HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 112: Bermain Game



“Aku pulang.” Aku membuka pintu rumah.


Sesampainya di rumah, aku melepas sepatu serta kaus kaki lalu meletakkan di tempatnya. Ibu kemudian menyambut kepulanganku.


“Tumben sore?” Tanya ibu.


“OSIS ada acara tadi bu.” Jawabku sambil melepas sepatu.


“Acara apa itu?” Ibu penasaran.


“Soal monster-monster itu lho bu, kami melakukan simulasi duel.” Jawabku lagi.


Aku sudah tidak berani berbohong lagi kepada ibu. Setelah kejadian kemarin, aku semakin sadar betapa khawatirnya orang-orang di sekitarku. Aku lebih baik jujur walaupun itu sangat mustahil untuk di mengerti ibu, tapi itu yang terbaik.


“Terus apakah kalian membolos pelajaran saat simulasi itu?” Ibu mulai serius.


Aku selesai melepas sepatu, setelah itu aku berdiri untuk menjawab pertanyaan ibu barusan. Tidak baik jika aku menjawabnya sambil duduk di lantai dan tidak menghadap wajah ibu.


“Tidak lah, kami melakukannya di hari Kamis saja dan itu juga setelah sepulang sekolah. Kami hanya akan melakukannya tiga kali saja, dan ini sudah yang kedua kalinya.” Jelasku pada ibu.


“Tunggu, Kamis kemarin kan kamu masih di rumah sakit. Kenapa kamu bilang sudah kedua kalinya?” Balas ibu.


Ibu sedikit bisa mengikuti alur pembicaraan ini, bahkan ibu sudah menerka-nerka dengan apa yang aku beri tahukan kepada ibu.


“Mereka mengundurnya Senin kemarin karena aku sangat ingin ikut.” Lanjutku.


“Kamu ikut?” Tanya ibu.


“Tidak, jika aku ikut maka aku pasti akan kalah di giliran pertama. Monster milik yang lain hebat-hebat, jadi lebih baik aku menonton saja.” Jawabku.


“Ya sudah kalau begitu. Oh iya makan malam sebentar lagi matang, lebih baik kamu segera mandi.” Suruh ibu.


“Baik, bu.” Balasku.


Aku segera bergegas menuju kamar untuk melepaskan baju seragamku. Aku mau mandi sudah gerah dari tadi lagipula ini juga sudah hampir malam, tidak baik jika mandi terlalu malam. Namun belum juga sampai kamar, ibu kembali mengajakku bicara.


“Oh iya ibu baru ingat, kamu akhir-akhir ini jarang main game ya?” Tanya ibu.


Aku melihat ke arah ibu yang sedang menyapu lantai. Aku baru teringat akan hal itu, ternyata aku sedikit melupakan kegiatan bermain game sejak bertemu dengan Luna dan lainnya. Bahkan sampai aku tidak memiliki waktu lagi untuk melihat konsol di kamar.


“Aku sedikit sibuk soalnya, apalagi setelah pulang dari rumah sakit badanku masih sedikit terasa sakit.” Jawabku.


“Tidakz tidak. Itu sejak sebelum kamu masuk rumah sakit. Saat ibu membersihkan kamarmu pasti konsol game milikmu ada di tempat yang sama dan sedikit berdebu.” Lanjut ibu.


“Oh, itu karena orang-orang kemarin. Semua anggota OSIS sangat baik padaku sampai aku lupa dengan kebiasaanku sendiri. Lagipula aku juga sedikit bosan dengan game-nya. Belum ada game baru yang bagus lagi soalnya.” Balasku.


“Oh baguslah jika mereka baik padamu, jadi kamu sekarang memiliki teman baru.” Kata ibu.


“Loh kenapa? Katanya mereka baik.” Tanya ibu.


Ibu masih belum mengerti tentang apa yang harus aku lakukan. Mereka semua adalah orang baik dan aku tidak ingin mereka semua dalam bahaya. Meskipun mereka kuat, namun aku baru saja terkena masalah. Aku tidak ingin melibatkan mereka lebih jauh lagi. Bisa jadi Romi dan kawan-kawan juga menaruh dendam kepada mereka.


“Ibu ini bagaimana sih? Aku kan baru saja terkena masalah, aku tidak ingin melibatkan mereka. Bagaimana jika salah satu dari mereka sepertiku kemarin? Bisa saja mereka semua langsung menjauhiku dan juga menyalahkanku atas itu.” Jawabku.


“Haahh.. Terserah kamu saja deh. Jika itu yang terbaik ibu setuju saja. Sana, segera mandi.” Ibu menghela nafas.


Aku bergegas memasuki kamar. Aku melepaskan semua seragam sekolah lalu mengambil handuk dan segera ke kamar mandi. Rasa lelahku akhirnya terobati oleh air hangat yang membasahi badanku. Akhirnya hari yang sangat melelahkan ini telah berakhir. Ada banyak hal terjadi hari ini dan itu semua benar-benar di luar dugaan. Lalu apakah yang akan terjadi besok di simulasi ketiga? Entahlah. Aku selesai mandi lalu memakai pakaianku, aku harus segera ke dapur karena ibu sudah memanggilku.


Sesampainya di dapur, makan malam telah siap. Makanan yang enak telah menungguku, jujur aku masih teringat dengan makanan rumah sakit yang rasanya begitu-begitu saja. Merasakan masakan ibu adalah kepuasan tersendiri bagiku.


"Enak..!" Aku begitu menikmati masakan ibu.


"Syukurlah jika kamu suka." Balas ibu yang juga sedang makan.


Lalu aku makan malam bersama ibu. Aku kangen suasana saat makan bersama seperti ini. Dan yang paling aku kangen adalah saat ayah masih ada di sini. Aku bahkan hampir lupa karena dulu aku masih kecil juga sudah berapa lama kami hidup tanpa ayah setelah itu. Namun aku tidak ingin terlalu mengingatnya, tidak baik untuk ayah yang sudah tenang di sana.


Setelah makan aku jadi teringat kata-kata ibu tadi. Aku pun segera membereskan piring kotor dan mencucinya. Setelah itu aku kembali ke kamar dan menuju tempat konsol gameku berada. Aku mengambil konsol itu dan ternyata ini berdebu sekali. Aku membersihkan konsol itu dengan lap, namun tanpa sengaja aku menjatuhkan game yang diberikan paman pemilik toko. Game multiplayer yang menurutku tidak cocok untukku, namun setelah itu aku menjadi penasaran lagi.


“Hmm.. Main ah!” Ucapku.


Aku pun menghubungkan konsol itu ke televisi di kamarku dan menghidupkannya. Setelah itu aku memasukkan kaset gamenya dan menu game itu pun muncul di layar televisi.


"Apakah kali ini aku bisa memainkannya?" Tanyaku pada diri sendiri.


Aku masih teringat saat aku di maki-maki oleh player lain saat aku pertama kali main. Karena ini adalah game RPG, jadi aku memutuskan untuk membaca terlebih dahulu karakter yang ada di game itu.


[Play online]


[Play offline]


Di layar televisi terdapat dua menu yang dapat dimainkan. Online jika ingin bermain kompetitif dan juga melawan boss yang lebih menantang dan ada satu lagi yaitu Offline yang hanya berfokus kepada cerita dari game itu sendiri.


Aku masih belum menyerah dan kali ini aku memilih mode online. Di game tersedia karakter tank, damager physical, damager magic, support dan summoner. Aku diharuskan memilih satu karakter.


"Hmm.. Kali ini support saja deh!" Pilihku.


Setelah aku membaca semuanya aku memutuskan memilih tipe support karena lebih cocok untukku, karena karakter ini bisa menambah nyawa teman saat di dalam party. Aku tidak mau lagi dimaki-maki player lain jika memilih karakter damager seperti pertama bermain.


Game pun dimulai, saat bermain aku menjadi sangat berhati-hati saat bergerak di game. Aku harus selalu di belakang serta belajar timing yang pas untuk menyembuhkan player lain. Alhasil saat nyawa bos tinggal sedikit, kami yang tergabung di party bisa mengalahkan boss dan melewati rintangan itu. Ini sungguh menyenangkan dan aku mendapat pujian dari player lain jika supportnya tadi sangat membantu.


Aku senang mendengarnya, lalu aku teringat akan sesuatu. Sejak saat ini aku juga harus memikirkan strategi bertarung bersama Hayase. Aku akan menang juga, meski hanya bersamanya dan aku akan percaya Hayase juga akan menang suatu saat nanti.


Aku pun menyudahi bermain game di malam ini karena aku sendiri harus belajar, tidak lupa lain kali aku akan mencoba mode offline dan merasakan seberapa seru jika memainkan mode itu.