HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 161: Di Balik Ketakutan



“Kan tidak baik jika kita tidak ajak masuk, biar dia minum teh sambil istirahat sebentar di sini. Pasti Tio juga capek berjalan jauh sampai sini. Aku tinggal ke dapur dulu membuat teh.” Balas Airi yang langsung pergi menuju dapur.


Airi yang tadi memaksaku masuk sekarang pergi membuat teh. Di sini aku merasakan perbedaan keduanya di mana Aria yang sedikit pemalu namun Airi kebalikannya, Airi lebih berani orangnya. Namun ada yang sedikit aneh dengan Airi menurutku, hawa aneh yang aku rasakan setiap kali aku bertemu dengannya masih tetap ada. Apa sebenarnya itu? Aku beberapa kali merasakan seperti ini.


Keadaan ruang tamu menjadi senyap setelah Airi pergi. Aku menjadi canggung karena aku sedang berada di rumah dua orang gadis dan ditambah di sini tidak ada orangtuanya. Aria menjadi diam dan gelisah sejak tadi, aku juga jadi bingung mau apa di sini sekarang. Lalu kemudian Aria mengajakku mengobrol.


“Anu.. Maafkan kakakku ya. Dia memang seperti itu orangnya.” Ucap Aria.


“Tidak apa-apa, kakakmu baik kok.” Balasku


“Lalu.. Sandalmu..” Aria terhenti bicara.


“Sudah, kamu boleh menyimpannya. Aku tidak keberatan.” Aku memotong.


Aku tidak ingin Aria kembali mengungkit tentang sandal tadi karena memang aku sudah memberikan itu kepadanya. Meski aku juga butuh tapi Aria lebih membutuhkannya tadi dan tidak mungkin jika aku mengambil kembali apa yang sudah aku beri kepada orang lain.


Tak lama kemudian, Airi kembali ke ruang tamu. Dia membawa nampan berisi teko, tiga cangkir dan sepiring kue kering. Airi kemudian meletakkan satu-persatu yang ada di nampan ke atas meja, setelah itu dia kembali duduk di dekat Aria. Airi menuangkan teh dari teko ke tiga cangkir lalu membagi ke kami semua.


“Silahkan Tio diminum, mumpung masih hangat.” Ucap Airi sambil meletakkan nampan di atas pahanya.


“Terima kasih, aku minum ya!” Balasku sambil mengambil cangkir berisi teh di depanku.


Aku menyeruput sedikit tehnya karena memang masih berasap, aku meletakkan kembali cangkirku di meja. Karena dari tadi kami hanya saling diam sedangkan hanya Airi yang aktif bicara. Aku mencoba bertanya dengan apa yang membuatku penasaran, kenapa Aria takut gelap tadi?


“Airi, aku boleh tanya?” Tanyaku ke Airi.


“Hmm.. Apa itu?” Balas Airi.


“Kenapa Aria takut gelap?” z


“Hahahahaha.” Airi malah tertawa.


Airi langsung tertawa terbahak-bahak setelah mendengar pertanyaanku. Aku malah menjadi semakin penasaran dengan alasan Aria takut gelap ketika melihat Airi begitu tidak bisa menahan tawanya, pasti ada apa-apanya di balik itu semua!


Sontak Aria langsung mengeluh kepadaku karena aku bertanya kepada kakaknya. Dia pun langsung cemberut dan kesal, ya mau bagaimana lagi aku kan penasaran.


“Ihh Tio, kenapa kamu tanya itu?” Keluh Aria


“Aku penasaran saja, kenapa atributmu gelap tetapi kamu sendiri takut gelap?” Balasku ke Aria.


Pertanyaan itu masih terngiang di benakku karena menurutku aneh saja. Masa iya pengendali kegelapan takut sama gelap? Itu benar-benar tidak bisa aku terima begitu saja.


“Oke, oke. Aku akan kasih tahu.” Airi menahan tawa.


“Seru ini, baru kali ini ada yang bertanya tentang itu padaku. Hahaha.” Airi masih tertawa.


“Aku marah lho.” Aria mengancam.


"Ah, nanti juga cepat baikan kalau kamu marah!" Goda Airi.


Airi mengabaikan ancaman Aria yang akan marah jika Airi menceritakan itu padaku. Airi bilang jika Aria marah tidak lama juga baikan lagi. Di sini malah aku melihat kakak adik yang sedang berdebat, mungkin pertanyaanku tadi salah ya? Sampai-sampai kakak beradik itu tidak berhenti-henti ketika berdebat. Namun Airi akhirnya tetap nekat dan tetap menjawab apa yang aku tanyakan.


“Jadi begini, dulu sewaktu kami kecil tempat tidur kami hendak dipisah oleh ayah dan ibu kami. Belum ada seminggu kamar kami sendiri-sendiri, waktu itu hujan lebat lalu mati lampu. Terdengar suara petir menggelar dan Aria langsung berteriak ketakutan mencariku. Dia mencariku sambil menangis, aku kemudian keluar kamar dan menenangkan dia. Akhirnya ayah dan ibu kembali menyatukan tempat tidur kami. Bahkan sampai sekarang dia tidurnya bersamaku.” Jelas Airi.


Airi bercerita tentang masa kecilnya bersama Aria, wajar sih jika sewaktu kecil tidur bersama. Namun aku menemukan fakta yang sebenarnya aku tidak berhak mendengarnya yaitu Aria bahkan sampai sebesar ini masih tidur bersama kakaknya. Aku tidak berani komplain tentang itu.


“Kakak, yang terakhir tidak usah dijelaskan juga. Aku malu.” Aria menutup wajahnya dengan bantal sofa.


“Kalau malu tidur sendiri makanya!” Balas Airi.


“Tidak mau, takut.” Aria menolak.


Jadi seperti itu rupanya. Aria phobia saat dia masih kecil dengan gelap dan petir, sama sepertiku saat dulu kecil sewaktu aku tidur ada laba-laba besar yang berjalan di dekatku dan sejak itu hingga sekarang aku takut laba-laba. Di sini aku sama sekali tidak menertawakan Aria karena aku juga memiliki ketakutan yang sama dengan dia. Bisa dibilang aku senasib dengannya.


"Jadi begitu, aku paham sekarang." Balasku.


"Kamu tidak tertawa?" Tanya Airi.


"Tidak, aku sangat paham tentang perasaan orang yang mempunyai phobia akan sesuatu. Karena ketakutan itu tidak akan pernah hilang dan berbeda dengan rasa takut biasa." Jawabku.


Mendengar jawabanku, Airi hanya tersenyum kecil dan Aria semakin tidak terlihat di balik bantal sofa yang menutupi wajahnya. Aku kemudian melihat jam di smartphoneku, ternyata cukup lama sudah aku berada di sini. Aku memutuskan untuk pamit karena tidak baik di rumah gadis berlama-lama. Aku sendiri juga harus pulang untuk beristirahat karena mulai besok aku akan berangkat ke sekolah.


“Kalau begitu aku pulang dulu ya, sudah malam dan mungkin ibuku sudah menungguku pulang sekarang!” Pamitku setelah menghabiskan teh yang sudah agak dingin tadi.


“Loh sudah mau pulang?” Tanya Airi.


“Iya, tadi aku pamitnya cuma sebentar soalnya. Lagipula berlama-lama di rumah gadis di malam hari juga tidak baik.” Jawabku.


Airi langsung berdiri kemudian melihat ke jam dinding di ruang tengah. Airi pun tersadar jika sekarang sudah malam.


“Oh iya sudah cukup malam, kalau begitu apa boleh buat.” Lanjut Airi setelah melihat jam.


“Biar aku antar ke depan!” Sahut Aria.


Aku diantar Aria sampai ke gerbang, sedangkan Airi melihat dari depan pintu rumah. Sebelum aku pulang, Aria masih menahanku untuk tidak segera pergi. Dia bilang kalau memiliki informasi yang cukup penting yang tidak boleh diketahui oleh selain OSIS. Setelah cukup jauh keluar dari gerbang, Aria mulai berbisik. Aria memberi tahu padaku jika ternyata simulasi duelnya dengan Luna belum dilakukan.