HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 22: Terungkapnya Sebuah Alasan



Luna berjalan santai menuju parkiran sepeda. Sesampainya di sana, Luna kaget mendapati gerombolan yang tadi di kelas muncul di depannya.


“Yo, perempuan sial." Sapa Romi pada Luna.


Luna mengambil sikap siaga, bersiap untuk kapan saja lari dari mereka. Luna tidak berani bertindak gegabah untuk sekarang.


“Mau apa kalian kemari?" Luna gemetar.


Romi selangkah demi selangkah maju mendekati Luna, Luna juga selangkah mundur ke belakang. Pada akhirnya, Luna dikepung oleh gerombolan Romi.


“Tentu saja balas dendam padamu. Kau telah merusak rencana kami tadi. Akan tetapi sekarang semua guru sudah pulang, tidak akan lagi ada yang menggangu kami." Jawab Romi.


“Tenang saja, kami tidak akan menyakitimu. Kau pasti tahu ini apa kan?” Seorang anak mengeluarkan skill decknya.


Firasat Luna tidak baik. Melihat mereka semua mengeluarkan skill deck, pasti ada yang mereka rencanakan.


“Itu skill deck, memangnya kenapa?” Jawab Luna sedikit ketakutan.


“Bagus kalau kau tahu, kita akan melakukan battle royal." Tantang Romi.


Battle royal? Apa itu? Luna tidak paham dengan apa yang Romi ucapkan. Berduel saja baru sekali, ini malah akan battle royal. Luna terpaksa menanyakannya.


“Battle royal? Apa maksudmu?” Tanya Luna.


“Kau akan melawan kami semua, itulah battle royal. Tidak ada kata penolakan di sini jika kau ingin Tio baik-baik saja." Romi mengancam.


Itu curang dan tidak adil, Luna harus melawan delapan orang sekaligus. Meskipun monsternya Mark 2, tetapi Luna sendiri tidaklah yakin bisa menang atau tidak.


“satu lawan delapan? Itu benar-benar curang." Protes Luna.


Tentu saja Luna tidak setuju. Menurut Luna ini adalah kesalahan. Meski tidak ada aturan tertulis tentang duel lebih dari satu orang, tapi battle royal bukan duel lagi melainkan sudah menjadi pengeroyokan.


“Ya itu terserah kau saja, tapi intinya jika kau menang kami akan menjauhi Tio. Tapi jika kau kalah kau harus ikut bersama kami menghancurkannya." Romi menawarkan kesepakatan.


Ada kesempatan 50:50. Luna bisa saja menang dan menjauhkan anak-anak ini dari Tio dan juga sebaliknya, Luna harus ikut memusuhi Tio. Luna tidak bisa mengambil keputusan sendiri, Luna kemudian berbisik kepada Fox.


“Fox, apa kau bisa mendengarku?” Luna bertanya kepada Fox.


Tidak ada jawaban dari Fox. Luna teringat ketika dia marah kepada Fox, Luna melarang Fox untuk bicara.


“Astaga, aku lupa mengijinkan Fox bicara lagi. Maafkan aku Fox, sekarang kau boleh bicara." Batin Luna.


Fox mendengar Luna meskipun hanya dari batinnya. Fox bisa berbicara lagi lalu memberi solusi kepada Luna. Meskipun Fox dilarang bicara, namun dia masih bisa mendengar. Fox mendengar semuanya jika partnernya sedang dalam bahaya sekarang. Fox berkomunikasi dengan Luna melewati batin agar tidak menarik perhatian anak-anak itu.


“Kejam sekali kamu Luna, aku selama ini hanya diam. Aku hanya bisa mendengar dan melihatmu bersenang-senang bersama laki-laki itu." Ucap Fox kesal.


“Aku benar-benar minta maaf, aku benar-benar lupa mengijinkanmu berbicara lagi. Dengar Fox aku dalam masalah sekarang bagaimana ini?” Luna sedikit panik.


“Aku mendengarnya, keluarkan sedikit kartuku dari sakumu. Aku ingin melihat seberapa kuat musuhku.” Perintah Fox.


Luna mendengarkan Fox, dia mengeluarkan kartu Fox dari saku. Fox lalu melihat gerombolan anak itu memasang skill deck di tangannya serta memamerkan monster-monsternya, Fox pun menganalisa monster milik mereka.


“Baiklah kalau begitu. Pertama, aku akan mencoba sebuah ide terlebih dahulu. Jika itu tidak berhasil, aku akan menyerahkan semuanya padamu." Kata Luna.


“Terserah kamu saja Luna." Balas Fox.


Luna merencanakan sesuatu. Dia teringat dengan badge yang dia tidak suka memakainya yang ada di dalam tasnya. Luna akan memakai badge itu sebagai senjata terlebih dahulu. Luna melanjutkan pembicaraannya dengan gerombolan tadi.


“Baik. Aku akan terima tantangan kalian, tapi sebelum itu aku akan menanyakan satu hal kepada kalian." Tegas Luna


“Apa itu?” Jawab Romi.


Luna sangat ingin tahu tentang alasan mereka jahat kepada Tio. Luna melihat Tio itu baik dan juga pintar. Luna bahkan tidak bisa bersaing dengan nilai Tio. Meskipun nilai Luna juga tinggi, tapi dia masih kalah dengan laki-laki yang doyan main game. Itu pembodohan.


“Kenapa kalian membully Tio?” Tanya Luna dengan serius.


Romi melihat ke arah Luna. Dia tertawa mendengar pertanyaan Luna.


“Hahahaha... Oh kamu belum tahu ya tentang kenapa kami membullynya. Sayang sekali kamu belum menjadi korban darinya." Jawab Romi.


“Aku memang belum mengetahuinya, jadi cepat jawab.” Luna meminta penjelasan.


Romi menjelaskan kepada Luna tentang masa suramnya sejak kecil bersama Tio.


“Tentu saja karena aku dendam. Aku tidak ingin ada anak yang istimewa." Lanjut Romi.


Luna sama sekali tidak paham dengan apa yang Romi katakan. Luna meminta kejelasan tentang itu.


“Dendam? Istimewa? Apa maksudnya?" Luna mulai bingung.


“Apa kau tidak sadar sampai sekarang? Dia adalah pemilik nilai tertinggi di sekolah ini. Kalau aku, aku sudah sedari SD melihatnya selalu peringkat 1 di sekolah. Dia mencuri perhatian para guru serta orangtuaku. Bahkan orangtuaku selalu memarahiku karena tidak sepintar dirinya. Hal itu berlanjut sampai SMP, aku sudah bosan berada di balik bayangannya. Sejak kelas 5 SD, aku merencanakan untuk memusuhi Tio. Sampai SMP semua itu belum berhasil juga membuatnya jera. Nilai Tio selama SMP bahkan melampaui rekor kakak kelas. Orangtuaku semakin memarahiku. Dan itu tidak terjadi padaku saja, orangtua anak-anak lain pun sama. Mereka memarahi anak-anak mereka yang selalu kalah dari Tio. Aku memutuskan untuk satu SMA dengannya. Misiku adalah menghancurkan masa SMA Tio, di mana masa SMA adalah masa yang paling berkesan. Dan itu benar, lalu sekarang aku melihatnya dekat dengan seorang perempuan. Itu membuat kami naik darah dan sangat ingin menghajarnya tadi. Namun karena ada kau hal itu gagal. Sayang sekali bukan?” Jelas Romi


Luna mulai paham dengan cerita Romi. Pada akhirnya mereka hanyalah iri pada kelebihan Tio. Bagi Luna, Tio adalah dinding yang harus dilewatinya dalam hal sekolah. Kepintarannya di kelas membuat Luna menjadi terpacu untuk lebih semangat belajar. Namun jika Tio adalah siswa terpintar di sekolah, Luna malah tidak mengetahuinya sama sekali.


“Jadi karena itu kalian mem-bully-nya? Sungguh kalian benar-benar jahat padanya." Kata Luna.


“Jahat katamu? Apa kau pernah hidup di bawah bayang-bayangnya sedari kecil? Apakah kau pernah di siksa oleh orangtuamu sendiri karena ulah anak lain?" Tanya Romi emosi


Romi langsung melangkah maju. Dia meraih rambut Luna lalu menjambak rambutnya.


Sementara itu di balik tembok..


Aku melihat Luna dan gerombolan itu dengan sangat hati-hati. Aku tidak ingin ketahuan jika memang Luna dalam keadaan bahaya


Tak lama kemudian, aku melihat rambut Luna dijambak oleh Romi. Aku sangat marah saat ini, aku tak menyangka bahwa aku membuat gadis itu dalam masalah.


“Aww.. Sakit." Teriak Luna.


“Rasakan itu. Rasa sakit ini bahkan tidak seberapa jika dibandingkan dengan rasa sakit kami." Ucap Romi.


Aku melihat Luna yang disakiti oleh Romi. Aku tidak boleh tinggal diam, aku harus menolong Luna meski harus mengorbankan diriku sendiri. Aku langsung lari mendatangi mereka dan langsung menepis tangan Romi dari rambut Luna. Aku menyuruh Luna untuk segera mundur ke belakangku.