
“A-anu..” Luna gugup.
“Bu, bisa nanti saja tidak?” Tanyaku.
“Tidak, ibu juga akan sedikit bertanya kepada gadis ini." Jawab ibu.
Aku belum pernah melihat ibu seserius ini. Aku juga salah karena lupa bilang tentang Luna ke ibu. Namun ibu seperti ini bukanlah tanpa alasan. Ibu hanya tidak ingin pengalaman burukku terulang. Ibu telah berjuang bahkan lebih keras dariku. Ibu selalu berusaha menjauhkan aku dari dunia luar dan ibu juga menyediakan apapun yang aku butuhkan agar tetap tinggal di rumah.
Namun, kali ini ada seorang gadis yang datang ke rumah, bahkan dia orang pertama yang datang ke rumahku. Saat ini ibu dalam kondisi waspada dan siap menyuruh Luna pergi jika tidak bisa meyakinkannya.
“Pertama, jelaskan pada ibu. Apa yang terjadi sebenarnya Tio?” Ibu meminta penjelasan.
Ibu mulai menggunakan nada tinggi. Itu artinya sekarang aku tidak boleh bermain-main lagi. Aku bisa saja membuat ibu marah saat ini juga. Aku akan ceritakan semuanya kepada ibu tentang ini.
“Baik bu, tapi sebelumnya aku minta maaf." Balasku.
“Minta maaf untuk apa?” Tanya ibu.
Aku harus bilang jika aku telah berbohong kepada ibu. Masalah aku akan dimarahi atau tidak biar urusan belakangan. Yang terpenting, ibu harus tahu jika aku telah berbohong kepada ibu karena aku harus menutupi tentang Luna.
“Waktu aku kemarin pulang agak malam itu sebenarnya aku mengantar Luna pulang ke rumahnya dan bukan ke toko game." Jawabku sambil menunduk.
Ahh aku mengatakannya. Sekarang aku sudah tidak berani lagi melihat wajah ibu, aku yakin ibu akan marah padaku.
“Hmm.. Pokoknya ceritakan secara detail kepada ibu." Lanjut ibu.
Aku segera menceritakan semuanya kepada ibu demi meredam keresahan yang dirasakannya. Aku tidak ingin membuat ibu marah atau kecewa padaku. Aku memulai dari pertama aku berteman dengan Luna.
“Ya karena suatu hal, aku dan Luna berteman bu. Akan tetapi aku belum yakin sepenuhnya dengan pertemanan ini, jadi aku belum bisa bisa bercerita kepada ibu. Ibu pasti akan khawatir jika aku bercerita tentang teman padahal aku sendiri belum yakin tentang hal itu." Aku mulai menjelaskan.
“Lalu kenapa kamu berteman dengannya tetapi kamu sendiri tidak yakin untuk menganggap dia teman?” Balas ibu.
Ibu mulai khawatir denganku. Aku sudah tahu jika ibu akan melarangku untuk berteman dengan Luna jika tanpa alasan. Maka dari itu sejak kemarin aku ingin memastikan terlebih dahulu Luna seperti apa sebelum aku bercerita ke ibu.
“Karena aku telah mengetahui Luna seperti apa. Kemarin aku melihatnya sendiri bu, Luna menolongku saat mereka mencoba menggangguku lagi. Dengan keras Luna membanting mejanya dan mengusir mereka pergi. Namun pada akhirnya Luna diincar oleh mereka. Kemudian Luna dihadang oleh mereka di parkiran, saat itu aku berusaha menolong Luna tapi ternyata Luna kembali menyelamatkanku. Itu sudah cukup bagiku untuk menilai Luna adalah orang baik. Aku merasa sedikit bersalah padanya karena membawa dirinya ke dalam masalah pribadiku. Memang sebenarnya aku ingin bercerita tentang Luna ke ibu, tetapi malah Luna datang ke sini terlebih dahulu." Lanjutku.
Mendengar penjelasanku, ibu yang tadinya tegang dan khawatir akhirnya sekarang merasa lega. ibu memejamkan matanya lalu melihat ke arah Luna.
“Haaahhh.. Dasar kamu ini." Ibu sedikit lega.
Kemudian ibu langsung bertanya kepada Luna. Ibu ingin memastikan apa yang telah diceritakan olehku. Ibu pasti percaya dengan ceritaku karena aku belum pernah menyembunyikan apapun dari ibu. Hanya tentang Luna yang aku berani berbohong, itupun akhirnya aku ungkap kepada ibu.
“Benar begitu kejadiannya?” Tanya ibu ke Luna.
“Lalu apa alasanmu menjadi teman dari Tio? Jika kamu tidak dapat meyakinkan ibu, mulai hari ini dan kedepannya jangan dekati dia lagi." Tegas ibu.
Pertanyaan berat telah ditujukan kepada Luna. Luna harus bisa meyakinkan ibu sekarang. Jika tidak, dia tidak akan pernah bisa dekat denganku lagi. Meskipun begitu, tidak ada dirinya juga rasanya pasti akan berbeda. Aku sedikit terbiasa di ganggu olehnya.
“Aku berteman dengan Tio bukan karena kasihan atau karena desakan. Aku hanya penasaran dengan orang yang duduk di sampingku selama setahun lebih. Dia hanya diam setiap harinya, dia tidak mau bertukar tempat duduk dan juga dia tidak pernah mengobrol dengan teman sekelasnya. Mulai dari situ aku ingin sedikit dekat dengannya. Karena jadwal piketnya sendirian, saat hari di mana Tio piket aku selalu berangkat pagi berharap aku bisa sedikit membantunya. Namun aku selalu diabaikan olehnya. Lalu karena suatu hal aku mendapatkan kesempatan agar lebih dekat dengannya dan berakhir dengan berteman." Jelas Luna.
“Suatu hal katamu?” Ibu penasaran.
“Iya, aku tidak bisa menjelaskan tentang hal itu. Jika aku menjelaskannya mungkin ibu akan menganggapku tidak waras. Tapi hal itu bukanlah hal buruk." Jawab Luna.
Luna sudah masuk ke pembahasan tentang duel yang kami lakukan. Ibu tidak bisa melihat monster, aku kemudian ikut bicara untuk membantu Luna di sini. Karena itu hal yang mustahil diceritakan ke orang dewasa, jadi menurutku ini berbahaya untuk Luna.
“Iya bu, begitu juga aku. Jika aku menjelaskannya mungkin ibu akan menganggapku gila." Sahutku.
Ibu kemudian melihat ke arah kami berdua. Ibu sudah benar-benar menerima cerita kami berdua. Dan yang terpenting, ibu tidak menolak adanya kehadiran Luna.
“Hhaaaahhh.. Ibu sedikit lega Tio, gadis ini anak yang baik." Ibu terlihat lega.
Aku dan Luna berhasil meyakinkan ibu. Aku sendiri pun lega mendengarnya. Ibu akhirnya bisa tahu jika aku telah memiliki satu teman yang baik padaku.
“Tio, pergi ke minimarket lagi sekarang." Suruh ibu.
“Heeeeehhhhh.. Ada apa lagi?” Balasku.
Sesaat setelah itu, tiba-tiba ibu menyuruhku untuk ke minimarket lagi. Kelihatannya tadi tidak ada yang aku lupakan saat membeli titipan dari ibu, lalu sekarang mau beli apa lagi?
“Ibu lupa kalau camilan kita habis, kasihan Luna kalau hanya minum teh. Sana beli camilan, ini uangnya." Lanjut ibu.
Ibu memberiku uang, ibu juga bilang untuk membeli camilan apa saja dan seadanya. Aku menurut dan segera berangkat. Aku meminjam sepeda Luna agar sedikit cepat bolak-balik ke minimarket.
“Baik bu. Luna pinjam sepedanya ya?" Tanyaku dengan nada lemas.
Aku sudah capek seharian, tapi masih saja disuruh. Aku tidak boleh mengeluh meskipun sedang capek.
“Pakai saja." Jawab Luna.
“Terima kasih." Balasku
Aku segera bergegas menuju minimarket lagi. Kali ini aku naik sepeda milik Luna, aku mengayuh sepeda dengan kencang agar cepat sampai.