
Romi dan gerombolan terdiam. Mereka melihat ke arah Luna yang baru saja membanting mejanya. Pandangan seisi kelas juga tertuju semua kepada Luna.
Aku bahkan tidak bisa berkata-kata melihat Luna semarah ini. Aku belum pernah melihat Luna seperti ini. Firasatku benar jika dia adalah gadis yang mengerikan, tapi kali ini aku sedikit merasa senang. Ternyata masih ada seseorang yang mau membelaku di sini di saat seperti ini.
“Ayo pergi dari sini, aku sudah muak dengannya. Awas kau lain kali Tio." Ancam Romi.
Merekapun pergi meninggalkanku. Kelas menjadi sangat senyap dan suasana menjadi canggung. Aku bergegas membersihkan bekalku yang berantakan, aku tidak ingin kelas terlihat kotor dengan bekalku. Aku melihat ke arah Luna yang terduduk di kursinya dan tidak merapikan kembali mejanya ke posisi semula.
Selesai aku membersihkan kotoran bekalku di tembok, aku pun duduk. Karena meja Luna sekarang ada di dekat mejaku, kursi Luna juga sedikit mendekati kursiku saat ini. Akan tetapi, duduk sedekat ini dengan seorang gadis membuatku sangat canggung. Aku mencoba menegur Luna dengan nada pelan.
“Oiii Luna, bisakah kamu merapikan kembali mejamu itu? Bukankah ini terlalu dekat?" Aku menegur Luna.
Luna meletakkan kepalanya di atas tangannya di meja. Wajahnya tidak terlihat, apa dia sedang menangis?
“Oh kamu sudah selesai rupanya." Luna terbangun dari meja.
Ternyata Luna baik-baik saja. Luna kemudian merapikan mejanya tapi tidak kembali ke posisi semula. Tetapi dia mendekatkan mejanya ke mejaku.
“Loh kok malah jadi lebih dekat?" Tanyaku.
Luna selesai merapikan mejanya yang malah didekatkan ke mejaku. Dia kemudian kembali duduk.
“Sudah biarkan, ayo kita makan siang." Ajak Luna.
“Heehhh, makan apa? Bekalku sudah hancur." Balasku.
Luna mengeluarkan bekalnya. Tempat bekalnya terdiri dari 2 tingkat, berbentuk ramping dan memanjang. Tempat bekal seperti itu memang mudah dimasukkan ke dalam tas karena tidak memakan banyak tempat. Berbeda dengan punyaku yang pipih dan lebar, aku harus menentengnya karena jika aku masukkan ke dalam tas pasti akan tumpah
Di bekal Luna, bagian atas adalah nasi dan bagian bawah adalah sayur dan lauk. Luna mengambil setengah lauk dan sayurnya lalu memindahkan ke tutup tempat makan. Tempat sayurnya menjadi kosong setengah. Luna mengambil setengah nasinya lalu dimasukkan ke tempat sayur kemudian Luna memberikan kepadaku.
“Ini untukmu." Wajah Luna memerah.
Event macam apa ini? Apa dia tidak malu membagi bekalnya denganku? Ini masih di dalam kelas, apa yang sebenarnya dia pikirkan?
“Ehhh untukku?” Aku kaget.
“Anggap saja sebagai ganti bekalmu." Balas Luna.
Aku memang lapar, tapi menerima bekal darinya sungguh berat. Ini pertama kali bagiku berbagi bekal dengan seorang gadis.
“Tapi...” Aku terhenti bicara.
“Makan atau...” Luna menatapku tajam.
Luna menodongkan garpunya ke wajahku. Mengingat betapa seramnya dia tadi, aku tidak berpikir dua kali untuk memakan bekal darinya.
“Iya, iya aku makan." Jawabku ketakutan.
Tanpa pikir panjang aku memakan bekal yang diberi Luna. Aku memulai suapan pertama, yang aku makan terlebih dahulu adalah sayurnya. Aku tipe orang yang suka makan sayur ketimbang daging dan jika sayurnya tidak enak maka selera makanku juga akan sedikit hilang. Aku terbiasa dengan masakan ibu yang sayurnya tidak terlalu matang, jadi sayurnya masih bertekstur.
“Enak..” Kataku tanpa sadar.
“Benarkah?" Tanya Luna dengan antusias.
“Iya benar-benar enak. Aku tidak menyangka masakan ibumu sungguh enak." Lanjutku sambil melahap makanan.
Wajah Luna kembali memerah. Dia membalasku sambil memain-mainkan kedua telunjuknya.
“Anu.. Sebenarnya itu masakanku." Luna malu.
Hah? Itu artinya aku memakan masakan seorang gadis. Aku berhenti sejenak memakan bekal dari Luna. Aku baru tahu Luna bisa memasak dan masakannya enak. Ternyata di balik kengeriannya, dia mempunyai sisi baik juga.
“Ehhh kamu masak sendiri?” Aku berhenti makan.
Aku canggung untuk memakan bekal ini lagi. Bagaimana tidak? Ini masakan Luna sendiri.
“Syukurlah kalau kamu suka. Kamu orang pertama selain keluargaku yang memakan masakanku dan kamu bilang enak. Aku senang mendengarnya." Luna senang.
Luna tersenyum kepadaku. Mendengarnya bilang begitu malah membuatku tidak enak jika tidak menghabiskan bekal darinya. Aku dan Luna melanjutkan memakan bekal ini bersama. Kemudian aku menghabiskan makanan yang enak ini.
“Terima kasih banyak Luna, terima kasih juga kue yang kemarin. Dan juga aku minta maaf karena mengira ini masakan ibumu." Aku berterima kasih kepada Luna.
Aku merasa tidak enak telah mengira masakan tadi masakan ibu Luna. Aku terlihat seperti meremehkan Luna. Aku sangat tidak menyangka dia mahir memasak.
“Tidak apa-apa, terima kasih karena kamu suka dengan masakanku. Aku senang kamu lahap memakannya tadi.” Balas Luna.
Sungguh memalukan diriku, tapi mau bagaimana lagi memang makanannya enak. Aku tidak bisa menutup-nutupi lagi sewaktu makan tadi, aku sangat menikmatinya.
Bel masuk berbunyi. Pelajaran-pelajaran berikutnya pun dimulai. Selama pelajaran aku berpikir tentang keadaan Luna setelah ini. Tidak mungkin mereka melepaskan Luna begitu saja.
Selama ini orang yang selalu ingin melindungiku pasti akan di-bully habis-habisan. Kalau itu anak laki-laki bisa saja akan dihajar tetapi jika perempuan aku tidak tahu. Aku jadi khawatir dengan Luna. Aku memutuskan untuk mengikutinya saat pulang nanti.
Bel pulang berbunyi dan seperti biasa aku pulang terakhir. Aku menunggu semua keluar termasuk Luna. Karena aku tidak ingin dia kenapa-kenapa saat pulang nanti.
“Sampai besok senin Tio." Luna melambaikan tangannya.
“Oke, kamu hati-hati pulangnya." Balasku.
“Aku bukan anak kecil lagi." Luna kesal.
“Iya, iya, kamu anak bawel." Candaku padanya.
Luna meninggalkan kelas. Aku mengendap-endap mengikutinya, aku sungguh berharap agar tidak ketahuan olehnya. Kalau sampai dia tahu aku mengikutinya, mau aku taruh mana harga diriku sebagai penyendiri selama ini. Aku nantinya akan dikenal dengan sebutan baru, seorang laki-laki penguntit. Aku tidak mau itu terjadi.
Luna berjalan bersama temannya sambil bersenda gurau. Aku mengikutinya dengan berjalan perlahan sambil berpura-pura membaca buku. Aku melihat Luna yang terlihat bahagia bercanda dengan teman-temannya. Aku menjadi berandai-andai, kalau saja.... Tetapi kalau diingat-ingat, itu semua tidak mungkin bagiku.
Luna dan teman-temannya sampai di halaman depan sekolah. Aku berhenti dan bersandar di tembok sambil menutupi wajahku dengan buku. Aku melihat Luna berpisah dengan temannya lalu dia berjalan menuju parkiran sepeda.
Aku berpura-pura berjalan menuju gerbang sekolah sambil melihat ke arah parkiran. Karena penasaran, aku memutuskan untuk mengintip Luna di parkiran sepeda. Dan benar saja, setelah Luna sampai di parkiran dia dihadang oleh sekelompok gerombolan yang menggangguku di kelas tadi. Sudah kuduga, Luna dalam masalah.