
“Ke mana saja kamu selama ini Tio?” Tangis Aria yang masih memelukku.
Aku terkejut dan benar-benar tidak menyangka akan ditemukan oleh Aria untuk saat ini. Aku sudah lengah karena terlalu percaya diri jika aku yang akan menemui mereka besok pagi. Namun ternyata malah aku duluan yang ditemukan.
“Akan aku jelaskan, tapi aku mohon lepaskan dulu aku.” balasku sambil mencoba melepaskan diri.
“Tidak, aku tidak mau! Nanti kamu akan kabur lagi.” Aria semakin erat memelukku.
“Aku tidak akan kabur, aku janji. Aku tidak enak jika begini, lihat semua orang melihat ke sini. Nih pegang tanganku saja sekuat tenagamu tapi asalkan kamu jangan memelukku seperti ini! Kamu pasti tidak sendiri kan di sini? Aku tidak ingin yang lainnya melihatku dalam keadaan begini.” Lanjutku.
Aku merasa risih dengan orang-orang yang melihatku sedang dipeluk oleh seorang gadis di depan umum. Lebih baik aku menyerahkan diri pada Aria, aku yakin dia tidak sendirian di sini. Mereka pasti merencanakan untuk mencariku karena aku pergi tidak pamit.
“Mana tanganmu?” Tanya Aria.
“Nih!” Aku mengulurkan tanganku kepada Aria.
Aria pun melepaskan diri dariku. Namun sebelum melepaskan pelukannya, dia kemudian langsung memegang tanganku dengan kuat.
“Oi sakit!” Keluhku.
“Nanti kamu pergi lagi!” Balas Aria dengan wajah sedih.
Tidak kira-kira ini anak dalam memegangi tanganku. Aria menggenggamnya dengan sangat kuat sekali hingga aku merasa tanganku sedikit sakit. Setakut itukah dia jika aku pergi lagi?
“Tidak, aku tidak akan pergi. Percayalah!” Aku meyakinkan Aria.
Aria sedikit mengurangi genggamannya tapi dia masih memegangi tanganku. Aku hanya bisa diam, ini lebih baik daripada tadi.
Sementara itu..
“Aria.. Aria..!” Teriak Luna.
Luna masih mencari-cari Aria yang tiba-tiba menghilang. Setelah dia mencari, Luna melihat Aria yang sedang memegang tangan seseorang. Luna langsung menghampiri Aria.
Ketika Luna sampai di tempat Aria berada, betapa kagetnya Luna mendapati Tio yang telah ditemukan oleh Aria. Ternyata Aria menghilang karena telah menemukan orang yang selama ini mereka cari setiap harinya.
“Tio..!” Luna kaget.
Aku menoleh ke arah Luna, sudah kuduga Aria tidak sendiri di sini. Luna kemudian mendekatiku sambil meneteskan air mata.
“Ke mana saja kamu?” Tanya Luna yang menahan tangis.
Kembali rasa bersalahku muncul. Tanpa kusadari ternyata kepergianku membuat kedua orang ini sangat sedih. Tapi aku sudah bisa lega sekarang melihat mereka baik-baik saja. Aku pun segera menjelaskan kepada mereka berdua ke mana saja aku kemarin.
“Aku ke rumah kakekku. Aku turut senang kalian semua baik-baik saja. Aku baru pulang hari ini.” Jawabku.
“Lalu kenapa kamu harus pergi? Kenapa kamu tidak ada kabar? Dan kenapa nomormu tidak aktif?” Tanya Luna yang sedikit menangis.
“Aku tidak punya pilihan lain, semua itu harus aku lakukan. Dan yang terpenting kalian baik-baik saja itu sudah membuatku senang. Aku tidak ingin kalian seperti anak-anak itu, aku takut kalian menghilang.” Jawabku yang agak terbawa suasana.
Luna kemudian menyeka air matanya. Dia tampak tidak bisa menyembunyikan kesedihan dan juga rasa senang setelah melihatku pulang. Ternyata keputusanku pergi setengah benar dan juga setengah salah.
"Akhirnya kamu pulang dan kamu juga baik-baik saja!" Luna merasa lega.
“Aku juga senang bisa melihatmu lagi Tio!” Ucap Aria.
“Aku harus memberi tahu semuanya! Tunggu, aku akan telepon mereka.” Luna langsung mengeluarkan smartphone miliknya.
Luna langsung membuka aplikasi chat di smartphonenya, dia kemudian mengatur panggilan grup lalu mengundang semua kontak anggota OSIS.
“Halo!” Jawab Andreas
“Halo halo!” Sahut Ryan.
“Loh ini panggilan grup? Pantas berisik sekali.” Ucap Astrid.
“Aku mendengarkan saja deh kalau begini rusuhnya!” Ucap Kevin.
Langsung panggilan itu rusuh karena banyaknya orang yang berbicara. Luna langsung menyuruh mereka untuk diam karena dia mendapatkan kabar baik hari ini.
“Shh.. Kalian anak laki-laki diam dulu!” Balas Astrid.
“Iya, iya!” Ucap Ryan.
“Ada apa memangnya? Sampai-sampai kamu menelepon seperti ini.” Tanya Andreas ke Luna.
“Aku dan Aria telah menemukan Tio!” Luna memberi tahu mereka semua.
“HAAAAAHHHH...!” Semuanya terkejut.
Langsung semua terkejut mendengarnya. Luna juga langsung menjauhkan smartphone miliknya dari telinga karena teriakan-teriakan orang yang ada di telepon terlalu keras. Luna kemudian mendapatkan banyak pertanyaan dari mereka semua.
“Yang benar kamu Luna?” Tanya Astrid.
“Iya, kamu tidak bohong kan?” Tanya Andreas juga.
"Oi jangan keras-keras, gendang telingaku bisa pecah ini!" Protes Kevin
“Makanya kalian tenang dulu!” Luna kembali menyuruh mereka tenang.
Kemudian telepon langsung menjadi senyap, Luna bingung apakah teleponnya terputus. Luna kemudian mengecek karena sangat tiba-tiba tidak ada suara sama sekali.
“Halo? Kok tidak ada suaranya?” Luna memastikan.
“Lah tadi katanya suruh tenang dulu?” Protes Ryan.
“Iya nih satu anak ini memang! Tadi katanya suruh tenang sekarang malah halo halo!” Keluh Astrid.
“Oh aku kira mati tadi, sebentar ya!” Balas Luna.
“Huuu... Dasar!” Seru Andreas.
Luna kembali mendekat padaku dan langsung menyodorkan smartphonenya di depan wajahku. Luna menyuruhku untuk bicara kepada semuanya sebagai bukti jika memang aku sudah ditemukan.
“Nih, lebih baik kamu bicara pada mereka!” Ucap Luna kepadaku.
Luna mengaktifkan mode loud speaker agar kami semua bisa mendengar percakapan. Luna memandangiku dengan tajam dan serius agar aku cepat berbicara kepada semuanya. Jujur aku masih belum siap, namun mengingat ganasnya Luna mau tidak mau aku harus menurutinya.
“Yo, syukurlah kalian semua baik-baik saja!” Ucapku.
“Akhirnya kamu pulang juga Tio!” Balas Astrid dengan suara keras.
“Kami semua menunggumu pulang!” Ucap Kevin.
“Akhirnya kami mendengar suaramu lagi!” Sahut Ryan.
“Yang terpenting kamu baik-baik saja bukan?” Tanya Andreas.
Aku sangat senang mendengar betapa leganya mereka ketika mendengar telah pulangnya aku. Yang lebih lega adalah aku, karena ternyata semuanya baik-baik saja dan juga lengkap. Sudah tidak ada penyesalan lagi dalam diriku sekarang.
“Terima kasih semuanya, aku baik-baik saja!” Jawabku.
“Semuanya tenang dulu, kita akan lanjutkan ini di sekolah besok dan kali ini biar aku yang bicara dulu. Besok kita akan berkumpul di ruang OSIS sepulang sekolah. Kita akan bicara atau kalian semua yang ingin bertanya bisa kalian tanyakan besok. Kamu akan pergi ke sekolah kan besok, Tio?” Tanya Andreas padaku.
“Ya, besok aku akan berangkat. Aku janji aku tidak akan pergi lagi.” Jawabku.
“Baiklah kalau begitu, aku senang mendengarnya!” Lanjut Andreas.
“Oke kalau begitu sampai besok!” Ucap Astrid.
“Sampai ketemu besok Tio!” Ucap Ryan.
“Kami menunggu kedatanganmu besok!” Ucap Kevin.
“Oke Luna, teleponnya bisa cukup sampai di sini. silahkan kamu jika masih ingin mengobrol di situ.” Tutup Andreas.
Telepon ramai tadi akhirnya berakhir juga, tampak semuanya senang mendapatiku telah pulang ke sini. Jujur aku tidak menyesal telah mengambil keputusan untuk segera pulang.