HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 27: Ancaman



Pesan dari para Guardian didengar jelas oleh Fox. Dia kemudian bertanya kepada Mage.


“Mage, apa kau mendengarnya?” Tanya Fox kepada Mage.


Mage adalah monster milik Aria beratribut Dark, berbentuk penyihir kegelapan.


“Iya aku mendengarkan pesan yang dikirimkan para Guardian." Jawab Mage pada Fox.


Luna penasaran dengan apa yang Fox dan Mage bicarakan sekarang. Mereka juga dengan tiba-tiba keluar menjadi bentuk Fairy.


“Ada apa Fox?” Tanya Luna.


“Kita mendapatkan ancaman serius kali ini." Jawab Fox.


Perbincangan Fox dan Mage terlihat sangat serius serta menakutkan. Luna juga sedikit merasakan hal aneh, dadanya deg-degan seperti ada sesuatu yang membuatnya merasa takut.


“Ancaman? Apa maksud kalian?” Luna mulai khawatir.


Belum juga dijawab oleh Fox ataupun Mage. Tiba-tiba smartphone milik Luna dan Aria berbunyi. Di dalam grup media sosial milik mereka, si ketua OSIS memberi pengumuman.


“Besok senin, semua anggota harap berkumpul di ruang OSIS. Kita akan membahas sesuatu yang sangat penting." Kata ketua OSIS.


Aria membalas pengumuman itu dengan rasa penasaran. Keingintahuannya meluap-luap sekarang.


“Ada apa sebenarnya?" Tulis Aria.


Ketua OSIS masih belum mengungkapkan alasan sebenarnya kepada mereka berdua. Ketua OSIS hanya mengingatkan agar mereka tetap merahasiakannya.


“Pokoknya sebelum hari senin harap rahasiakan tentang hal ini. Mungkin kalian sudah tahu dari monster kalian masing-masing barusan. Tapi untuk kepentingan bersama, monsterku menyarankan untuk diam sampai kita membahasnya bersama. Karena ini adalah hal yang sangat berbahaya. Musuh telah muncul." Ketua OSIS membalas.


Tak lama kemudian, para anggota lain ikut membalas. Obrolan di grup chat itupun semakin ramai.


“Menurutku itu adalah hal yang bijak. Kita tidak tahu siapa musuh itu dan di mana dia sekarang. Jika salah satu dari kita tidak sengaja memberikan informasi walau hanya berbicara dengan monster masing-masing di jalan atau saat berkumpul bersama, itu akan sangat berbahaya bagi kita semua." Tulis salah satu anggota.


“Aku juga setuju, lebih baik kita rahasiakan ini sampai besok senin." Sahut anggota lain.


“Baiklah kalau begitu, aku bisa mengerti." Tulis Luna.


“Walau aku sangat ingin tahu, aku lebih baik menunggu besok senin saja." Balas Aria.


“Baiklah, terima kasih atas pengertiannya." Tulis ketua OSIS.


Mereka semua mengakhiri pembicaraan di grup chat, dan untuk sementara mereka tidak membahasnya lebih jauh.


Airi penasaran dengan mereka berdua yang tiba-tiba diam dan fokus dengan smartphone masing-masing. Airi mulai bertanya.


“Ada apa kalian tiba-tiba tegang begitu?" Airi bertanya.


Luna yang ingin merahasiakan dari siapapun terpaksa harus membuat alasan meskipun pada Airi. Memang Airi bukanlah orang yang harus diwaspadai. Selain dia tidak memiliki monster, Airi juga pastinya tidak akan paham dengan yang sedang mereka bahas sekarang.


“Tadi ketua OSIS memberi pengumuman akan ada rapat OSIS besok senin. Dia lupa bilang tadi sepulang sekolah." Jawab Luna.


“Bukanlah hal penting kak, hanya tentang keperluan OSIS." Sahut Aria.


“Ohh begitu, si ketua OSIS ternyata. Baiklah kita berpisah di sini Luna, terima kasih diskonnya." Ucap Airi sambil menenteng kantong berisi buku.


Mereka bertiga sampai di sebuah persimpangan. Arah rumah Luna dengan Airi dan Aria memang berbeda. Mereka memutuskan untuk berpisah di persimpangan itu.


“Ingat lho ya, itu yang terakhir! Tidak ada lain kali." Tegas Luna.


“Iya, iya. Pokoknya terima kasih banyak." Balas Airi berterima kasih.


“Dah Luna, sampai jumpa besok." Aria melambaikan tangan.


"Besok minggu!" Balas Luna.


"Besok senin maksudnya." Aria mengoreksi.


Merekapun berpisah dan pulang ke rumah masing-masing. Di tengah perjalanan Luna menahan apa yang ingin dia bahas dengan Fox. Dia mengayuh sepedanya agar cepat sampai rumah.


“Aku pulang." Luna mengucap salam.


Sesampainya di rumah, ayah Luna ternyata sudah pulang kerja. Dia ditanyai oleh ayahnya saat di ruang tengah.


“Tumben sore nak?” Tanya ayah Luna.


“Tadi Airi minta dicarikan diskon lagi di toko buku paman. Sebenarnya aku tidak enak pada paman." Jawab Luna.


“Memang pamanmu seperti itu. Dia sudah menganggapmu seperti anak sendiri." Ucap ayah Luna.


Luna teringat dengan salam dari paman tadi. Dia kemudian bilang ke ayahnya.


“Oh iya yah, dapat salam dari paman." Lanjut Luna.


“Oh ya, besok ayah akan main ke sana. Sudah lama ayah tidak berjumpa dengan paman.” Balas ayah Luna.


“Kalau begitu, aku ke kamar dulu yah." Luna pergi meninggalkan ayahnya.


Luna tergesa-gesa naik menuju kamarnya. Dia sangat ingin tahu tentang apa yang terjadi tadi. Dia juga sempat merasakan hal aneh.


“Fox, sebenarnya ada apa tadi?” Tanya Luna.


Fox kemudian keluar menjadi bentuk Fairy. Dia menjelaskan sedikit kepada Luna.


“Pecahan sang dewa kegelapan telah bangkit. Tingkat 1 pada prasasti kegelapan telah aktif." Jawab Fox memberi tahu.


Luna masih tidak mengerti. Prasasti kegelapan apa yang di maksud Fox?


“Apa maksudmu?” Luna bingung.


“Bukankah aku pernah bilang padamu bahwa pecahan sang dewa kegelapan akan bangkit." Lanjut Fox.


“Iya, lantas kenapa?” Luna bertanya.


“Seekor naga hitam telah memasuki Battlefield, maka dari itu prasasti kegelapan mendeteksi kekuatannya dan mengaktifkan tingkat 1." Jelas Fox.


"Prasasti kegelapan? Apa itu?" Tanya Luna lagi.


Luna masih tidak mengetahui apa itu prasasti kegelapan. Wajar saja, Fox tidak pernah membicarakan tentang itu dengan Luna.


"Prasasti kegelapan adalah sebuah benda yang mencatat semua syarat agar sang dewa bangkit ke bentuk sempurnanya. Prasasti itu ditinggalkan sang dewa kegelapan saat memecah kekuatannya." Jelas Fox tentang prasasti kegelapan.


Luna paham setelah dijelaskan oleh Fox. Luna terlihat mulai khawatir.


“Apakah sang dewa itu kuat?” Luna sedikit ketakutan.


“Dia memang kuat, maka dari itu kami berenam diutus para dewa utama untuk turun ke dunia manusia agar bisa menemukan naga hitam itu dan menghentikan dia secepat mungkin." Jawab Fox.


Luna mengeluarkan skill decknya. Dia melihat ringkasan duel di layar skill deck.


[Win 1, Lose 0, Win rate 100%]


“Aku hanya baru satu kali duel, itupun melawan monster Mark 1. Apa jadinya kita saat melawan naga itu nanti?" Luna gemetar.


Fox tidak tega melihat Luna yang ketakutan seperti itu. Fox kemudian mencoba menenangkan partnernya.


“Tenang saja Luna. Selama kamu menguatkan tekad dan hatimu untuk melawannya, aku yakin aku bisa melindungimu dari serangannya. Yang paling penting dalam duel adalah jangan pernah ragu. Kumpulan tekad dan kemampuanmu saat menghadapinya nanti." Fox menenangkan Luna.


Luna menggenggam erat mengepalkan tangannya. Dia adalah orang yang dipercaya oleh salah satu monster utusan dewa. Luna tidak boleh mundur.


“Baiklah akan kucoba, jujur aku sangat gugup dan juga takut mendengar hal ini. Mungkin ketua memiliki rencana besok. Aku harus mendengar langsung darinya." Ucap Luna.