
Sesampainya aku di rumah. Aku berjalan mengendap-endap menuju pintu depan. Namun aku menjadi sangat kaget karena tiba-tiba pintu rumah terbuka. Ibu melihatku, aku sudah tidak bisa kemana-mana lagi.
“Aku pulang." Ucapku kecapekan.
Aku berlari sewaktu pulang tadi. Aku sangat capek sekarang, aku memutuskan untuk menunduk saja mendengar ibu marah-marah.
“Masuk dan cepat mandi, air hangat sudah siap. Ibu sedang menyiapkan makan malam." Suruh ibu.
Syukurlah ibu tidak marah kali ini. Aku kemudian membalas ucapan ibu untuk mencairkan suasana.
“Loh ibu baru masak?" Tanyaku sambil terengah-engah.
“Ibu sengaja agar tidak seperti kemarin. Ibu ingin masak tadi sore, jam yang seharusnya kamu sudah sampai rumah tetapi kamu belum pulang juga. Jadi ibu sengaja memasak saat kamu pulang. Sudah mandi sana, air hangatnya nanti dingin." Jawab ibu sambil menyuruhku.
“Baik bu." Aku segera bergegas.
Aku segera menuruti perintah ibu. Hari ini aku telah membuat kesalahan yang sama seperti kemarin. Aku tidak ingin merubah pemikiran ibu yang sekarang tidak marah kepadaku. Aku kembali ke kamar lalu segera mandi.
Selesai mandi, aku menuju ke ruang makan. Belum juga sampai sudah dihadang ibu di depan pintu kamar.
“Bawa sekalian semua nilai-nilai ulanganmu selama seminggu ini. Ibu belum melihatnya.” Suruh ibu.
“Kenapa tidak bilang dari tadi? Malas sekali harus bolak-balik, capek sekali aku hari ini bu. Tunggu, biar aku ambil.” Balasku lemas.
Aku kembali ke kamar dan mengambil nilai ulanganku selama seminggu ini. Aku dan ibu memiliki perjanjian, aku diperbolehkan bermain game asal nilai-nilaiku bagus. Jika aku ketahuan memiliki nilai jelek maka aku dihukum tidak boleh main game selama seminggu penuh.
Aku membuka tas sekolahku, aku mengambil beberapa lembar kertas ulangan dari tas. Aku keluar dari kamar lalu menuju ke dapur.
“Ini hasil ulanganku bu." Aku menyodorkan beberapa kertas ulangan ke ibu.
Ibu menerima kertas-kertas ulanganku. Ibu kemudian duduk dan mengecek satu-persatu kertas ulanganku dengan teliti.
“Bagus, tetap pertahankan seperti ini. Syukurlah nilaimu selalu bagus jadi ibu tidak khawatir jika kamu lupa waktu saat main game." Ibu puas dengan hasil ulanganku.
Makan malam telah siap. Ibu mengambil piring lalu meletakkan di depanku. Aku kemudian mengambil nasi dan sayur serta lauknya karena aku segera ingin makan.
“Begini-begini aku juga belajar bu. Aku tidak mungkin hanya bermain game." Jawabku sambil mengambil nasi.
“Baiklah ayo makan.” Balas ibuku.
Saat aku mulai makan. Ibu melihatiku dari tadi, tiba-tiba ibu menanyakan hal yang mengejutkan.
“Tio, apa kamu sekarang punya teman?" Tanya ibu.
“Uhhhuuuukkkk... Uhuukk.. Uhhuukkk..” Aku tersedak.
Pertanyaan macam apa itu? Bagaimana ibu bisa sejitu ini bertanya kepadaku? Aku segera mengambil segelas air dan meminumnya cepat.
“Bu, jangan menanyakan hal aneh-aneh saat sedang makan. Aku sampai tersedak mendengarnya." Jawabku sedikit kesal.
“Habisnya akhir-akhir ini sikapmu sedikit aneh. Kamu kemarin marah-marah sendiri sambil bilang anak itu, anak itu." Lanjut ibu.
Perasaan aku tidak pernah bilang itu ke ibu? Lalu ibu tahu dari mana aku kemarin marah-marah tentang Luna?.
"Heh? Dari mana ibu dengar?" Tanyaku.
"Ibu mendengarnya dari depan kamarmu, suaramu cukup keras." Jawab ibu.
Astaga, aku lupa kalau di rumah masih ada ibu. Betapa cerobohnya aku. Sekarang aku harus menjawab apa ke ibu?.
“Itu.. anu..” Aku kebingungan.
Aku harus segera mengalihkan pembicaraan. Kalau tidak, aku bisa saja keceplosan tentang Luna di depan ibu nanti.
“Pokoknya aku belum punya teman, aku mau lanjut makan. Aku lapar." Jawabku sambil melahap makanan.
Untuk sekarang, aku akan memastikan tentang Luna sebelum ibu mengetahuinya. Ibu sangat sensitif dengan orang yang dekat denganku. Aku tidak ingin ibu nantinya memandang Luna adalah seseorang yang buruk. Maka dari itu, aku tidak ingin membahasnya sekarang.
Aku langsung menyelesaikan makan dan kembali ke kamar. Aku ingat game yang kemarin aku beli belum juga aku mainkan gara-gara aku selalu berurusan dengan Luna. Aku sangat ingin mencoba game itu.
Setelah aku cari, ternyata game itu masih berada di dalam tas. Pantas saja aku cari di tempat kaset tidak ada. Kemudian aku menyalakan televisi yang ada di kamarku dan juga memasang kabel konsol ke televisi dan juga menghidupkan konsol gamenya.
Game itu dimulai, namun setelah beberapa saat aku memainkan game baru ini....
“Aaaahhh.... ternyata ini game RPG, game yang harus party untuk menyelesaikan misi." Aku mengeluh.
Yang di maksud party adalah, di mana kita harus membentuk grup untuk menyelesaikan sebuah misi. Aku adalah tipe orang bermain solo. Alhasil di misi ini aku pun gagal karena aku tidak bisa bekerjasama dengan player lain.
Di layar televisi....
[Dasar bocah]
[Enyah kau dari game ini, bikin kesal saja]
[Lebih baik kau tidak usah login lagi, kau sungguh menjadi beban]
chat-chat yang sangat menusuk dengan kata-kata kasar bertebaran di layar. Semangatku bermain game ini sirna seketika.
“Aaaaaahhhhhhh.... Ternyata bukan di dunia nyata saja aku kalah. Bahkan di dunia game yang aku bangga-banggakan, aku pun kalah dan berakhir seperti ini.” Keluhku lemas.
Kesalahanku kemarin adalah aku tidak membaca itu game jenis apa. Yang hanya aku lihat hanyalah rating dari game itu dan juga komentar teratas. Aku memutuskannya untuk mematikan konsol gameku. Lebih baik aku tidur, game ini sangat tidak cocok untukku. Aku dengan cepat tertidur karena hari ini sangat melelahkan bagiku.
Keesokan harinya, aku berangkat ke sekolah dengan keadaan setengah hidup. Aku ngantuk sekali semalam begadang memainkan game itu sampai-sampai hampir kesiangan. Ternyata bukan kelelahan aku semalam, tapi aku tidak sadar waktu saat bermain game baru itu. Pantas saja aku dengan cepat tertidur pulas.
Sesampainya di kelas aku sedikit bingung. Aku melihat ke tempat duduk Luna, terlihat sosok gadis yang sangat cantik berambut kuncir samping. Ini siapa? Baru kali ini aku melihat gadis secantik dia di kelas.
“Pagi Tio." Dia menyapaku.
Aku mengucek mataku yang masih lengket ini. Dalam hati apa aku berhalusinasi sampai ke sekolah melihat gadis cantik lalu menyapaku
“Kamu siapa?” Tanyaku.
Dia cemberut dan terlihat kesal padaku.
“Aku Luna, Tio." Jawab Luna kesal.
“Eeeeeeeeehhhhhhh... Luna!!" Aku kaget tidak percaya.
Kalau di lihat-lihat lagi. Rambutnya coklat, tingginya sama dan juga tas yang di bawanya juga sama. Ini benar-benar Luna. Tetapi kenapa auranya berbeda pagi ini?
“Kenapa kamu berbeda hari ini?" Aku sangat tidak menyangka itu Luna.
Luna membalas sambil memainkan rambutnya.
“Hmmm bagaimana pendapatmu?” Tanya Luna.
“Emm.. emmm.. bagus kok. Kamu terlihat berbeda sampai-sampai aku tak mengenalimu." Jawabku sambil melirik ke samping.
“Hehe, makasih." Luna tersenyum
Tidak mungkin aku mengatakan padanya kalau itu membuatnya terlihat cantik hari ini. Atau mungkin aku yang tidak menyadari bahwa dia memang cantik. Ahhh bodo amat lah. Aku tidak berminat memikirkan tentang gadis untuk saat ini.