HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 143: Prediksi Fenrir



Tidak hanya Fenrir, namun semua monster keluar menjadi bentuk fairy. Karena kebanyakan yang ke sini adalah orang dewasa, semuanya sudah terbiasa mengeluarkan monster dalam bentuk fairy di sini.


“Memang apa yang kau khawatirkan, Fenrir?” Tanya Phoenix pada Fenrir


“Aku sudah bilang ke Astrid tadi jika kejadian itu bukanlah sebuah kebetulan. Menurutku itu adalah hal yang disengaja.” Jawab Fenrir.


“Apa maksudmu Fenrir? Jelaskan secara rinci.” Pinta Lancer.


Apa yang dikatakan Fenrir masih belum jelas. Lancer pun menyuruhnya agar menjelaskan secara rinci apa yang baru saja Fenrir katakan. Apa yang dia maksud dengan disengaja. Kemudian Fenrir memulai dari mengingatkan semuanya tentang dewa dari segala dewa.


“Apa kalian semua lupa? Para dewa telah mengingatkan kita tentang bahaya dari Hydron. Dia memiliki dimensi ruang dan waktu sendiri, itu bukanlah hal yang main-main. Jika Hydron bisa mengendalikan ruang dan waktu itu adalah ancaman besar bagi kita karena kita akan semakin sulit mengalahkannya.” Jelas Fenrir.


Sontak Lancer dan lainnya langsung terdiam dengan apa yang dikatakan Fenrir. Karena memang apa yang baru saja Fenrir katakan adalah benar, Hydron bukanlah dewa biasa karena dia memiliki sesuatu yang membuatnya pantas disebut dewa dari segala dewa. Hydron memiliki dimensinya sendiri, dan itulah kehebatannya.


“Benar juga katamu, aku hampir saja lupa.” Lancer tersadar.


“Aku pernah menyaksikan sendiri kekuatan Hydron, tapi aku belum pernah melihat kekuatan tentang ruang dan waktu seperti yang para dewa bilang.” Phoenix mengingat tentang Hydron.


Fenrir pun melanjutkan apa yang telah dia bahas dengan Astrid semalam. Prediksinya tentang Hydron itu mungkin saja benar jika musuh sudah berhasil mengeksplorasi kekuatan dewa itu.


“Mengapa ini semua bukan kebetulan? Karena musuh kita membawa pecahan Hydron sekarang. Jika saja dia telah mengeksplorasi kemampuan ruang dan waktu milik Hydron berarti ini adalah ancaman untuk kita semua, bukan hanya kami para monster tapi untuk manusia juga. Bisa jadi hilangnya anak-anak itu adalah ulah dari musuh kita.” Lanjut Fenrir.


Lancer pun menjadi terbuka pikirannya, dia pun mulai mengait-ngaitkan dengan kasus hilangnya anak-anak secara misterius itu. Prediksi Fenrir benar-benar tidak dapat dipandang sebelah mata.


“Itu semua jadi masuk akal sekarang. Kenapa sudah berhari-hari pencarian namun anak-anak itu tidak bisa ditemukan. Kita harus waspada sekarang!” Tutup Lancer.


Sementara itu, pemilik keenam monster itu telah mendengar hal yang begitu menakutkan. Mereka berenam baru mengetahui jika Hydron bukanlah dewa biasa dan kekuatan ruang dan waktu itu benar-benar kekuatan yang tidak seimbang untuk mereka. Kekuatan seperti itu benar-benar sudah diluar batas kemampuan.


“Aku jadi takut mendengarnya.” Ucap Luna setelah mendengar semua itu.


“Jika memang orang itu sudah memiliki akses ke kemampuan ruang dan waktu milik Hydron berarti keselamatan kita juga terancam sekarang.” Andreas juga sedikit khawatir.


“Itulah apa yang ingin aku katakan tadi jika kalian semua tidak peka. Karena orang yang menghilang adalah orang-orang yang pernah mengganggu Tio, maka Tio memutuskan pergi agar kita semua tidak dalam bahaya. Karena bisa saja musuh kita selama ini mengawasi Tio. Itu semua perkiraanku saja.” Jelas Astrid.


Andreas sedikit penasaran dengan apa yang baru saja Astrid katakan. Itu topik yang cukup menarik untuk dibahas karena untuk apa musuh mengincar Tio yang bahkan tidak memiliki kelebihan khusus.


“Jangan remehkan Tio seperti itu Andreas!” Ryan menasehati.


“Ryan dan Astrid benar, kita memang tidak tahu apa yang direncanakan oleh musuh karena hingga saat ini juga dia belum muncul secara jelas di hadapan kita. Aku sebagai monster pun tidak tahu apa yang diincar dari Tio. Karena sangat tidak mungkin mereka berdelapan menghilang jika musuh itu tidak menyaksikan Tio di hajar habis-habisan di Battlefield.” Ucap Fenrir.


“Seperti yang Fenrir bilang, target utama musuh kita adalah Tio. Karena yang tahu penyebab serta cerita lengkap dia dihajar di Battlefield hanyalah kita semua. Kita juga sudah memeriksa kak Airi namun dia bukanlah musuh. Jadi kemungkinan musuh kita menarget kedelapan orang itu bukanlah suatu kebetulan, itu adalah hal yang sudah direncanakan.” Tambah Astrid.


Mendengar tambahan alasan dari Fenrir dan juga Astrid, semuanya sekarang menjadi sangat masuk akal. Karena memang Tio bilang dia dihajar habis-habisan di Battlefield dan tidak ada orang lagi selain dirinya dan kedelapan orang itu. Sedangkan untuk menghilangkan mereka berdelapan sekaligus, jika penculik pasti akan meminta tebusan secara segera namun sudah seminggu lebih mereka menghilang dan belum ditemukan. Bisa jadi memang semuanya ulah dari musuh.


“Kakak, kita harus bagaimana?” Aria sedih lalu bersandar di bahu Airi.


“Cup.. Cup.. Kita dengarkan dulu semuanyam” Balas Airi menenangkan Aria.


“Aku minta maaf Tio, kalau kamu dengar apa yang aku katakan tadi pasti kamu akan langsung marah kepadaku. Sekarang apa yang harus kita lakukan adalah kita harus mengundur lagi simulasi terakhir kita besok.” Andreas memutuskan.


“Kita undur lagi?” Tanya Kevin.


“Kita harus mengurangi aktivitas masuk ke Battlefield sekarang, karena bisa saja kita diincar oleh musuh dan juga mungkin saja kemampuan musuh itu sudah aktif dan bisa digunakan di Battlefield. Karena setelah mendengar semua, aku yakin mereka menghilang di Battlefield bukan di dunia nyata. Aku juga yakin Tio tidak akan masuk ke battlefield lagi karena tidak ingin bertemu kita sementara waktu. Aku juga menghormati dia karena ingin melihat simulasi yang kita lakukan karena dia ingin belajar. Asal kalian tahu, Tio juga ingin menjadi kuat seperti kita. Aku juga menghimbau agar kita tidak mencari Tio, karena saat kita sendiri di luar kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi.” Jelas Andreas.


Andreas menghimbau semua agar berhati-hati mulai sekarang. Dia juga mempertimbangkan perasaan Tio yang pergi jauh karena takut akan keselamatan mereka berenam. Andreas melarang semuanya beraktivitas di Battlefield mulai hari ini.


“Aku setuju dengan Andreas, karena Tio juga jauh dari sini tetap gegabah mencarinya di kota adalah kesalahan besar.” Luna setuju dengan Andreas.


Namun ada satu orang yang tidak menyetujuinya. Aria langsung mengeluarkan kekhawatirannya jika terjadi apa-apa dengan Tio. Aria merasa teman-temannya tidak peduli sama sekali dengan Tio.


“Jadi kalian tega begitu saja membiarkan Tio di luar sana sendirian? Bagaimana jika dia menghilang seperti anak-anak itu?” Tanya Aria dengan air mata menetes di pipinya.


“Tenang Aria, aku pun setuju dengan mereka. Sekarang yang harus kita lakukan adalah menjaga keselamatan kita agar apa yang dilakukan Tio sekarang tidak sia-sia.” Airi menenangkan Aria.


“Benar kata Airi, aku juga khawatir dengannya tapi jika kita gegabah dan salah satu dari kita menghilang Tio pasti akan sangat merasa bersalah karena dia pernah dekat dengan kita.” Tambah Luna.


Aria pun diam dan memahami, dia akhirnya bisa mengerti setelah kakaknya dan Luna sedikit menampar Aria dengan alasan mereka. Keadaan pun mendingin, karena hari mulai malam Andreas memutuskan untuk mengakhiri pertemuan ini.


“Karena semua sudah jelas apa yang telah kita bahas dan apa yang harus kita lakukan lebih baik kita mengakhiri ini dan pulang. Apalagi untuk kalian bertiga, kalian belum pulang kan karena masih pakai seragam itu?” Tanya Andreas.