HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 159: Mengantar Pulang



Luna menutup panggilan kepada semua anggota OSIS yang baru saja usai. Dia kemudian mengantongi lagi smartphone miliknya dan auranya langsung berubah setelah itu. Tatapan Luna begitu tajam menusuk ketika melihatku, aku sedikit ketakutan karenanya setelah tiga minggu lamanya tidak bertemu dengannya. Tidak aku sangka jika Luna masih menyeramkan seperti biasanya.


“Kamu dengar kan barusan?” Tanya Luna sambil melihat ke arahku.


Dengan nada sedikit marah Luna bilang apakah aku benar-benar mendengarkan telepon tadi. Tujuan Luna tidak lain adalah sedikit menyinggung akan kepergianku kemarin, aku pun merasa akan hal itu. Aku segera menjawabnya sebelum dia benar-benar marah kepadaku.


“Aku dengar dan aku sedikit menyesal dengan apa yang aku lakukan kemarin.” Jawabku.


“Oke kalau begitu, jangan lupa datang besok!” Tegas Luna mengingatkan.


"Iya, iya." Balasku.


Saat sedang ditanyai Luna, tiba-tiba smartphone milik Luna berbunyi. Luna melihat smartphone miliknya ternyata ada telepon dari ibunya dan dia langsung terlihat sangat ketakutan.


“Aduh, ibu lagi yang menelepon. Ada apa ya?!” Luna bertanya-tanya.


“Angkat dulu Luna, siapa tahu itu penting.” Suruh Aria.


Luna kemudian mengangkat telepon dari ibunya, namun dia di sambut oleh suara ibunya yang keras.


“Halo bu.” Jawab Luna.


“KAMU KEMANA SAJA LUNA? SUDAH SEHARIAN KAMU PERGI. SUDAH SORE DAN SEGERA PULANG, KERJAAN RUMAHMU MASIH BANYAK ITU!” Suara ibu Luna dengan agak keras.


“Iya, iya bu. Aku segera pulang.” Balas Luna yang menjauhkan smartphonenya dari telinga.


“Ya sudah ibu tunggu. Ingat, segera pulang!” Ibu Luna mengingatkan lagi dan menutup teleponnya.


Luna mengelus-elus telinganya karena telepon tadi. Karena Luna harus segera pulang, dia pun harus menuruti kata-kata ibunya karena Luna takut membuat ibunya marah karena pekerjaan rumah yang belum beres apalagi sekarang sudah gelap menjelang malam. Luna langsung bilang ke Aria, dia meminta maaf karena tidak dapat mengantarkan pulang.


“Maaf Aria aku tidak bisa mengantarmu pulang, aku juga harus segera pulang atau ibu nanti akan marah padaku.” Luna meminta maaf sambil menempelkan kedua telapak tangannya.


“Tidak apa-apa Luna, aku bisa pulang sendiri. Cepatlah pulang, aku tidak apa-apa.” Balas Aria.


“Sekali lagi aku minta maaf. Dah, sampai besok ya!” Luna langsung berlari meninggalkan aku dan Aria.


Di sini tinggal aku dan Aria, dia masih memegangi tangan kiriku. Aku mengeluarkan smartphoneku dari saku menggunakan tangan kananku lalu melihat jam, ternyata sudah malam aku juga harus pulang. Namun saat aku ingin pulang, Aria malah semakin erat memegang tanganku.


“Aria, lepaskan tanganmu. Aku mau pulang nih!” Ucapku ke Aria


“Tidak, tidak boleh!” Balas Aria.


“Loh kok tidak boleh?” Tanyaku heran.


“Antar aku pulang, aku takut gelap!” Jawab Aria dengan wajah ketakutan.


Aku sedikit heran dengan Aria, tadi dia bilang bisa pulang sendiri ke Luna dan sekarang malah takut gelap katanya. Yang membuat aku lebih heran lagi adalah atributnya kan dark? Jadi kenapa dia harus takut gelap?


“Lah bukannya atributmu Dark? kok kamu malah takut kegelapan sih?” Aku semakin heran.


“Atribut dengan kenyataan itu berbeda, intinya aku takut gelap!” Lanjut Aria.


“Saat ini aku hanya membawa uang sedikit dan tidak cukup untuk naik taksi, jadi tolong antar aku pulang. Aku takut.” Aria memandangku.


Aku mengingat lagi jika aku juga sudah cukup menghabiskan uangku untuk belanja sore ini dan tidak mungkin jika aku membantu Aria untuk naik taksi. Jalan satu-satunya adalah mau tidak mau aku harus mengantar gadis ini. Aku tidak tega padanya belum lagi kalau terjadi apa-apa dengan Aria.


“Uangku juga hampir habis setelah aku belanja tadi. Ya sudah aku antar, tapi lepaskan dulu tanganku.” Aku menyerah dan menyuruh Aria melepaskan tanganku.


“Janji ya, antar aku pulang! Awas kamu berlari setelah ini, aku sudah tidak bisa lari lagi.” Aria memberi syarat.


“Iya, iya. Aku janji!” Aku setuju.


Aria kemudian melepaskan tanganku perlahan karena takut aku akan berlari setelah ini, namun aku benar-benar tidak berniat seperti itu. Sesuai perjanjian, aku pun mengantar Aria pulang. Aku menyuruh dia di depan karena aku tidak tahu jalannya karena aku sendiri belum pernah ke rumah Aria.


"Ya sudah kamu depan! Aku akan ikuti dari belakang." Aku menyuruh Aria untuk berjalan di depan.


"Tidak mau, nanti kamu pergi. Lebih baik kita jalan bareng!" Balas Aria menolak.


"Sudah cepat! Aku tidak nyaman berjalan di samping gadis dan aku tidak mau mengulanginya!" Lanjutku.


"Ya sudah!" Aria cemberut.


Awalnya dia tidak setuju karena dia takut aku pergi meninggalkannya, tapi setelah aku meyakinkan kalau aku tidak akan meninggalkannya dia pun setuju. Dia juga menawarkan agar berjalan berdampingan namun aku menolak karena aku belum pernah berjalan berdua dengan seorang gadis di situasi seperti ini, jadi lebih baik aku mengikuti Aria saja.


Setelah berjalan cukup jauh, memang jalanan yang kami lewati sangat sepi dan gelap. Pantas saja jika Aria takut pulang sendiri selain alasannya taku akan gelap. Aku sedikit menyadari saat Aria berjalan, kecepatan jalanan semakin melambat dan juga kakinya sedikit jinjit saat berjalan. Aku langsung menyuruh Aria berhenti.


“Aria, tunggu!” Ucapku.


“Hah.. Ada apa Tio?!” Aria sedikit kaget.


“Kakimu kenapa?” Tanyaku.


“Ini.. Anu.. Tidak apa-apa!” Jawab Aria.


Aku lalu mendekat untuk memastikan kenapa kaki Aria. Setelah aku mendekati Aria aku langsung melihat kakinya yang masih memakai sepatu tinggi sedikit memar. Pantas saja dia berjalan sangat lambat.


“Loh kamu terkilir?” Tanyaku setelah melihat kaki Aria.


“Ini.. Tadi saat aku memaksakan diri berlari mengejarmu. Sampai tidak sadar kakiku begini.” Balas Aria dengan malu.


Wajar jika Aria terkilir karena memaksakan berlari menggunakan sepatu hak tinggi seperti ini. Aku juga harusnya sadar ketika dia bilang tidak bisa lari lagi. Aku harus mengajaknya istirahat sebentar sekaligus memeriksa kakinya yang terkilir ini.


“Pantas kamu bilang tidak bisa berlari lagi. Ayo kita duduk sebentar di sana!” Ucapku sambil menunjuk ke suatu tempat.


Di depan ada sebuah taman bermain anak-anak. Aku memutuskan untuk berhenti sejenak di sana untuk melihat kondisi kaki Aria. Aku sedikit khawatir jika kaki Aria parah setelah melihatnya susah berjalan tadi. Setelah sampai, aku menyuruh Aria untuk duduk di bangku kayu yang ada di taman tempat kami berhenti.


"Kenapa kita ke sini?" Tanya Aria.


"Kamu duduk saja, kita harus memeriksa kakimu itu." Jawabku.


Aria tidak berkata apapun setelah aku bilang begitu, dia pun menurut dan langsung duduk sesuai yang aku suruh tadi.