
Andreas mendapatkan sebuah ide yang tiba-tiba terpikir olehnya. Mungkin idenya sedikit gila namun tetap Andreas harus melakukannya
“Apa lagi yang kamu rencanakan, Andreas?” Tanya Luna.
“Kita akan lakukan penjebakan!” Jawab Andreas.
Semua orang berubah menjadi antusias setelah mendengar ide Andreas. Terutama Ryan yang paling senang mengetahuinya.
“Wiihh.. Aku suka ini!” Sahut Ryan.
“Jebak bagaimana maksudnya?” Luna meminta penjelasan.
Jeda simulasi ini tidak akan lama, sekarang hari senin dan kamis akan datang sebentar lagi. Karena Ryan dan Kevin yang akan berduel, maka hanya akan menyisakan Andreas dan Tio saja laki-lakinya. Andreas tidak akan mungkin tega menyuruh Tio yang baru sembuh itu untuk berjaga, maka dari itu Andreas yang akan maju.
“Karena simulasi besok adalah Ryan melawan Kevin, jadi aku yang akan menjebak orang misterius itu!” Jelas Andreas
“Lalu apa rencanamu? Aku tidak bisa membantu karena besok aku bertarung.” Tanya Ryan.
“Tidak, cukup aku sendiri saja. Aku akan masuk ke Battlefield paling akhir, itu rencanaku.” Jawab Andreas.
“Paling akhir?” Ryan masih belum mengerti.
Andreas langsung menjelaskan secara rinci apa yang akan dia lakukan besok. Andreas hanya bisa berdoa semoga rencananya ini tidak bocor ke mata-mata itu.
“Aku akan masuk langsung ke hutan. Meskipun posisi dari mata-mata itu masih belum pasti, aku akan mengelilingi tempat kita melakukan simulasi dengan sangat hati-hati.” Jelas Andreas.
“Bukankah rencanamu sedikit berbahaya, Andreas?” Tanya Kevin
“Aku setuju dengan Kevin, itu sangat berisiko.” Lanjut Ryan yang sepaham dengan Kevin.
Brakkk.. (Suara gebrakan meja)
“Lalu apa yang akan kita lakukan? Menunggu kita diserang?” Tanya Andreas dengan nada tinggi.
Sontak Ryan dan Kevin langsung kaget saat Andreas menggebrak meja. Andreas terlihat sedikit emosi dengan apa yang dua orang itu katakan.
Ryan kemudian mencoba menenangkan Andreas, bagaimanapun juga mereka adalah rekan dan juga teman. Ryan tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Andreas.
“Tenang dulu, ya tidak sampai begitu juga, Andreas. Kami hanya sedikit khawatir denganmu saat menyergapnya sendirian. Ingat musuh kita dewa, kita tidak boleh gegabah!” Ryan mencoba menenangkan Andreas.
Setelah Ryan mengatakan jika dia menghawatirkan Andreas, Lancer langsung keluar menjadi bentuk Fairy. Dengan tegas Lancer mendukung Andreas.
“Aku yakin aku bisa melindungi Andreas. Jadi kami tidak akan mengubah rencana ini.” Lancer berbicara kepada Ryan
“Aku juga percaya dengan kekuatan Lancer. Jika memang aku dan orang itu harus bertarung, aku sudah siap.” Lanjut Andreas.
Kemudian Ryan dan Kevin saling berbisik-bisik, mereka berdua sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mungkin ini keputusan yang terbaik dari Andreas, mereka hanya bisa mendukungnya.
“Yah, terserah kamu saja deh. Kamu ketuanya, jika memang itu jalan yang terbaik aku hanya bisa mendukung saja.” Ucap Ryan.
“Tapi tetap ingat, kamu harus selalu hati-hati. Jika terjadi sesuatu segera beri isyarat bahaya.” Kevin mengingatkan Andreas.
“Terima kasih banyak untuk kalian. Kalau begitu tentang mata-mata tadi kita sudahi dulu. Sekarang kita beralih ke kesimpulan duel antara aku dan Astrid. Bagaimana menurut kalian?” Andreas mengubah topik pembicaraan.
Suasana ruang OSIS langsung menjadi tenang saat Andreas menanyakan tentang kesimpulan duel tadi. Bagaimana tidak, Ryan sang pengamat saja pergi sedangkan yang lainnya terlalu menikmati duelnya.
“Itu.. Anu.. Kalian berdua sungguh hebat!” Luna terlihat kebingungan
“Luna.. Kesimpulan macam apa itu?” Andreas mengerutkan keningnya
“Hehe, aku hanya fokus ke kehebatan Lancer dan Fenrir”, Luna tertawa.
Andreas menggeleng kepala setelah mengetahui kelakuan Luna yang sama sekali tidak mengamati. Andreas melanjutkan menanyakan kepada yang lain.
“Dasar kamu ini, yang lain?” Tanya Andreas.
“Maaf aku tidak tahu, aku tidak melihat akhirnya tadi.” Ryan meminta maaf.
“Tidak apa-apa! Kamu sudah melakukan tugas yang bagus, Ryan.” Balas Andreas.
Suasana ruangan kembali hening. Setelah Ryan pergi sewaktu di Battlefield tadi, kami sisanya menjadi sedikit bingung apa yang ingin kami utarakan karena kami terlalu fokus ke duel. Sebenarnya aku memiliki suatu pendapat. Karena semua diam, mau tidak mau aku harus memberanikan diri.
“Lancer menang karena dia unggul dalam kecepatan. Sedangkan Fenrir unggul dalam membuat musuh diam. Jika saja ice spike milik Fenrir tidak terhalang Flame shield milik Lancer mungkin Fenrir akan menang karena damage dari Fenrir sangatlah besar. Dia memiliki skill yang sangat sinergi dengan skill lainnya. Sedangkan untuk Lancer, ultimate Lancer adalah kunci dari pertarungannya. Ultimate yang menurutku sangat membantu, skill itu memberikan banyak keuntungan kepada Lancer. Jadi kesimpulan dariku adalah, untuk melawan Lancer adalah dengan membuatnya berhenti bergerak. Di sini Fenrir sudah sangat benar, namun keberuntungan datang kepada Andreas. Menang ya menang, Andreas dapat membalikkan keadaan karena serangan Fenrir menyisakan sedikit HP Lancer, itu benar-benar mengejutkan diriku saat melihat tadi.” Aku mengutarakan pendapatku
Semua orang di ruang OSIS terlihat sangat antusias, pandangan mereka semua tertuju padaku. Aku pun menjadi tidak enak.
“Jangan memandangiku seperti ini.” Keluhku.
“Aku sungguh tidak percaya ini, Tio!” Luna kagum.
“Kesimpulanmu luar biasa, kerja bagus!” Puji Andreas.
Satu-persatu anggota OSIS memuji pendapatku yang aku katakan tadi. Jujur aku malu sekarang, namun aku juga senang. Akhirnya aku menemukan tempat yang aku bisa bicara dengan bebas dan juga dapat diterima oleh orang lain.
“Setelah mendengar apa yang dikatakan Tio, aku menerima kekalahanku hari ini. Terima kasih Tio!” Astrid lega.
“Kalian semua berlebihan. Itu hanyalah pengamatanku tadi.” Aku mencoba untuk rendah diri.
“Tidak sia-sia kita menunggu kesembuhanmu!” Lanjut Andreas.
Ternyata bukan hanya aku yang senang dengan kesembuhanku, ternyata dengan kesembuhanku ini membuat mereka semua juga merasakan senang. Aku benar-benar bahagia sekarang, belum pernah aku merasakan ini sebelumnya.
“Tidak, justru aku yang berterima kasih karena kalian mengundur jadwal simulasinya. Akhirnya aku bisa melihat duel hebat seperti tadi. Aku sangat senang hari ini.” Balasku senang.
Andreas dan Astrid sangat puas hari ini, juga semuanya yang hanya melihat duel terlihat tertolong oleh pendapatku tadi. Andreas kemudian menutup aktivitas hari ini karena sudah tercapai tujuannya.
“Baik, untuk hari ini kita cukupkan sampai di sini. Kita semua boleh pulang. Terima kasih semuanya dan bubar.” Instruksi dari Andreas.
Karena hari sudah sore, kami semua bergegas pulang ke rumah masing-masing. Kami merapikan terlebih dahulu ruangan OSIS, setelah itu kami keluar dan mengunci pintu ruang OSIS. Aku benar-benar senang, keputusanku untuk segera bersekolah tidak sia-sia.