
Pagi ini aku sedikit kurang enak badan. Dari semalam aku terus memikirkan betapa egoisnya aku kemarin. Aku malah melampiaskannya dengan main game RPG itu semalaman selama dua hari, meskipun tetap nihil hasilnya.
"Hoooaammbb.." Aku menguap karena kurang tidur.
Aku telah mendapatkan tempat baru, aku telah mendapatkan perlindungan dan aku telah mendapatkan orang-orang baru.Tidak sepantasnya aku bersikap seperti itu kepada Andreas. Tidak seharusnya aku berselisih dengannya. Pokoknya mulai hari ini, aku harus bisa memperbaiki diri.
“Aku harus minta maaf kepada Andreas nanti.” Kataku sambil menuju ke sekolah.
Sesampainya aku di sekolah, aku melihat kerumunan siswa di aula depan sekolah. Banyak siswa berkerumun di depan papan mading.
"Ramai sekali?!" Ucapku heran.
Aku sedikit penasaran. Aku pun memutuskan untuk mencari tahu kenapa mading begitu ramai pagi ini. Aku mendekat lalu kemudian sedikit mengintip.
“Ada apa sih? Kalau ramai begini sih pastinya ada berita yang penting.” Aku menduga-duga.
Aku mendekati mading yang semakin ramai dikerumuni para siswa. Aku kesulitan melihat madingnya karena terlalu ramai dan heboh sekali mereka semua. Aku memaksa masuk, setelah itu aku melihat sebuah pengumuman yang cukup besar sehingga terlihat jelas dari tempatku berdiri.
“Apa..?!” Aku kaget setelah membacanya.
Di mading tertulis bahwa delapan orang siswa di keluarkan dari sekolah karena kasus pembullyan yang menyangkut diriku. Aku harus segera pergi dari kerumunan ini sebelum ada yang mengenaliku. Aku sudah di posisi yang bahkan sama sekali tidak aman.
Akhirnya seluruh sekolah tahu dengan kasus yang menimpaku. Mungkin kali ini para pem-bully itu akan semakin tidak menyukaiku. Bagaimana tidak, pemimpin mereka sudah dikeluarkan dan bahkan jika kasus ini masih ada, maka akan langsung di tindak tegas dan pelaku dikeluarkan hari itu juga.
Menurutku ini bukanlah sebuah solusi, tapi ini membuat posisiku semakin parah. Ini memperburuk keadaan! Aku panik di sini, aku hanya bisa terdiam sambil mundur perlahan. Saat aku hendak pergi, tak lama kemudian Luna datang menghampiriku.
“Pagi Tio!” Sapa Luna.
Aku terdiam. Aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi.
“Oiiii Tio.” Lanjut Luna memanggilku.
Aku masih terdiam. Aku terlalu fokus memikirkan apa yang baru saja aku lihat.
“Hoi sadar!” Luna memukul punggungku.
“Aww.. Sakit tahu!" Balasku sambil mengelus punggungku.
“Habisnya pagi-pagi sudah bengong. Kamu kenapa?" Sindir Luna.
“Baca mading dulu, baru komentar.” Suruhku.
“Memang ada apa di mading sampai berkerumun begini?” Luna bertanya-tanya.
Luna mulai penasaran dan menyerobot masuk ke dalam kerumunan. Luna membaca berita di mading, betapa kagetnya dia setelah mengetahui berita itu. Pantas saja jika Tio hanya bengong tadi. Luna keluar dari kerumunan dan langsung lari menuju tempat Tio berdiri.
Luna yang sehabis membaca berita di mading menghampiriku sambil berteriak panik.
“Ini gawat!” Luna ikut panik.
“Makanya aku tadi bingung harus berbuat apa?” Balasku bingung.
“Hmm.. Ayo kita ke ruang OSIS terlebih dahulu. Ini tidak boleh dibiarkan begitu saja.” Ajak Luna.
Dengan cepat Luna menarik tanganku lalu berlari menuju ruang OSIS. Aku salut dengannya, di saat seperti ini dia masih saja ada untukku.
"Terima kasih banyak Luna." Batinku
Di ruang OSIS, ternyata semua anggota sudah berkumpul. Aku dan Luna datang baru saja datang, Luna langsung berteriak kepada semuanya.
“Ini gawat, benar-benar gawat!” Teriak Luna.
“Bagaimana bisa tenang? Bagaimana dengan nasib Tio?” Lanjut Luna memberitahu Andreas.
“Aku juga memikirkan itu. Aku sangat tidak menyangka akan berakhir seperti ini.” Jawab Andreas serius.
Ternyata Andreas dan yang lainnya sudah mengetahui berita besar hari ini. Yang aku tidak menyangka adalah Andreas begitu memikirkan akan berita itu.
“Loh kamu sudah tahu ternyata? Apa yang akan kita lakukan sekarang?” Luna sedikit khawatir.
Ryan yang sedang duduk di atas meja melihat ke arah Luna. Dia kemudian turun dari meja lalu membalas pertanyaan Luna.
“Tidak ada, tidak ada yang bisa kita lakukan.” Balas Ryan.
“Apa maksudmu Ryan?” Tanya Luna sedikit kesal.
“Keputusan itu pasti sudah sangat dipertimbangkan oleh para guru. Itu keputusan terbaik, bagi mereka. Kamu ingat kemarin apa kata guru pembimbing dan guru BK? Kalau kasus ini akan dilanjutkan ke komite sekolah. Sudah pasti hal seperti ini akan terjadi.” Jawab Ryan yang mengeluarkan pemikirannya.
Luna tidak puas dengan jawaban Ryan yang tidak memberikan solusi sama sekali. Jawaban Ryan hanyalah kemungkinan-kemungkinan yang dia perkirakan sedangkan Luna menginginkan jalan keluar dari ini semua.
"Bukan itu yang aku inginkan. Aku ingin solusi dari ini." Balas Luna dengan nada tinggi.
“Tenang Luna, Ryan ada benarnya. Jika kita ingin melawan keputusan para guru, kita harus punya argumen yang sangat kuat untuk meyakinkan mereka.” Andreas menengahi.
Luna sedikit menjadi tenang, namun tetap saja dia tidak tahu harus melakukan apa. Luna yang terlalu khawatir akhirnya menarik perhatian Aria.
“Lalu bagaimana ini?” Luna mulai putus asa.
Aria merasa kasihan kepada Luna. Dia datang menghampiri Luna, Aria langsung memeluk Luna untuk menenangkannya.
“Sabar Luna, sabar.” Aria menenangkan Luna.
Luna memejamkan matanya di pelukan Aria. Luna sedikit terbantu akan perhatian dari Aria.
Aku sangat tersentuh dengan perhatian para anggota OSIS. Aku benar-benar bersyukur bisa masuk ke sini. Aku tidak menyangka mereka akan memikirkan diriku sejauh ini padahal aku baru saja beberapa hari bergabung.
“Terima kasih semua. Kalian sangat memperhatikanku.” Ucapku ke semua orang.
Mereka semua melihat ke arahku. Lalu Andreas berdiri dari tempat duduknya, dia memiliki sebuah ide.
“Ya sudah begini saja, aku ada ide. Ayo kita ke ruang guru.” Ajak Andreas.
“Hah.. Mau apa ke sana?” Tanya Astrid dengan heran.
Astrid tidak tahu apa yang sedang dipikiran oleh Andreas sekarang. Dia heran dengan ajakan Andreas ke ruang guru.
“Kita akan tanyakan kepada mereka tentang solusi dari keputusan mereka.” Lanjut Andreas.
“Lah bukankah keputusan itu sudah final?” Balas Astrid.
“Bukan keputusannya yang ingin kutanyakan. Akan tetapi bagaimana perlindungan Tio saat dia sedang di luar sekolah nantinya. Bagaimanapun ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.” Jelaa Andreas.
Mendengar penjelasan Andreas yang sangat masuk akal, semuanya langsung berpikir keras. Padahal aku sudah memikirkannya sejak tadi, ini bukanlah solusi. Aku menjadi semakin tidak aman dengan adanya berita ini. Dan aku sudah berani menjamin jika Romi dan kawan-kawan tidak pernah akan melepaskanku lagi.
“Benar juga. Tio pasti diincar setelah ini.” Ryan setuju dengan Andreas.
Luna terlihat memikirkan ucapan Andreas dan Ryan. mereka benar jika semua ini tidak bisa dibiarkan. Luna sependapat dengan mereka berdua.
“Baiklah, ayo kita segera ke ruang guru.” Ajak Luna.
Kami semua memutuskan untuk menuju ruang guru. Karena keputusan mereka mungkin akan merenggut keselamatanku sendiri. Aku sudah tidak tahu lagi apa yang akan terjadi kepadaku setelah ini.