
“Hahaha.. Kalian lucu juga ya!” Luna tertawa terbahak-bahak.
“Sudah kalau Aria diancam dengan masakan dia pasti akan luluh.” Airi mengedipkan sebelah matanya.
“Uuuhhh... Kalian ini ya!” Aria kesal.
Malah Luna yang terhibur dengan tingkah Aria yang terpaksa memakan bekalnya. Padahal niat Airi adalah menghibur adiknya namun malah orang lain yang gembira. Aria pun kemudian kesal kepada keduanya.
“Sudah makan dulu, aku ingin mendengar ada apa sebenarnya hari ini.” Suruh Airi.
"Iya kak!" Aria menurut.
Aria melanjutkan makannya hingga habis, setelah itu Airi menanyakan kepada Luna dan Aria untuk menceritakan dengan lengkap kenapa Aria seperti ini hari ini. Luna pun menceritakan dari awal jika izin dari Tio sedikit janggal.
"Izin khusus?" Airi bertanya-tanya.
"Biar aku jelaskan." Luna kemudian menjelaskan.
Tidak biasa jika seorang siswa memberikan izin langsung ke kepala sekolah sedangkan biasanya surat izin jika orangnya tidak berangkat maka langsung menuju ke kelas dengan dititipkan kepada siswa lain ataupun guru, namun hari ini Tio tidak ada surat izinnya sama sekali. Selain itu nomor Tio tidak aktif, ini yang sebenarnya menimbulkan pertanyaan di benak Luna hingga akhirnya meminta Aria untuk memastikannya, namun hasilnya sama saja.
“Memang benar sih apa yang Luna katakan, izin dan juga nomor yang tidak dapat dihubungi ini sangatlah aneh. Tetapi yang lebih parah itu kamu Luna, kamu itu gadis tetapi tidak bisa memahami perasaan seorang gadis.” Ujar Airi.
“Loh kok aku?” Tanya Luna.
“Kakak..!!” Teriak Aria.
Setelah mendengar penjelasan Luna akhirnya Airi memahami benar apa yang sedang mereka berdua rasakan. Nomor yang tidak dapat dihubungi memanglah membuat khawatir apalagi tidak bisa mengetahui keadaan seseorang yang tidak berangkat itu. Mengingat laki-laki itu kemarin masuk rumah sakit, wajar jika mereka berdua begitu khawatir. Airi pun mengerti sekarang.
“Hehehe.. Maafkan aku Aria. Aku hanya ingin Luna lebih peka sedikit saja. Lagipula dia juga tidak akan paham dengan maksudku.” Balas Airi.
“Sungguh aku bingung di sini.” Luna mulai kebingungan.
“Aku tidak bisa menceritakannya, tapi suatu saat kamu akan mengetahuinya.” Lanjut Airi.
“Aku tidak suka teka teki, Airi.” Balas Luna.
“Sudah abaikan saja, yang ingin aku tanyakan apa yang akan kalian lakukan setelah ini?” Tanya Airi.
Mendengar pertanyaan Airi, Luna dan Aria saling bertatapan. Keduanya saling mengangguk setuju dengan apa yang mereka rencanakan. Bagaimana juga, Luna dan Aria harus memastikan keadaan Tio.
“Aku sedikit khawatir dengannya, sepulang sekolah aku ingin coba mampir ke rumahnya untuk memastikan apakah dia baik-baik saja.” Jawab Aria.
“Aku juga berpikiran seperti itu, aku juga ikut ke sana.” Luna setuju.
“Ya sudah, aku juga ikut deh nanti. Aku juga sedikit penasaran.” Airi memutuskan ingin ikut.
Kesepakatan telah diambil, mereka bertiga akan pergi ke rumah Tio nanti sore sepulang sekolah. Dengan begitu semuanya akan tahu apa alasan Tio tidak berangkat hari ini dan juga menonaktifkan smartphonenya.
“Oke kalau begitu, ketemu di depan gerbang ya! Aku kembali ke kelas dulu.” Luna pamit.
“Oke, oke!” Balas Airi.
Setelah itu Luna pergi meninggalkan Airi dan Aria, dia menuju ke kasir untuk membayar makanannya lalu melanjutkan kembali ke kelas. Sedangkan Airi dan Aria masih duduk, Airi mencoba menyemangati adiknya itu karena Aria masih terlihat tidak bersemangat.
“Sudah tidak usah khawatir begitu.” Ucap Airi.
“Bagaimana aku tidak khawatir kak. Aku adalah anggota OSIS dan juga menjabat sebagai sekretaris. Aku tahu jika ada surat izin yang langsung dari kepala sekolah adalah izin khusus.” Aria mengutarakan kekhawatirannya.
Airi masih belum mengerti tentang izin khusus yang di maksud oleh Aria. Airi kemudian menanyakan ada apa dengan izin khusus itu. Sebagai anggota OSIS, Aria menjelaskan hanya segelintir orang yang tahu apa itu izin khusus.
“izin khusus bukanlah izin yang main-main kak. Izin itu bisa saja tidak berbatas waktu serta izin itu bisa menyembunyikan sesuatu yang sangat penting karena hanya para komite saja yang tahu tentang inti dari izin itu. Para guru bahkan tidak diberi tahu alasan dari izin itu dan jika kepala sekolah sudah mengatakan izin khusus, para guru langsung akan paham dan sesampainya di kelas guru itu hanya bilang siswa ini tidak berangkat, itu saja. Terlebih lagi nomor Tio tidak aktif, ini pasti ada apa-apanya.” Jawab Aria yang khawatir.
Penjelasan Aria terlihat begitu serius dan menurut Airi, dia bahkan baru mengetahui jika ada izin yang sekuat itu. Airi pun merasa tidak enak kepada Aria karena hanya bercanda sejak tadi. Harusnya dia menanyakan alasan kenapa adiknya begitu khawatir sampai-sampai tidak doyan makan begitu. Airi lalu meminta maaf kepada adiknya untuk hal tadi.
“Jadi begitu, pantas saja kamu langsung begini. Maafkan aku, aku malah bercanda tadi.” Airi meminta maaf.
“Tidak kak, justru karena aku tidak bisa bilang ini ke Luna jadi aku memendamnya sendiri tadi.” Balas Aria.
Bel masuk berbunyi, saatnya semua siswa untuk masuk ke kelasnya masing-masing. Airi bergegas berdiri dan mengajak Aria untuk kembali ke kelas.
“Ya sudah, ayo kembali ke kelas. Nanti aku akan ikut memastikannya, yang penting sekarang kamu jangan murung seperti itu. Aku jadi tidak enak melihatnya.” Airi menyemangati Aria.
“Iya, iya. Nih aku senyum!” Aria tersenyum.
“Nah gitu dong, ayo balik ke kelas!” Ajak Airi.
“Yuk.” Balas Aria.
Mereka kembali ke kelas bersama. Di sini Airi baru mengetahui jika ada yang namanya izin khusus. Airi pun menjadi penasaran dengan ini, dia memutuskan untuk ikut nanti sepulang sekolah adalah keputusan yang benar.
Di sore hari, Airi dan Aria menunggu Luna yang sedang mengambil sepedanya di parkiran. Karena memang Airi dan Aria selalu berjalan kaki untuk ke sekolah, dulu mereka pernah bersepeda namun sedikit merepotkan jadi mereka memutuskan untuk berjalan saja. Di depan gerbang mereka menunggu cukup lama akhirnya Luna pun datang.
“Yuk!” Ajak Luna.
“Ayo, keburu sore nih.” Jawab Airi.
Mereka bertiga berjalan menuju ke rumah Tio, di sini Luna menuntun sepedanya. Itulah yang dimaksud Airi dan Aria merepotkan, karena sepeda mereka hanya satu jadi saat salah satu dari mereka ada yang pulang duluan pilihannya menunggu yang pulang lebih akhir atau pulang duluan dan salah satunya jalan kaki.
Beberapa saat mereka berjalan akhirnya mereka tiba di depan rumah Tio.
“Jadi ini rumahnya!” Ucap Airi.
Tok.. tok.. tok.. (Suara ketukan pintu)
Luna kemudian mengetuk pintu untuk memanggil Tio, lalu kedua saudara kembar itu mendekat menyusul Luna.
“Tio..!” Teriak Luna.
Tidak ada jawaban, Luna pun mengulanginya beberapa kali tetapi masih tidak ada jawaban. Aria langsung menghentikan Luna.
“Luna, sebaiknya kamu berhenti. Tidak baik diulang-ulang seperti itu, mungkin mereka sedang pergi.” Aria menghentikan Luna.
“Lalu bagaimana ini?” Tanya Luna.
“Kita pulang saja, kita lihat besok dia berangkat atau belum. Jika belum kita ke sini lagi.” Jawab Aria.
“Itu saran yang bagus.” Airi mendukung.
“Ya sudah kalau begitu, kita pulang dulu saja.” Luna setuju.
Mereka akhirnya memutuskan pulang karena rumah Tio kosong. Mereka meninggalkan rumah Tio yang kosong itu kemudian berpisah dan pulang ke rumah masing-masing.