, iya, kan aku sudah minta maaf tadi." Luna meluruskan.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju toko buku sambil bercanda dan tertawa bersama. Rasa penasaran Luna tentang gadis kembar itu akhirnya terjawab juga di hari ini.