HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 12: Kembali Pulang



“Jadi begitu rupanya." Aku mulai memahami situasi.


Dari atas bukit, aku membaca penjelasan tentang dunia ini, tentang skill deck dan juga tentang kartu monster ini. Battlefield adalah tempat bertarung para monster dan skill deck ini untuk mengaktifkan kekuatan para monster. Ada satu hal yang aku garis bawahi di penjelasan ini. Monster dan skill deck tidak dapat di lihat oleh orang dewasa, apa maksudnya?.


Aku berpikir kalau semua ini bukanlah hal yang bagus untukku. Bagiku, ini adalah dunia game versi nyata. Di mana aku tidak terlalu ahli dalam bermain game.


Lalu, layar skill deck menyala. Tertulis "Battlefield, Out" untuk keluar dari tempat ini. Aku memandangi kartu monster Hayase yang bergambar kelabang ini. Setelah aku pikir-pikir, aku belum ingin mencoba menggunakan monster ini. Aku kemudian mengantongi kartu Hayase di kantong baju.


“Lebih baik aku pulang, ibu pasti sudah menunggu. Battlefield, Out." Ucapku.


Aku kembali ke titik awal di mana aku masuk ke Battlefield. Karena aku masih memakai seragam sekolah yang cukup tipis dan salju masih turun, aku merasa di sini cukup dingin juga.


“Bbbbrrrrrrrr... Dingiiinnn!!" Aku kedinginan.


Tadi di Battlefield kepanasan karena teriknya matahari, sekembalinya ke tempat ini aku malah merasa kedinginan. Rasanya seperti berpindah dari kutub utara ke kutub selatan.


“Sebaiknya aku lari ke rumah. Jika tidak, mungkin aku akan menjadi manusia es di luar sini." Aku segera berlari ke rumah.


Sesampainya di depan rumah, ternyata ibu sudah menungguku pulang. Wajahnya menunjukkan raut khawatir karena aku tak kunjung pulang di tengah hujan salju aneh ini. Aku merasa sedikit bersalah pada ibuku.


“Tio, dari mana saja kamu?” tanya ibu.


Ibu yang melihatku pulang langsung menanyaiku di depan rumah. Aku tidak berani melihat ke wajah ibu, aku hanya bisa menjawab sambil menunduk.


“Maaf bu, tadi aku berteduh sebentar karena salju turun dengan sangat lebat." Jawabku.


Maaf bu, maafkan aku yang telah berbohong. Lagipula orang dewasa tidak bisa melihat monster dan juga skill deck, jadi aku tidak mungkin menceritakan ke ibu. itu kataku dalam hati.


“Ya sudah, syukurlah kamu baik-baik saja. Ibu dari tadi meneleponmu tetapi tidak terhubung." Ibu merasa lega.


“Maaf bu. Baterai smartphoneku habis sewaktu aku pulang tadi." Balasku.


Ya memang aku mematikan smartphone milikku sewaktu keluar dari Battlefield tadi. Aku menduga ibu akan banyak bertanya kepadaku, beruntung aku sudah mengantisipasinya.


“Cepat mandi, sebelum kamu masuk angin nanti." Suruh ibu.


“Baik bu, tapi bukankah tadi aneh bu?” Tanyaku berbasa-basi.


Aku ingin mencoba memastikan kepada ibu tentang kejadian malam ini. Siapa tahu penjelasan di skill deck tadi kurang tepat.


“Aneh apa?” Jawab ibu.


“Salju berkilauan? Mana ada salju seperti itu. Kalau salju yang turun di musim gugur seperti ini memang aneh menurut ibu, karena ini baru pertama kalinya. Tetapi salju yang berkilauan? Sepertinya kamu sudah demam." Balas ibu sambil memegang keningku.


“Tidak bu, aku tidak demam." Balasku menyingkirkan tangan ibu.


Sudah kuduga. Untungnya aku tidak berbicara kepada ibu tentang monster dan juga skill deck. Akan sulit menjelaskan benda yang tidak terlihat oleh ibu dan pada akhirnya aku akan membuat ibu melontarkan banyak pertanyaan kepadaku nantinya.


“Sudah mandi sana. Kamu sedikit aneh sehabis hujan-hujanan di salju. Ibu akan menghangatkan makan malam untukmu." Suruh ibu.


"Baik bu." Aku segera masuk ke dalam rumah.


Aku pun segera mandi lalu makan malam. Tetapi ada hal yang aneh, kenapa ibu dan orang dewasa tidak bisa melihat kartu ini? Padahal dengan jelas aku melihat dan memegangnya dengan tanganku sendiri. Tentang kartu yang tidak dapat dilihat orang dewasa, semua itu tidak dijelaskan oleh skill deck sewaktu di Battlefield.


Aneh, ini benar-benar aneh. Sebenarnya untuk apa ada monster dan juga Battlefield, tempat bertarung para monster. Aku ingin mengetahui lebih jauh dari yang dijelaskan di skill deck, tapi aku tidak tahu mau mencari informasi tentang itu di mana lagi.


Lalu, apakah ini mimpi? Jika semua ini mimpi, lebih baik aku segera tidur. Aku mengantuk karena kenyang setelah makan. Lagipula jika ini mimpi, mungkin besok kartu ini akan hilang. Aku meletakkan kartu Hayase dan skill deck di atas meja belajarku. Aku juga berharap agar aku tidak sakit dan besok masih bisa berangkat sekolah, karena dari tadi aku bersin-bersin tiada henti.


Tutututut... tutututut... (Suara jam weker)


Pagi telah tiba. Sinar matahari menembus gorden jendela kamarku. Jam weker milikku juga sudah berbunyi membangunkanku. Aku membuka mataku, yang pertama aku lihat adalah meja belajar yang di atasnya masih ada kartu Hayase beserta skill deck.


“Ah masih ada ternyata, rupanya semua ini bukan mimpi." Aku bangun sambil mengucek mataku melihat kartu di meja belajarku.


Aku mempersiapkan diri untuk berangkat sekolah. Aku menjadwal buku pelajaran hari ini karena semalam aku tidak sempat belajar. Aku juga memasukkan kartu Hayase dan skill deck ke dalam tas. Kabar baiknya, aku tidak sakit karena hujan salju semalam. Aku menuju ke ruang makan untuk sarapan dan melihat televisi mencari berita tentang hujan salju semalam.


Di berita, diberitakan bahwa salju semalam hanyalah fenomena biasa yang disebabkan oleh tekanan udara dingin di langit meningkat lalu membuat air di awan menjadi beku dan turun salju. Akan tetapi bagiku ini bukanlah hal biasa karena hampir semua anak ditransfer ke Battlefield tadi malam. Para orang tua tidak bisa melihat monster atau kartunya. Itu lah hal yang aku rasakan semalam.


Aku selesai sarapan. Aku menuju ke ruang depan untuk memakai sepatu. Aku memakai kaus kaki lalu mengambil sepatuku di tempat sepatu lalu memakainya.


“Aku berangkat!" Aku pamit berangkat sekolah.


“Tidak lupa pakai jaket kan?” Tanya ibu.


“Sudah bu." Jawabku.


“Baiklah, hati-hati di jalan nak." Balas ibu.


Aku keluar dari rumah. Aku melihat ke sekeliling dan salju yang cukup tebal menyelimuti halaman rumah sampai ke jalan. Lebih tepatnya kota ini masih tertutup salju akibat fenomena semalam. Hari ini dingin, untungnya ibu menyiapkan jaket musim dingin pagi ini.


Aku berangkat menuju sekolah sembari menembus dinginnya jalanan pagi ini. Dingin karena salju bukan hawa sejuk yang setiap pagi aku rasakan. Sesampainya di sekolah, aku berpikir bahwa hari burukku kemarin telah berakhir, tapi ternyata tidak. Aku berpapasan kembali dengan Luna di gerbang sekolah. Sungguh aku ingin berlari sekencang-kencangnya atau bersembunyi, tapi dia malah datang menghampiriku.