
Sudah 3 minggu aku tinggal di rumah kakek sejak aku pergi dari rumah. Dalam 3 minggu juga aku cukup merasa bosan karena setiap hari hanya bermain game bersama Reza. Aku juga ingin pergi ke sekolah, aku rindu belajar di sekolah.
“Kak..!” Panggil Reza sambil memencet-mencet kontroler game.
“Apa..?” Balasku yang masih serius menatap layar televisi.
Memang kami sekarang sedang bermain game. Reza yang baru pulang sekolah langsung menuju rumah kakek setiap harinya dan juga mengajakku bermain game. Entah mau jadi apa anak ini sewaktu dewasa nanti.
“Apa yang kakak sering lakukan bersama teman-teman kakak kalau pulang sekolah?” Tanya Reza.
Lagi-lagi pertanyaan Reza mengingatkanku dengan aktivitas sekolah yang baru saja aku rindukan. Bukan cuma itu saja, kegiatan OSIS pun aku malah sangat aku rindukan. Karena mungkin simulasi ketiga sudah mereka lakukan tanpaku. Aku jadi tidak bisa melihat duel Luna dengan Aria seperti apa.
“Hmm.. Tidak ada yang spesial, tapi kami sedang melakukan simulasi.” Jawabku.
“Hah? Simulasi apa?” Reza penasaran.
Game yang kami mainkan akhirnya selesai. Aku memutuskan untuk bercerita saja ke Reza karena aku memang sudah bosan bermain game terus. Aku meletakkan kontrolerku lalu menjawab pertanyaan Reza tadi.
“Kami sedang melakukan latihan untuk persiapan melawan musuh. Kami baru melakukan dua simulasi setelah aku pulang dari rumah sakit tapi kemungkinan aku telah melewatkan simulasi terakhir yang harusnya dilakukan beberapa hari setelah aku pergi ke sini.” Jawabku.
“Untuk apa melakukan simulasi segala? Bukankah lebih baik langsung duel saja melawan musuh kalian itu?” Balas Reza.
Pemikiran Reza sama sepertiku sewaktu pertama kali merencanakan simulasi. Namun setelah kedua simulasi itu dilakukan, ternyata dugaanku salah. Simulasi juga penting karena bisa langsung berlatih melawan monster yang kuat.
“Kami tidak mungkin melakukan hal gegabah seperti itu. Ingat yang kami lawan adalah dewa yang terkuat di Divine realm. Jika kami langsung melawannya tanpa menguasai teknik berduel bisa saja kami akan langsung kalah. Opsi simulasi kami ambil juga karena jika kami turun duel melawan orang lain secara langsung itu tidak adil. Kebanyakan monster kami adalah Mark 2, jadi untuk melawan orang-orang yang hanya memiliki monster Mark 1 lalu apa bedanya kami dengan musuh yang tanpa ampun melawan semua orang. Coba lihat skill deck milikku, siapa nomor 1 dan betapa anehnya dia.” Jelasku pada Reza.
Aku mengeluarkan skill deck lalu meminjamkannya ke Reza karena skill deck milik Reza masih disimpan di tempatnya. Kemudian dia melihat rank pertarungan untuk saat ini. Setelah Reza mengetahui rank 1 yang aku maksud, dia langsung bertanya kepadaku.
“Loh kok monsternya tidak ada namanya, hanya ada tanda ? saja di bagian monsternya. Tapi dia hebat sudah menang 39 kali tanpa kalah.” Reza terkejut sekaligus kagum.
“Yang lebih aneh namanya. Tidak ada nama orang itu Stalker.” Tambahku memberi tahu Reza.
“Eh baru sadar, bukankah arti Stalker itu penguntit?” Tanya Reza.
“Ya makanya itu, dia bukanlah musuh biasa. Dia bisa dengan diam-diam mengawasi simulasi kami, bukankah sesuai dengan namanya? Maka dari itu kami juga tidak bisa sembarangan dalam bergerak.” Jawabku.
Aku menjelaskan sejelas-jelasnya kenapa kami melakukan simulasi itu. Reza pun aktif bertanya karena memang mungkin dia juga ingin tahu alasannya. Tanpa simulasi itu entah bagaimana jika aku dan semuanya langsung turun melawan musuh, dengan minimnya pengalaman duel dibandingkan musuh jelas-jelas jika itu adalah kelemahan kami semua.
“Sekarang aku paham kak, lalu kakak sendiri ikut simulasi?” Tanya Reza lagi.
“Tidak, simulasi sudah di atur, simulasi yang sudah baru Fire vs Water dan Wind vs Earth, sedangkan Dark vs Light aku tidak melihatnya karena aku pergi ke sini. Selain itu, kami juga ada tujuh orang jadi aku tidak ikut, karena aku pernah melawan salah satu dari mereka saja aku langsung kalah.” Jawabku.
“Sebenarnya aku tidak kesal kepada pemilik monster Mark 2 seperti mereka. Hanya saja kenapa aku harus selalu merasakan kekalahan, itu saja.” Lanjutku.
Reza semakin antusias berbincang membahas simulasi dan monster Mark 2. Dia kemudian teringat dengan monsternya sendiri, Reza pun mulai bertanya lagi.
“Semisal nih kak, kalau kakak melihat ada monster Mark 2 lain, sikap kakak akan seperti apa? Akankah kakak marah atau kesal atau akan biasa saja?” Tanya Reza serius.
Kenapa tiba-tiba anak ini menanyakan hal itu kepadaku? Yah aku sih memang sudah tidak masalah dengan monster, lagipula monsterku juga bisa menjadi kuat seperti apa yang Ryan bilang.
“Aku sekarang sudah biasa saja melihat monster Mark 2, yang aku bisa lakukan hanya bertarung menggunakan monsterku sekarang ini.” Jawabku sambil memegang kartu Hayase.
Setelah mendengar itu, Reza semakin yakin dengan pilihannya. Kali ini Reza akan mencoba menggunakan monsternya untuk melawan kakaknya itu.
“Oke kalau begitu. Ayo kita simulasi juga kak, kebetulan aku belum pernah duel.” Ajak Reza.
“Lah bukannya skill deck dan monstermu kamu simpan di suatu tempat?” Tanyaku.
“Ya jika kakak mau aku juga akan mengambilnya.” Jawab Reza.
Aku berpikir sejenak soal ajakan Reza. Dalam pikiranku ah bisa nih untuk menghilangkan rasa bosanku dan juga sekalian mengecek kondisi Battlefield setelah aku beberapa minggu ini tidak masuk ke sana. Meskipun ada sedikit rasa takut namun mungkin sudah saatnya aku bertarung dengan menggunakan monsterku lagi.
“Oke, aku setuju!” Balasku.
“Kalau begitu, ayo ikut aku kak!” Reza berdiri lalu mengajakku pergi.
Aku ikut berdiri lalu mengikuti Reza pergi. Setelah itu kami pergi ke gudang di belakang rumah Reza. Gudang itu cukup gelap dan hanya berisikan peralatan berkebun.
"Mau apa kita ke sini?" Tanyaku ketika memasuki gudang.
Aku hanya fokus melihat ke sekitarku karena aku takut jika ada laba-laba yang bersarang di gudang ini. Setelah memasuki gudang, Reza mencari sesuatu di bawah meja lalu menemukan sebuah kotak. Reza membuka kotak itu lalu mengambil skill deck dan juga monsternya.
“Dengan ini semua siap, ayo kita latihan duel!” Ucap Reza.
Ternyata Reza menyembunyikan monster dan juga skill deck miliknya di gudang yang gelap seperti ini. Aku tidak tahu lagi apa yang dipikirkan Reza setelah apa yang Reza lakukan ke monsternya. Ada dendam apa dia dengan monsternya sampai-sampai dia menyimpannya di tempat ini.
“Iya, iya. Aku juga sudah siap.” Balasku sambil memasang skill deck di tangan.
Aku bersiap untuk menghadapi tantangan Reza. Aku memasang skill deck milikku dan kali ini aku berharap aku bisa memenangkan duel. Aku sudah mempelajari dual skill saat melihat simulasi kemarin. Mari lihat apakah aku juga memiliki skill yang bisa aku gunakan untuk dual skill nantinya? Aku juga ingin mengetahuinya.
“Battlefield, In.” Ucap kami berdua.