
“Syukurlah!!” Aria lega.
“Heh, kamu kenapa Aria?” Tanya Luna
“Tidak, aku tidak apa-apa!!” Aria tersenyum.
Setelah itu, Astrid mengeluarkan smartphonenya. Dia lalu terlihat menulis sesuatu. Sedangkan Luna dan Aria saling mengobrol satu sama lain. Yang tidak mengerti di sini kayaknya cuma aku deh!
“Aku bingung dengan kalian semua.” Ucapku.
“Bingung kenapa?” Tanya Luna.
“Sebenarnya dari tadi apa sih yang kalian bahas? Kelihatannya serius sekali.” Tanyaku.
Sungguh aku ingin mencari tahu apa yang mereka sedang bahas sebenarnya. Kan aku cuma makan dengan Astrid, lalu kenapa Luna dan Aria harus bersembunyi di belakang pintu? Setelah itu Astrid juga meluruskan kepada mereka berdua, sebenarnya ada apa? Aku benar-benar tidak mengerti, makanya aku ingin mengetahuinya.
“Itu.. Anu..” Aria terlihat berpikir.
“Itu bukan apa-apa, ya kan Aria?” Tanya Luna kepada Aria
“I..iya, itu bukan apa-apa!” Balas Aria
Astrid meletakkan smartphonenya di meja. Astrid kemudian ikut-ikutan menjawab pertanyaanku tadi.
“Itu rahasia para gadis, kamu tidak boleh tahu.” Jawab Astrid sambil menutup satu matanya.
Pertanyaanku sama sekali tidak terjawab, aku sedikit kecewa karena mereka bertiga merahasiakannya dariku. Yah, aku sih tidak masalah! Lagipula itu juga tidak terlalu penting untukku.
“Terserah kalian saja deh!” Balasku.
“Cueknya..! Kalau kamu cuek begitu mana ada gadis yang mau mendekatimu.” Astrid sambil melirik ke arah Luna dan Aria
Setelah Astrid berkata seperti itu, Aria kemudian menjadi salah tingkah dan terlihat gelisah sedangkan Luna biasa-biasa saja.
"Apa?! Kenapa kamu melihat ke arah kami?" Tanya Luna.
Astrid langsung memahami tingkah laku Aria, ternyata Aria sedang menaruh perasaan kepada seseorang. Tingkah laku seorang gadis yang sedang jatuh cinta memang mudah dibaca.
“Ohooo, ada satu rupanya!” Astrid menemukan hal bagus.
Pembicaraan semakin membingungkan, secara tiba-tiba Astrid bilang ada satu. Apanya yang satu? Aku sudah tidak tahan lagi.
“Apanya yang ada satu?” Tanyaku.
“Ada deh!! Oh iya Tio, jika ada seorang gadis yang ingin mendekatimu bagaimana pendapatmu?” Astrid melirik ke arah Aria dan Luna lagi.
Aku seperti sedang dipermainkan di sini, sudah dari tadi aku ditanyai sedangkan aku yang bertanya malah mereka bertiga tidak ada yang mau menjawab.
“Dari awal aku sudah tidak berniat untuk mempunyai hubungan dengan gadis manapun, kan aku sudah bilang tadi.” Jawabku dengan santai.
Di sini Astrid langsung mengerutkan keningnya dan Aria juga langsung berubah menjadi murung. Aria sudah tidak bisa lagi berkata-kata.
“Ya ampun kejamnya!!” Astrid berlagak kaget.
“Dari awal, bagiku memiliki hubungan dengan orang lain itu adalah sebuah kesalahan. Di dalam hubungan itu misalkan pertemanan saja, pasti ada satu pihak yang diuntungkan dan satu pihak yang dirugikan. Meski di awal semuanya setara, tapi setelah salah satu pihak mendapatkan teman baru pasti teman lama akan di kesampingkan. Lalu pihak yang satu akan datang ke pihak lainnya jika salah satu dari mereka memiliki keperluan saja. Jika hubungan dengan gadis, aku tetap dalam pendirianku, gadis itu merepotkan. Aku berteman dengan kalian saja karena baru kalian yang aku sedikit percaya.” Jelasku panjang lebar.
“Aku sudah tidak kaget mendengarnya.” Sahut Luna.
Astrid bermaksud untuk menghibur Aria, ada baiknya dia menanyakan hal lain yang membuat Aria juga ikut bersemangat mengobrol bersama.
“Tapi apa kamu akan terus seperti itu?” Tanya Astrid padaku.
“Ya, aku akan terus seperti ini. Karena tidak semua orang itu baik bahkan aku sekalipun. Aku akan tetap berhati-hati dalam mempercayai seseorang walaupun sekarang kalian sangat baik padaku. Tidak ada seorangpun yang berani menjamin sikap kalian ataupun aku akan tetap sama seperti sekarang kedepannya.” Jawabku.
Itulah logika yang aku pegang selama ini. Semua itu muncul karena pengalaman burukku dalam berteman. Aku yakin mereka semua baik kepadaku, namun tidak ada satupun yang menjamin mereka akan sama setelah beberapa tahun ke depan. Mungkin ada yang akan melupakanku dan mungkin juga masih ada yang mengingatku. Untuk saat ini, aku akan tetap seperti ini entah sampai kapan. Aku akan menjadi orang yang berhati-hati sebelum mempercayai orang sepenuhnya.
Aria yang sedari tadi diam menahan rasa malunya kemudian ikut berbicara. Aria tidak ingin Astrid menguak lebih jauh kebenaran jika dirinya menyukai Tio. Aria tidak ingin Luna mengetahuinya.
“Tetaplah menjadi dirimu sendiri Tio. Semua yang kamu yakini ada benarnya. Jika aku di posisimu sekarang aku pasti juga akan melakukan hal seperti itu. pelan-pelan saja jika ingin merubah diri.” Sahut Aria.
“Ehm.. Ehm..” Astrid terbatuk.
Setelah itu, kami semua pun terdiam. Aria menutupi wajahnya, Luna seperti kebingungan dan Astrid senyum-senyum sendiri.
"Apasih Astrid?" Protes Luna.
"Iya nih." Aria mendukung Luna.
Kemudian secara tiba-tiba Andreas, Ryan dan Kevin datang ke kantin. Mereka terlihat membeli sesuatu lalu setelah itu berjalan menuju ke arah kami.
“Wah ternyata kalian berkumpul di sini.” Sapa Ryan.
“Terima kasih sudah mau bergabung.” Balas Astrid.
Kemudian aku berbisik kepada Astrid, tidak mungkin kebetulan jika mereka datang ke sini secara bersamaan. Selain itu, mendengar sapaan Ryan seperti sudah ada yang memberi tahu jika semuanya sedang ada di kantin.
“Jadi kamu yang memanggil mereka?” Bisikku.
“Aku hanya ingin mengalihkan topik pembicaraan dan juga mencairkan suasana. Aku sudah bilang bukan? Jika masalah di antara gadis lebih rumit, makanya aku ingin menghindarinya. Karena untukmu yang tidak mengerti tentang para gadis, sedikit berat untukmu memahaminya.” Jawab Astrid.
Aku sudah menyerah dengan apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Astrid. Memangnya dia memiliki masalah dengan gadis mana? Dengan siapa? Aku tidak bisa menerka-nerka karena memang aku tidak paham dengan gadis sama sekali. Jadi hari ini, aku akan mencoba menghiraukan pembicaraan mereka bertiga.
Andreas yang baru saja duduk melihat-lihat ke sekeliling kantin. Andreas kemudian mulai berbicara dengan kami semua.
“Sebentar, kalian sampai saat ini belum bertemu atau berbicara dengan orang asing bukan?” Tanya Andreas pelan.
“Kami tidak bertemu siapapun, setelah makan siang kami langsung ke sini.” Jawab Luna.
“Bagus kalau begitu!” Balas Andreas sambil memakan roti.
“Tapi apa kamu yakin Andreas?” Tanya Astrid.
“Ssshhh.. Kita akan bahas nanti.” Andreas menyuruh Astrid diam.
Kemudian bel masuk berbunyi, tidak aku sangka ternyata aku menghabiskan waktu istirahatku dengan berkumpul dengan yang lainnya. Kami semua membereskan tempat kami duduk dan juga membuang sampah, kami harus segera kembali ke kelas.
“Kalau begitu sampai nanti.” Ucapku.
Pada akhirnya aku tidak berkeliling sekolah siang ini karena Astrid. Aku merasa tidak enak sekarang, rasa-rasanya seperti sedang membolos sekolah karena tadi tidak menjalankan tugasku seperti biasanya.