HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 153: Rencana Pulang



“Ibu ingin tahu alasanmu?” tanya ibu serius.


Wajar jika ibu tiba-tiba bertanya begitu. Aku pun segera menjawab pertanyaan ibu dengan apa yang sedang aku pikirkan.


“Sudah berhari-hari aku melihat berita di televisi tidak ada berita orang hilang lagi dan juga aku baru saja tidak sengaja menghidupkan smartphoneku dan teman-temanku bilang mereka baik-baik saja. Jadi menurutku ini sudah cukup lama kita pergi, aku juga harus pergi ke sekolah untuk kembali belajar.” Jawabku.


Raut wajah ibu terlihat lega setelah aku menjawab pertanyaannya. Namun ternyata belum berhenti sampai di situ, ibu masih kembali memastikan lagi keputusanku.


“Kamu yakin dengan itu?” ibu memastikan.


“Aku sangat yakin dengan keputusanku, aku ingin pulang!” Balasku.


Ibu terlihat pasrah dan duduk kembali dengan santai. Tatapan ibu juga tidak seserius tadi saat menanyaiku kenapa tiba-tiba aku ingin pulang. Mungkin alasanku yang cukup realistis telah membuat ibu percaya padaku.


“Baik, ibu akan segera mengurus kepulangan kita. Ibu mau keluar dulu cari sinyal untuk mengecek tiket online.” Ucap Ibu yang kemudian pergi keluar.


Tidak aku sangka langkah ibu begitu cepat, saat ini juga ibu langsung mengecek ketersediaan tiket kereta untuk kami pulang ke kota. Aku yakin ibu juga pasti ingin melihatku bersekolah lagi karena selama ini aku hanya berdiam diri di rumah kakek dan hanya bermain game saja.


Hari sudah hampir malam dan aku belum mandi. Pantas saja aku merasa gerah dan bau keringat, aku pun pamit ke kakek untuk mandi terlebih dahulu.


“Kalau begitu aku mandi dulu kek, sudah malam.” Pamitku


Kakek hanya mengangguk, aku kemudian bergegas untuk mandi. Sekarang sudah sabtu dan besok minggu, hari di mana aku pergi dari rumah ke sini tiga minggu lalu. Jujur aku rindu rumah, terutama rindu jaringan internet. Karena selama di sini aku tidak bisa berbuat banyak dengan koneksi internet yang terbatas meskipun smartphone milikku mati.


Setelah aku selesai mandi, aku keluar menuju dapur. Ibu yang sedang memasak memberitahu bahwa ibu telah mendapatkan tiket. Sungguh kabar yang begitu cepat.


“Kita pulang besok siang, kita akan berangkat pagi agar besok tidak terburu-buru.” Ibu memberitahuku.


“Loh ibu sudah dapat tiket?" Tanyaku.


“Iya tadi langsung dapat, untungnya masih ada. Jadi besok Senin kamu bisa langsung berangkat sekolah.” Jawab ibu.


Sudah kuduga tadi, ibu begitu perhatian kepadaku. Alasannya langsung membeli tiket itu pasti karena ingin aku segera pergi sekolah. Aku cukup senang mendengarnya.


“Baiklah bu, aku juga sudah siap bertemu dengan mereka nanti.” Lanjutku.


“Sepertinya memang kamu sudah benar-benar siap untuk pulang ya? Oh ibu lupa, mumpung belum malam lebih baik kamu ke rumah Reza dan ajak mereka makan di sini karena besok kita akan pulang jadi lebih baik mskan bersama sekalian berpamitan.” Suruh ibu.


“Baik bu, aku ke sana dulu!” Balasku lalu pergi.


Aku kemudian keluar rumah lalu berjalan menuju rumah Reza yang tidak jauh dari rumah kakek. Aku melihat-lihat pemandangan terakhir desa ini di sore hari menjelang petang sebelum aku pulang ke kota. Aku berjalan sambil melihat matahari terbenam yang indah. Aku harus cepat sebelum keluarga Reza memasak makan malam mereka.


Tok.. tok.. tok.. (Suara ketukan pintu)


“Permisi..” Ucapku ketika mengetuk pintu.


“Ya sebentar!” Suara bibi dari dalam rumah.


Bibi kemudian membuka pintu depan dan menyambutku. Bibi malah mengira aku sedang mencari Reza.


“Loh nak Tio, cari Reza?” Tanya bibi.


“Oh tidak bi, ibu menyuruhku agar keluarga paman datang ke rumah kakek karena besok kami akan pulang ke kota.” Jawabku.


“oh cepatnya kalian pulang! Kebetulan juga bibi belum masak, baik nanti kami akan ke sana semua.” Balas bibi.


Baru saja aku pamit mau kembali ke rumah, bibi bertanya kembali kepadaku untuk singgah bermain.


“Tidak main dulu?” Tanya bibi.


“Tidak bi, nanti juga ketemu Reza di sana. Lagipula tadi aku juga sudah bermain dengannya.” Jawabku.


“Kalau begitu sampai nanti ya!” Ucap bibi.


Aku kemudian kembali ke rumah dan bibi menutup pintu depan lalu kembali ke dalam rumah. Aku kembali berjalan menuju rumah sambil menikmati pemandangan desa dan angin yang sejuk. Aku akan merindukan suasana seperti ini besok saat sampai di kota. Karena ketika sudah di kota aku tidak akan mendapatkan semua keindahan dan juga suasana ini.


“Bagaimana? Mereka bisa datang?” Tanya ibu.


“Bisa kok, kebetulan bibi juga belum masak.” Jawabku.


Sesampainya di rumah kakek, ibu langsung bertanya padaku. Setelah mengetahui mereka bisa datang ibu pun merasa lega lalu melanjutkan memasaknya. Aku kemudian duduk di meja makan sambil menunggu makanan siap.


Aku melihat ibu yang sedang memasak dan harumnya masakan ibu membuatku semakin lapar. Perutku sudah keroncongan dari tadi lalu ditambah lagi dengan situasi seperti ini semakin membuatku ingin segera makan. Namun sayangnya makan malam masih belum siap sama sekali.


Setelah beberapa lama menunggu, keluarga paman datang ke rumah kakek. Ibu datang menyambut mereka sedangkan aku langsung di datangi Reza.


“Jadi ini yang kamu maksud tadi?” Tanya Reza.


Ya memang aku cuma bilang kepadanya jika aku harus melakukan sesuatu. Tentu keputusanku sekarang membuat Reza bertanya-tanya seperti itu.


“Yah setelah kamu menyarankan tadi aku jadi berpikir untuk mengecek smartphoneku. Aku mendapat pesan jika teman-temanku baik-baik saja, jadi mungkin sudah saatnya aku pulang.” Jawabku.


“Kalau begitu bagus deh! Kakak juga harus memikirkan sekolah juga kan!” Lanjut Reza.


Aku sedikit kecewa kepada Reza. Aku berekspektasi jika dirinya tidak ingin jika aku pulang dan juga menghawatirkanku. Namun ternyata dia begitu senang ketika mendengar aku ingin pulang.


“Iya kamu benar, maka dari itu aku harus pulang.” balasku.


Makan malam pun siap, ibu dan bibi menyajikannya di meja makan semua yang telah dimasak tadi. Semuanya saling mengobrol, aku ditanyai oleh paman keyakinanku untuk pulang. Aku pun menjawabnya itu juga demi kebaikanku setelah kemarin pergi untuk kebaikanku juga. Kemudian kami makan malam bersama sambil melanjutkan obrolan.


“Ayah, ibu, boleh kan aku tidur di sini malam ini?” Tanya Reza pada ayah ibunya.


Ayah dan ibu Reza saling menatap satu sama lain. Karena besok kakaknya mau pulang jadi apa boleh buat lagi.


“Boleh, temani Tio malam ini karena besok dia mau pulang.” Jawab ayahnya.


“Terima kasih yah!” Balas Reza dengan senang.


Aku sedikit curiga dengan niat Reza menginap mengingat besok adalah hari minggu. Pasti Reza cuma ingin bermain game karena mulai besok dia tidak bisa memainkannya lagi.


“Heleh, paling juga cuman mau main game kamu!” Sindirku


“Hehe.” Reza tertawa.


Kan! Sudah aku perkirakan sejak tadi. Akan tetapi aku senang dia bisa mendapatkan sedikit hiburan selama adanya aku di sini. Jujur aku sedikit kasihan padanya karena dia tidak bisa dengan leluasa bermain game sepertiku. Aku kembali menasihati Reza untuk itu.


“Ingat, boleh main tapi jangan sampai larut malam. Besok aku harus bangun pagi untuk pulang, aku tidak ingin kesiangan.” Aku mengingatkan Reza.


“Oke, mengerti!” Balas Reza.