HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 122: Telepon



“Sebenarnya saya ingin meminta izin ke bapak jika Tio mungkin tidak akan bersekolah sementara.” Kata ibu Tio.


“Lho kenapa bu? Bukankah Tio tadi tidak apa-apa?” Guru olahraga kaget.


Benar saja, apa yang dikatakan oleh ibu Tio membuat guru olahraga kaget mendengarnya. Lalu apakah yang akan terjadi nanti ketika ibu Tio mengatakan yang sebenarnya kepada guru olahraga? Namun ibu Tio akan segera mengetahuinya, karena beliau tidak mungkin mundur lagi. Ibu Tio lebih mementingkan keinginan Tio untuk sekarang, beliau pun mengatakan tujuan Tio tidak bersekolah kepada guru olahraga.


“Kami hanya ingin ke rumah kakeknya untuk saat ini. Tio tidak ingin bertemu dengan para anggota OSIS untuk sekarang. Karena anak-anak yang hilang pernah berurusan dengannya dan juga pelaku masih tidak diketahui orangnya maupun motif dari kejadian ini. Tio khawatir dengan para anggota OSIS, dia memutuskan untuk menjauh agar mereka tetap baik-baik saja.” Jelas ibu Tio.


Guru olahraga terdiam sejenak setelah mendengar penjelasan dari ibu Tio. Kemudian guru olahraga kembali membalas ibu Tio, beliau setuju akan membantu ibu Tio untuk besok.


“Oh begitu, baiklah besok akan saya urus untuk izinnya. Saya sendiri yang akan berdiskusi dengan kepala sekolah.” Guru olahraga mulai mengerti.


“Terima kasih sebelumnya pak, tapi satu hal lagi. Bisakah bapak merahasiakan ini dari teman-teman Tio? Saya juga sedikit khawatir dengan mereka. Mereka semua telah baik kepada Tio, saya tidak ingin saat kita sedang pergi namun mereka terkena masalah.” Pinta ibu Tio.


“Saya juga berpikir begitu setelah mendengar alasan ibu, saya akan menutupi sebaik mungkin besok.” Balas guru olahraga.


Ibu Tio sedikit tenang karena guru olahraga bisa berkompromi dengannya, guru olahraga setuju dengan ibu Tio untuk menyembunyikan ini semua dari teman-temannya. Kalau begitu semua urusannya hari ini telah selesai, waktunya ibu Tio mengakhiri percakapan telepon ini.


“Kalau begitu tolong ya pak, karena mungkin setelah ini smartphone saya dan Tio akan kami nonaktifkan selama kami pergi, jadi kemungkinan kita tidak akan bisa dihubungi. Jika sudah pulang, kami akan kabari lagi.” Ucap ibu Tio.


“Sama-sama bu, hati-hati selama kalian pergi nanti.” guru olahraga mengingatkan


“Baik pak.” Balas ibu Tio sambil menutup telepon.


Panggilan pun berakhir. Izin sudah didapatkan, sekarang tinggal bersiap untuk pergi. Ibu Tio tidak langsung masuk ke rumah, dia membuka kontak di smartphonenya lalu melakukan panggilan telepon lagi.


Di suatu butik, ada seorang wanita seumuran ibu Tio. Dia adalah pemilik butik pakaian itu. Kemudian smartphone miliknya berbunyi, wanita itu melihat ke arah teleponnya yang berdering.


Kriiinngg... (Nada panggilan)


"Siapa yang menelepon?" Tanya wanita itu


Wanita itu datang mengambil smartphonenya, dia melihat partner kerjanya menelepon dirinya. Sudah berapa lama dia tidak ke butik karena anaknya yang masuk rumah sakit.


“Wah, tumben dia menelepon.” Ucap wanita itu.


Wanita kemudian segera menjawab panggilan itu. Pasti rekan kerjanya itu membutuhkan dirinya jika menelepon seperti sekarang. Karena jarang sekali dia menelepon jika tidak terlalu penting. Biasanya hanya melalui chat saja mereka dalam berkomunikasi.


Sementara itu, ibu Tio masih menunggu jawaban dari panggilannya ini. Dalam hati apakah dia sedang sibuk mengurusi butik? Namun tak lama, orang yang ditelepon menjawab.


“Halo... Tumben telepon, pasti ada yang penting?” Balas seorang wanita sambil bertanya.


Rose adalah teman ibu Tio sekaligus pemilik butik yang mereka berdua bangun dan jalankan hingga sekarang. Ibu Tio merasa tidak enak sudah lama tidak ke butik namun tiba-tiba menelepon Rose. Rose pun bisa dengan gampang menebak ibu Tio yang sedang menelepon dirinya itu.


“Tahu lah! Kamu menelepon kan cuma hanya untuk urusan penting, biasanya juga cuma chat. Ada apa nih?” Tanya Rose.


“Aku mau minta tolong, besok bisa antar aku ke stasiun?” Ibu Tio meminta pertolongan.


“Ke stasiun? mau apa?” Rose penasaran.


“Aku dan Tio mau pulang ke rumah ayah.” Jawab ibu Tio.


Di sini Rose sedikit kaget dengan rencana kepulangan Tio dan ibunya ke desa. Padahal ibu Tio baru bilang beberapa hari lalu Tio baru saja keluar dari rumah sakit, namun sekarang tiba-tiba mereka akan pulang ke desa.


“Loh, loh! Bukankah ini belum liburan? Ada urusan apa kalian ke sana?” Tanya Rose dengan kaget.


“Nanti aku jelaskan, oh iya aku lupa bilang nanti kamu tidur sini saja. Kami akan menjelaskan semuanya di rumah, tidak enak jika melalui telepon. Kamu bisa kan?” ibu Tio memastikan.


Mendengar ucapan ibu Tio barusan, Rose yakin jika ada hal penting sehingga ibu Tio tidak bisa menjelaskannya di telepon. Tanpa ragu lagi, Rose siap membantu seperti biasanya.


“Jika memang penting, aku akan ke sana setelah butik tutup. Aku juga akan memberi kabar ke suamiku jika aku menginap di rumahmu.” Jawab Rose.


“Terima kasih ya!” Ucap ibu Tio.


Rose harus bersiap-siap mengabari suaminya jika dia tidak pulang malam ini. Rose juga melihat sekarang jam berapa, ternyata sebentar lagi butik akan tutup. Rose pun segera menata barang-barang di butiknya.


Panggilan pun berakhir. Hari mulai malam, ibu Tio harus segera menyiapkan makan malam karena tadi sempat terhenti karena berita di televisi itu. Beliau pun bergegas masuk, namun saat melewati kamar Tio, si ibu melihat anaknya yang sedang menyiapkan barang-barangnya. Ibu Tio tidak ingin mengganggunya, dia lebih memilih untuk ke dapur dan menanyakannya nanti setelah makan malam.


Ibu Tio mulai memakai celemek lalu dia mulai memasak. Dari menanak nasi, menumis sayur dan juga membuat lauk, ibu Tio mulai memasaknya satu-persatu. Beberapa saat berlalu, makan malam hampir siap. Teringat dengan Tio, ibu Tio pun menghampirinya lalu mengingatkan untuk segera mandi


“Tio, mandi dulu gih. Itu nanti lagi saja, soalnya makan malam sudah hampir siap.” Ibu membuka pintu kamarku.


Aku sedikit terkejut dengan kedatangan ibu yang tiba-tiba. Aku memang belum selesai memasukkan semua barang ke dalam tas koperku. Namun setelah melihat jam, ternyata sekarang sudah hampir malam. Aku juga harus segera mandi.


“Baik bu.” Jawabku.


Aku pun berhenti mengemasi barang-barangku. Aku mengambil handuk lalu segera mandi. Perutku sudah lapar dari tadi sepulang sekolah. Sepertinya aku menggunakan otakku terlalu banyak hari ini. Mengerjakan tugas di sekolah lalu di tambah berita tadi membuatku semakin berpikir keras dan menggunakan otakku lebih banyak lagi.


Aku berjalan melewati dapur, aku mencium aroma harum dari masakan yang sedang ibu masak. Itu membuat perutku semakin lapar. Aku memutuskan untuk secepatnya mandi dan segera makan malam. Bagaimana pun juga, makan adalah hal yang paling penting.