HYDRA: The Fall of Hydron

HYDRA: The Fall of Hydron
Chapter 72: Menjenguk



“Hmm.. Aku bingung Aria.” Kata Luna sambil mengayuh sepeda.


“Bingung kenapa?” Tanya Aria.


Mereka berdua sedang di perjalanan menuju rumah sakit. Kali ini Luna yang di depan memboncengkan Aria. Di sini Luna sedang kebingungan karena ingin membawakan Tio sesuatu.


“Kita kan hitungannya menjenguk Tio untuk sekarang. Jadi aku kepikiran ingin membawa sesuatu, tapi apa ya?” Jelas Luna sambil berpikir.


Aria kemudian ikut memikirkannya. Aria juga baru sadar setelah Luna bilang menjenguk. Kemarin mereka berdua ke rumah sakit hanya sekedar mencari tahu keadaan Tio.


“Oh iya juga ya. Kemarin kan kita baru mencari kabar tentang Tio.” Balas Aria.


“Makanya. Ayo dong bantu berpikir!” Luna berpikir keras.


Aria mengingat seluruh benda yang ada di ruangan Tio dirawat. Kira-kira apa yang dibutuhkan Tio sekarang? Aria kemudian teringat dengan meja di ruangan Tio kosong tanpa ada makanan apapun. Aria memiliki ide.


“Hmm.. Bagaimana kalau buah? Kemarin aku tidak lihat ada buah di sana.” Aria memberi ide.


Luna menoleh ke belakang ke arah Aria. Ide yang bagus, kenapa Luna tidak memikirkannya. Luna pun setuju dengan Aria.


“Boleh tuh, tapi buah apa?” Tanya Luna.


“Kalau aku kayaknya bawa apel saja, jeruk boleh juga.” Jawab Aria.


“Jeruk ya? Oke deh, tapi beli di mana?” Lanjut Luna.


“Persimpangan depan belok kanan ada toko buah di situ.” Aria memberi tahu.


Memang benar kata Aria. Setelah persimpangan lalu belok ke kanan ada sebuah toko buah yang cukup lengkap. Bukan hanya lengkap, namun setiap berat buah yang akan dibeli sudah disediakan di sana. Yang menjadi halangan hanyalah jaraknya yang cukup jauh, hampir sama dengan menuju ke rumah sakit jaraknya.


“Tapi cukup jauh jaraknya.” Keluh Luna.


“Lah katanya mau beli buah. Ya sudah sehabis dari toko, gantian aku yang depan.” Sahut Aria.


“Hehehe.” Luna tertawa.


Mereka memutuskan untuk mampir ke toko buah terlebih dahulu. Jaraknya memang cukup jauh dan harus putar arah lagi ke persimpangan awal jika ingin ke rumah sakit. Namun karena toko itu menjual buah yang kondisinya lebih segar dari minimarket, Luna pun bersedia mengeluarkan tenaga ekstra untuk ke sana.


Setibanya di toko buah, Luna memarkirkan sepedanya. Mereka langsung masuk dan mencari apa yang ingin mereka beli. Luna memilih-milih jeruk dan Aria menuju tempat apel yang ingin di belinya.


Luna langsung menemukan jeruk yang disarankan Aria. Kondisi jeruknya segar-segar dan sudah dimasukan ke dalam kantong jaring.


“Aria, aku sudah dapat.” Teriak Luna.


“Tunggu sebentar, aku masih bingung.” Balas Aria.


Luna pun menghampiri Aria yang kebingungan saat memilih apel. Dia sambil membawa sekantong jeruk yang ingin di belinya. Karena toko menjual buah-buahan dalam bentuk kantong, jadi pembeli tidak perlu lagi memilih dan mengira-ngira berat yang ingin di beli. Semua sudah ada tag harga serta beratnya.


“Beli apel saja sampai bingung begini?” Sindir Luna.


“Aku hanya bingung antara apel merah dan hijau, pilih mana ya?” Aria meminta saran.


“Ambil yang merah saja, dagingnya lebih renyah dan lebih manis.” Saran Luna.


“Ya sudah deh, merah saja.” Aria memutuskan.


Mereka berdua menuju kasir dan membayar buah-buahan itu. Mereka berdua keluar lalu menuju parkiran sepeda untuk mengambil sepeda Luna. Mereka menaruh buah-buahan itu di keranjang sepeda Luna. Kemudian mereka melanjutkan menuju rumah sakit dan sekarang Aria yang di depan menggantikan Luna sesuai perjanjian.


Akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit. Luna memarkirkan sepedanya dan mereka masuk menuju ke ruang ICU. Sesampainya di ruang ICU, mereka bertemu dengan penjaga yang sebelumnya.


"Permisi pak, kami ingin menjenguk Tio sebentar saja." Luna meminta izin.


"Oh maaf nak, pasien yang bernama Tio sudah dipindah ruangannya." Jawab penjaga itu.


"Lalu di mana ruangannya sekarang pak?" Tanya Aria.


Penjaga itu memberi tahu jika Tio sudah tidak dirawat di sini lagi. Lalu penjaga itu memberitahu di mana Tio dirawat dan juga mengantar mereka ke sana.


"Ini ruangannya." Penjaga itu memberi tahu ruangannya.


"Terima kasih banyak pak, sudah repot-repot mengantar kami." Luna berterima kasih dan juga menundukkan kepalanya.


Aria hanya bisa mengikuti apa yang Luna lakukan. Karena dia orangnya pemalu jadi lebih baik semua diwakilkan oleh Luna.


"Baiklah saya mau kembali lagi, ingat jangan berisik." Penjaga itu mengingatkan dengan tersenyum.


Penjaga itupun pergi meninggalkan Luna dan Aria. Sampailah mereka berdua di depan ruangan Tio dirawat yang baru. Luna kemudian mengetuk pintu ruangan itu.


Tok.. tok.. tok.. (Suara ketukan pintu)


“Permisi.” Luna mengucap salam.


“Ya, silahkan masuk.” Balas ibu Tio dari dalam.


Terdengar suara ibu Tio, berarti benar ini tempatnya. Luna dan Aria memasuki ruangan itu lalu melihat Tio yang benar-benar sudah sadar.


“Syukurlah kamu sudah sadar.” Aria senang sambil kedua tangannya memegang dadanya.


“Terima kasih Aria.” Balasku.


Aku sedikit senang dijenguk oleh Luna dan Aria. Aku sudah bosan sedari tadi tidak bisa apa-apa. Aku juga tidak boleh bermain smartphone terlebih dahulu karena aku tidak boleh banyak bergerak. Intinya aku bosan.


“Nih ada buah dari kami, aku taruh sini ya!” Luna menaruh buah diatas meja.


“Repot-repot sekali kalian.” Sela ibu.


“Tidak bu, hanya sedikit kok.” Balas Luna.


Luna menaruh bawaannya di atas meja, dia kemudian berbincang dengan ibu. Sementara Aria langsung mendatangiku sambil melihat keadaanku yang masih berbaring di atas kasur.


“Oh iya Tio, bagaimana keadaanmu?” Aria penasaran.


“Oh, aku sudah baik-baik saja. Cuma masih sakit semua badanku.” Jawabku lemas.


“Eh iya, kenapa ruangannya pindah bu?” Tanya Luna pada Ibu.


“Karena kondisi Tio semakin stabil, dia hanya perlu menjalani pemulihan saja. Sementara dia tidak boleh banyak gerak terlebih dahulu.” Jelas ibu.


Luna langsung menoleh ke arahku. Dia menatapku dengan tatapan tajam.


“Dengar itu Tio!” Luna dengan nada tinggi.


“Iya aku dengar, kan semalam mana tahu jika aku mengalami retak tulang.” Balasku pasrah.


Aku sekarang tidak memiliki tenaga untuk berdebat dengannya. Lagipula tadi aku sudah dimarahi ibu jadi sekarang aku tidak mau jika aku dimarahi Luna. Lebih baik aku diam.


“Iya lebih baik istirahat dulu kamu, Tio.” Tambah Aria.


Nah suara ini yang ingin aku dengar. Suara Aria benar-benar lembut dan menenangkan, tidak seperti yang satunya. Namun aku tidak ingin berdiam diri, karena besok ada simulasi. Aku harus segera pulang dari sini!


“Tapi aku ingin segera pulang, besok ada simulasi bukan? Aku ingin melihatnya.” Lanjutku membalas Aria.


Aria dan juga Luna langsung terdiam. Kemudian Luna menarik Aria menjauh dariku. Mereka kemudian berbisik-bisik.


“Ada apa Luna?” Aria terkejut saat ditarik Luna.


“Gawat, aku lupa tentang simulasi itu.” Bisik Luna pada Aria.